Dokter-dokteran

Tadi UAS Aplikom (Aplikasi Komputer Biomedika) yang sebenarnya aneh soal-soalnya, kok bisa yah? Waktunya juga kurang, hehe… Tapi pelajaran itu one of my favorite, nyeh.. apalagi dosennya, Bapak Oerip, beliau sangat hebat dan termasuk salah satu dosen favoritku juga! =D

Flashback
saja mengenai kuliah ini, banyak hal yang didapat, apalagi mengenai sistem informasi rumah sakit, medical informatics (aku jadi tertarik coding, decision support system yang contohnya adalah expert system atau artificial neural network), lalu tentang medical record dan of course ‘dokter-dokteran’.

Mengerti gak tentang ‘dokter-dokteran’ ini? Nyehehehe… Intinya sih, memang perlu sedikit-sedikit tahu mengenai penyakit, dan bla bla bla-nya. Merasa perlu komunikasi dan link dengan anak-anak FK.

 Eh, dulu aku pernah mikir, kalau punya suami dokter ’kan asik bisa dipanggil ’bu dokter’ tanpa harus jadi dokter, hihihi… lagipula dari KECIL gak pernah sedetik-pun terbesit cita-cita jadi ’dokter’ kayak anak kebanyakan. Aku dari dulu ingin jadi arsitek, desainer interior, pemusik atau astronot. Sekarang? Insya Allah better..

 Terus lama-lama akhirnya berubah, tampaknya tidak mau deh kalau suaminya dokter. Karena aku ini orangnya butuh diperhatikan, dan gampang cemburu. Jadi kalau dokter ’kan mau gak mau waktunya banyak tersita buat pasien, sudah disumpah untuk itu dan sangat mementingkan kesehatan orang banyak. Aku tipe cewe’ yang agak egois kali yah? Kalau seperti itu rasanya susah deh untuk menerima, tidak bisa pokoknya  =(  

BACK!

 Sekarang membahas tentang ER, yup! Emergency Room, tapi bukan tentang film-nya. Pak dokter yang S2 di kelas presentasi tentang ini dan menjelaskan banyak tentang UGD karena kebetulan memang berkecimpung di ‘dunia’ itu. Dalam UGD, memang situasi-nya selalu dalam STRESS yang sangat TINGGI sehingga bukan gak mungkin terkadang perawat atau dokternya bersikap tidak ramah bahkan kadang terabaikan.

 

ER

 Ada yang sering nonton ER? Aku gak pernah loh, jujur d… takut! Deg-deg-an juga tapi seru  =P

 Saat pagi hari berangkat untuk jaga di UGD harus selalu berdoa, memohon kemudahan dan petunjuk-Nya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi, kasus apa yang akan ditangani dan seberapa parah penyakitnya. Salah satu mengenai kedokteran gawat darurat adalah luasnya kondisi pasien yang tiba dalam keseharian. Ini tentu beda dengan praktik dokter spesialis yang dapat memprediksi penyakit sesuai dengan bidang keilmuannya, dokter emergensi ditantang untuk selalu siap dengan kemungkinan terburuk apapun pada tubuh manusia yang demikian kompleksnya.

Suatu hari ada seorang ibu datang ke UGD mengeluh ALERGI. Setelah diperiksa ternyata alergi karena makan ikan tongkol. Hmmm… lalu diberi obat dan dirujuk ke bagian klinik lain. Namun, anehnya karena kesalahan tindakan atau apa yah gitu, lupa, si ibu tersebut beberapa hari kemudian meninggal! Bayangkan, kalau dipikir ’kan hanya karena makan tongkol, alergi lalu meninggal! Kasus yang dihadapi memang beragam dan kadang ’penyelesaian’nya juga berbeda-beda.

ER2

 Kalau soal kecelakaan motor/mobil di RS yang di jalan raya mungkin itu sudah jadi ’lalapan’ sehari-hari yah… Tapi memang kadang diagnosa dari dokter UGD dengan dokter pada klinik pada rujukan berbeda. Biasanya juga, biaya UGD lebih besar daripada biaya pada rawat jalan RS biasa. Gangguan psikosomatis kadang juga terjadi pada pasien sehingga susah dikategorikan, atau bisa juga false emergency yang tidak termasuk dalam kasus kegawatdaruratan (dapat diselesaikan oleh dokter klinik).

>>>>> Nah, karena sangat seringnya seorang dokter menghadapi pasien dan mengurusi hal-hal ’dekat’ dengan kematian (intinya sih, SERING menangani pasiennya yang lalu mati) bisa memiliki dua kecenderungan :

  1. Si dokter menjadi terlalu BIASA dengan kematian itu dan menganggap bahwa kematian itu hal yang BIASA.

     Ia menjadi tidak peka terhadap kematian dan tidak bersiap-siap untuk menghadapinya. Hatinya jadi keras dan hampa saking terbiasa melihat kematian. Bahkan, kebanyakan tidak memperhatikan kondisi + perasaan kerabat pasien yang ditinggalkan karena menurutnya hal itu wajar. Menurutku seorang dokter harus BERUSAHA sekuat mungkin untuk kesembuhan pasien dan memiliki skill komunikasi serta ramah terhadap pasien/kerabatnya. Jangan songong gitu..

  1. Si dokter menjadi terbuka hatinya karena semakin sering ia menghadapi kematian pasiennya, semakin DEKAT pula ia kepada Tuhan-nya. Karena sering menangani kasus itu, ia menjadi bertambah keimanannya dan banyak ingat untuk mempersiapkan kematian. Inilah dokter yang bagus, selalu memaknai setiap tindakannya dan menghargai ’nyawa’ seseorang.

Aku sendiri baru pernah 2x (seingatku sih) mampir ke UGD… yang pertama karena diare dan seluruh badan dingin, mati rasa, hampir K.O karena gak ada cairan tapi aku diam saja gak bilang siapa-siapa, seolah semua baik-baik aja. Baru dibawa ke UGD pas mama megang badanku yang dingin semua.. hehe.. Yang kedua, gara-gara jatuh kena coccyxgeal (tulang ekor) duluan pas latihan piul. Lucu.. =P

ER3

-> Setelah ujian tadi, tiba-tiba aku teringat ingin menanyakan hasil cek darah ku minggu lalu. Cek darah ini merupakan rujukan dari Prof. Erni, dokter jantungku, untuk melihat reaksi kadar kolestrol setelah minum simvastatin secara teratur. Alhamdulillah…hasilnya bagus! Yiipppiee..yayyeeh.. semuanya normal!! =D

Tapi aku tidak mengerti lembar yang grafik agregasi trombosit itu maksudnya apa? Makanya karena penasaran jadi nanya ke Kak (atau Pak?) Dokter Rezal yang S2 itu. Ternyata hyper agregasi trombosit.. ada yang tahu? Tadi aku dijelaskan tapi gak ngerti, berat euy.. Intinya sih trombosit-nya lengket dan menyebabkan gampang terjadi pembekuan. Biasanya ditandai dengan adanya biru-biru pada tangan dan kaki. Oooh.. aku baru nyadar, jadi selama ini tuh bukan memar karena kejedot? Hahahaha… Pantesan, kok biru tapi gak sakit dan gak merasa pernah kejedot di situ    =P

 Begitulah cerita mengenai dokter-dokteran di kuliah EL4022, hihihihi… seru juga, asik juga..