Percaya dan Mempercayai

Ass.Wr.Wb..

Oia, kemarin baru dengar sebuah cerita, tentang ‘Sayembara Niagara‘… Begini ceritanya.

Alkisah, diadakanlah suatu Sayembara Niagara, yaitu barang siapa bisa melewati seutas tali menyebrangi air terjun niagara akan diberi hadiah. Heuu… bayangkan, hanya seutas tali harus meniti kompleks niagara yang dasyat itu, hmmm… Bermacam-macam orang ikut, tua, muda, anak-anak, bapak-bapak. Ada orang yang mencoba menyebrangi tali tersebut tapi baru 1/3 nya sudah balik lagi karena takut. Ada lagi orang yang sudah setengah jalan terus berhenti, tidak mampu lagi. Ada juga yang ketika sudah hampir sampai, malah terjatuh ke Niagara!! Kalau kita jadi orang yang menunggu menyebrang, apa yang akan kita lakukan? Mungkin mundur kan, karena takut…

Nah, ada seorang bapak yang berani menyebrangi tali tersebut. Dengan penuh keyakinan, ia melewati 1/3, lalu beranjak 1/2 dan akhirnya sampailah ia ke seberang. Wah, orang-orang yang menonton disana kagum, bertepuk tangan… Si pembawa acara sayembara kemudian menantang kembali, “Sekarang, apa penonton percaya bapak ini akan bisa menyebrangi tali ini kembali?”

“Iya… percaya,” mereka berkata.

“Ada yang mau ikut bersama bapak ini untuk menyebrangi tali ini kembali??”

Para penonton terdiam… mereka memang percaya kalau si bapak bisa melakukannya, tapi kalau disuruh ikut? Hmm… pikir-pikir dulu deh. Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang mau dan berani ikut bapak itu menyebrangi tali kembali. Anak tersebut digendong di atas si bapak lalu mulailah menyebrang. Penonton harap-harap cemas melihatnya… 1/3 terlalui, lalu 1/2 jalan dilewati dan akhirnya mereka berhasil!!

Semuanya bertepuk tangan lagi…. =D

Nah, apa yang berbeda antara penonton dengan anak kecil itu? Kenapa sih penonton hanya menonton dan tidak berani ikut si bapak menyebrang? Sedangkan anak kecil malah berani… hmmm…

Bedanya adalah penonton itu PERCAYA kalau si bapak bisa melakukan hal itu… sedangkan, anak kecil itu percaya dan MEMPERCAYAI si bapak sehingga di mau melakukannya.

————————————————————————————————————————-

Kadang hal ini juga sering terjadi pada kehidupan kita. Misalnya, kita percaya bahwa 4WI memberikan banyak keutamaan-keutamaan dalam bulan Ramadhan, tapi untuk meresapinya, melaksanakan sungguh-sungguh itu sulit. Terkadang pula kita berpikir hanya sebatas logika, padahal segala sesuatu mungkin bagi 4WI. Merasa berhasil hanya karena usahanya sendiri… padahal jika 4WI tidak mengizinkan yah gak mungkin. Walaupun semuanya juga berjalan sesuai Sunatullah, siapa yang berusaha akan berbanding lurus hasilnya.