Road To Madinah

Minggu, 27 Juli 2008

Hari ini rencana-nya ziarah lagi sekaligus beranjak ke kota Madinah. Pertama, kita ke Museum Ka’bah yang masih berada di Makkah. Kami hanya diperbolehkan berada dalam sana kurang lebih 20 menit. Museum ini menyimpan barang – barang yang bersangkutan dengan Ka’bah, seperti pintu Ka’bah dari zaman dahulu kala, lalu kunci kabah, pilar Ka’bah zaman baheula, foto – foto Ka’bah dari masa ke masa, desain sumur zam – zam, prototipe Maqam Ibrahim, dan lain – lain. Sebagian dari peninggalan Ka’bah tidak ada di museum ini karena sudah dibawa ke Turki, yaitu di Museum Topkapi..hmm, nantikan ceritanya di blog selanjutnya ya =P

Selepas mengunjungi Museum Ka’bah, kami menuju ke Hudaibiyah. Jadi, dulu Nabi Muhammad SAW bermaksud melaksanakan umroh dari kota Madinah bersama 1.400 orang sahabat. Tetapi pada saat itu kaum kafir Quraisy berpikir kaum muslim datang untuk berperang. Setelah berjalan jauh sekali dari Madinah, para kaum muslimin beristirahat di Hudaibiyah sebelum masuk ke kota suci Makkah. Akhirnya, datanglah utusan kaum kafir Quraisy dari Makkah yang membawa kabar bahwa mereka semua tidak boleh masuk ke Makkah. Nah, akhirnya ditempuh jalan diplomasi dengan disetujui piagam perdamaian disana. Rasulullah SAW dan para sahabat lalu ber-tahalul dan kembali pulang.

Sepanjang perjalanan, pemandangan gunung, bukit dan gurun pasir...

Sepanjang perjalanan, pemandangan gunung, bukit dan gurun pasir...

Dengan menggunakan bus, perjalanan dari Makkah ke Madinah memakan waktu sekitar 6 jam! Pemandangan di kanan kiri hanya padang pasir, gurun yang kosong… jarang sekali tumbuhan, apalagi hewan. Heuufff…. matahari terik menyengat mata dan AC gak mempan. Aku ngebayangin zaman dahulu : saat Rasulullah SAW dan para sahabat jauh – jauh dari Madinah untuk umroh ke Makkah… pasti gak mungkin se-enak kita naik bus, pasti perjalannya bisa berminggu-minggu kan, dengan ‘hanya’ gurun di sepanjang jalan tanpa air dan matahari langsung menyengat. Udah begitu semangat mereka mau umroh, eh, ternyata di Hudaibiyah ditahan tidak boleh masuk ke Makkah. Hmm…

Trip selanjutnya dalam perjalanan ke Madinah adalah ke peternakan unta!! Haayy, kita bertemu dengan si Jamal lagi! Disini benar – benar tidak seperti peternakan lain yang identik dengan banyak rumput dan kandang yang banyak. Disini sejauh mata memandang yang terlihat hanya gurun pasir, dan aku GAK MELIHAT adanya sumber air disana…super kering! Bahkan penjaga ternak – ternak unta itu tinggalnya disana hanya terbuat dari susunan seng dan tripleks. Waa, sedangkan unta-nya disediakan minuman di dalam bekas bak mandi dan makannya rumput kering. Kata pemandunya yang emang lagi kuliah di Makkah, di Arab emang lebih murah membeli minyak daripada beli air bersih. Jadi, kalau bisa mandi pakai minyak yah, mandi dah pake minyak…hehehe….

Ada onta putih di peternakan onta ini

Ada onta putih di peternakan onta ini

Aku nemu ada unta warnanya putih! Cantik deh… sempat juga foto – foto sama unta putih itu. Disini, kita mesen susu unta, yang langsung seketika itu juga diperas fresh from the camel! Whaa… Subhanallah ternyata satu unta aja tuh bisa menghasilkan satu baskom susu fresh, banyak juga yah.. Dari baskom langsung dituangin ke masing – masing botol, kagak pake proses macem – macem, tapi Insya Allah steril kok. Katanya sih susu unta banyak khasiat-nya. Aku coba minum, tapi gak dingin soalnya yah cuaca nya aja panas dan gak ada kulkas di jalan, haha… tapi rasanya hampir mirip susu sapi tapi agak – agak beda gimana gitu =P. Sayangnya karena gak pake pengawet, jadi susu unta itu hanya tahan 1 – 2 hari.

Lagi dituangin susu onta-nya dari baskom ke botol - botol

Lagi dituangin susu onta-nya dari baskom ke botol - botol

Unta itu hewan yang spesial, diantaranya disebutkan dalam Al Qur’an pada QS 88: 17. Unta itu hewan yang penyabar tapi pendendam..kenapa? Sabar karena bisa tahan di cuaca panas segitu teriknya tanpa minum di gurun pasir, lalu dia kan adem ayem aja jarang mengeluh. Pendendam karena, kalau ada yang mengganggu si unta dia akan tetap ingat. Jadi, kalau si pengganggu itu datang lagi ke unta tersebut 1 tahun, 2 tahun atau berapa tahun kemudian…unta tersebut masih ingat dan akan melakukan pembalasan sama orang itu. So, jangan ganggu – gangguin unta loh… =p

Dari sana, masih separuh jalan ke Madinah. Kita dapat bonus nih untuk melihat lokasi Perang Badar. Dalam perang Badar pada bulan Ramadhan tahun 2 Hijriah, kaum muslim yang jumlahnya 313 orang berhasil mengalahkan kaum Quraisy Mekah yang berjumlah 1.000 orang. Saat melintas di sekitar daerah peperangan Badar, kita tidak turun hanya melihat. Lagipula disana, semuaaaanyaa wilayah peninggalan bekas – bekas reruntuhan perang Badar yang masih ada, dipagari! Terus, di depan pintunya dijaga ketat oleh askar. Jadi kita sama sekali gak bisa masuk untuk melihatnya. Katanya sih semua wilayah ini dipagari agar tidak ada orang yang datang untuk melakukan hal – hal yang bersifat bid’ah. Hoo… Setelah dari sana, ternyata perjalanan kita ke Madinah hampir sampai, dimanfaatkan untuk istirahat di bus.

Jam 6 petang….

Alhamdulillah tiba di Madinah Al-Munawarah… dan yang persepsi ku pertama kali langsung berbeda dengan kota – kota lain. Kota haram ini rapi penataannya dan semuanya terlihat teratur, plus juga cuacanya gak terlalu panas. Jadi, katanya yang tinggal di kota ini masih keturunan kaum Anshar, yaitu kaum yang menolong Rasulullah saw dan kaum muhajirin saat tiba di Yastrib (Madinah) jadi sifatnya menurun yaitu teratur dan suka menolong. Sedangkan kalau di Mekah, memang masih banyak keturunan kaum Quraisy, jadi suasananya lebih keras daripada disini.

Shalawat dan salam bagi Rasulullah SAW sepanjang melintasi kota Madinah. Jadi teringat sebuah nasyid yang indah dari Dawud Wharnsby Ali berjudul MadinaTun Nabi… :

There was merriment and joy, a smile on the face of every girl and boy.
The streets of Yathrib welcomed in the prophet of Allah,
Muhammad, sullallahu alayhi wa salaam.

A full white moon shone down upon the land,
rising from the valley between hills of sand.
Being grateful to Allah was The Prophet’s demand,
spreading peace through the streets of Madinah.

Madinah Tun-Nabi, Madinah Tun-Nabi,
The city of the prophet is like home to me.
I’ll travel through the world but I doubt that I will see
A city with such wonder as Madinah.

Now the narrow winding roads are so full of history,
streets shake with the azan from Masjid un-Nabi.
I feel the shadow of the prophet gently cooling me
as I walk through the streets of Madinah.

The man who reads Qur’an `neath a date palm tree,
And the smile from the child on the street selling tea,
Enchant me with their beauty and their simplicity
As I walk through the streets of Madinah.

Madina Tun-Nabi, Madinah Tun-Nabi,
The city of the prophet is like home to me.
I’ll travel through the world but I doubt that I will see
A city with such wonder as Madinah.

Al Madinatul Munawarah, Oh enlightened city!
Al Madinatul Munawarah, even in my sleep you call to me.

Time has hurried by, time has traveled on so fast
And though wisdom and truth will always last
I wish, I wish, I wish that I could climb into the past
And live with the Prophet in Madinah.
Madinah Tun-Nabi, Madinah Tun-Nabi,
The city of the prophet is like home to me.
I’ll travel through the world but I doubt that I will see
A city with such wonder as Madinah.
My heart is never far from the home of the Anshar
And the city of the prophet, Al-Madinah

Hmm… Alhamdulillah hotel kami berada dekat dengan Masjid Nabawi. Saat pertama kali ke Masjid Nabawi, Subhanallah…. hwaa, guedhe buanget! Saat masuk ke dalamnya juga kan banyak pilar – pilar, tapi gak tahu ujung deret pilar – pilar nya dimana kagak kelihatan saking luasnya. Indah banget.. Sama sekali kagak panas, karena dalam masjidnya sejuk euy, berkarpet super empuk pula dan air zam – zam tersedia di tiap pintu masuknya. Disini dipisah wilayah bapak – bapak dan ibu – ibu, jadi sebaiknya menentukan dulu kalau pulangnya mau janjian ketemuan dimana.

Depan Masjid Nabawi

Depan Masjid Nabawi

Setelah Isya dan dinner, rombongan ibu – ibu (termasuk aku, heuu…) bergegas menuju Raudhah. Raudhah atau taman – taman surga adalah antara rumah dan mimbar Rasulullah SAW, dan disunahkan untuk sholat sunnat minimal 2 raka’at disana. Untuk sistem pengaturan yang baru bagi perempuan Raudhah dibuka 3x sehari yaitu waktu Dhuha, jam setengah 2 sampai setengah 3 dan dari jam 10 – stg 12 malam. Disana masih dibagi – bagi lagi per bahasa ibu yang digunakan, misalnya sekarang giliran Pakistan, lalu Arab, terus Iran, lalu Melayu. Begitu…jadinya lebih tertib dan teratur. Very crowded dan sebaiknya sholatnya bergantian, masih banyak yang ngantri, hehe…

Senin, 28 Juli 2008

Hari ini akan ziarah lagi, yaitu tempat pertama yang akan dikunjungi adalah Masjid Quba. Masjid Quba’ ini adalah masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW sesampainya di kota Madinah setelah hijrah. Berdasarkan hadits, yang keluar dari rumahnya dalam keadaan berwudhu lalu menuju masjid Quba’ dan sholat 2 raka’at disana, maka pahalanya seperti melakukan umrah.

Masjid Qiblatain adalah tujuan kedua kunjungan kami, namun disini kami tidak turun hanya melihat dari bus. Masjid ini disebut Qiblatain (2 kiblat) karena di masjid itulah turun ayat tentang perintah perubahan kiblat pada bulan Rajab 12 Hijriah. Tadinya kiblat sholat ke Masjidil Aqsha di Palestina, lalu berubah ke kiblat sekarang yaitu Masjidil Haram.

Masjid Quba'

Masjid Quba'

Sehabis itu, bus menuju ke Jabal Uhud, yaitu gunung terbesar di Madinah yang pernah menjadi tempat peperangan besar antara kaum muslimin dan kamu kafir Quraisy. Disana ada makam para syuhada uhud, diantaranya paman Rasulullah SAW, Hamzah… Lalu, tak lupa bersama – sama mendo’akan mereka. Di Jabal Uhud juga ada Jabal Rumaah (Bukit Pemanah). Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat pemanah untuk berjaga diatas bukit itu, mengintai dan mengawasi pasukan musuh yang mungkin menyerang dari belakang bukit. Rasulullah SAW berpesan agar mereka tidak meninggalkan pos apapun yang terjadi, namun setelah kaum muslim menang mereka turun dari bukit untuk mengambil harta ghanimah. Mereka lupa akan pesan tersebut, sehingga Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) dari pihak musuh melihat hal itu dan menyerang balik dari arah belakang Jabar Rumaah. Peperangan uhud ini menelan 70 orang syuhada.

Setelah berkontemplasi, kami bertolak ke Pasar Kurma!! Wa, sebelum mencapai pasarnya, terlebih dahulu melewati kebun kurma dan ini pertama kali aku lihat pohon kurma, hehe… ternyata gitu toh. Di Pasar Kurma, berbagai mata uang bisa diterima untuk pembayarannya. Bahkan, yang jualan juga ngomong-nya pake berbagai bahasa tergantung pembelinya. Nyumm, enak banyak pilihan kurma disini… Terus kita dikasi hadiah banyak kotak (lebih dari 5 soalnya) yang berisi kurma Ruthab! Nyumm….kurma muda itu yang paling aku suka!! Bentuknya bulat – bulat, coklat muda, lembek dan sangat manis =p. Sayangnya hanya bertahan 2-3 hari, jadi gak bisa dibawa ke IND deh.

Pulang dari Pasar Kurma kami menikmati waktu di Masjid Nabawi dan kota Madinah ini, karena pukul setengah 12 malam nanti sudah harus bersiap ke airport untuk menuju Istanbul, Turkey… (nantikan posting berikutnya, hehehe… =p)

Madinah Tun-Nabi, Madinah Tun-Nabi,
The city of the prophet is like home to me.
I’ll travel through the world but I doubt that I will see
A city with such wonder as Madinah…