Laskar Pelangi ..ku

Kemarin malam, saya menonton Laskar Pelangi untuk yang ke-2 kalinya. Yang pertama dengan teman-teman AXL-SMA-ku (Dila, Rio, Gege, dan bu presiden – Shana) di Senayan City. Yang kedua, nemenin mama papa nonton di BLITZ Pacific Place. Entah kenapa, yang terakhir ini aku lebih terharu, rasanya lebih ‘masuk’ aja pesan film-nya untuk direnungkan.

Menurutku, dua-duanya – buku dan filmnya – sama-sama bagus sekali. Film-nya menyentuh hati, sederhana tapi mengena. Dulu, bukunya kubaca waktu sebelum novel itu melejit, kira-kira pas tingkat 2, saat itu aku beli karena cover-nya warna pink =P. Dari ketiga seri tetralogi itu, selain Laskar Pelangi, yang menginspirasiku juga adalah Edensor. Hmm… =)

Papa kemarin juga terhanyut saat nonton film-nya, soalnya nostalgia juga dengan masa kecilnya di Plaju, SumSel. Tapi waktu itu papaku pas SD di pihak ‘SD PN’-nya, hehehe…dulu bukan di PN, tapi di kompleks Shell, dimana fasilitas yang didapat lebih gila lagi dibandingkan pt.Timah. Dimana di kompleks itu, semua keluarga tiap bulan disupply berbagai buku dan majalah luar negeri, sekolah terjamin, makan juga rutin disalurkan, pakai kolam renang, beli roti, rumah, listrik, gas, semuanya dijamin. Sekarang sepertinya gak ada yang se-enak itu perusahaan yang menjamin kesejahteraan karyawannya. Mungkin ada beberapa perusahaan minyak yang seperti itu, tapi gak se’heboh’ dulu.

Jika Laskar Pelangi di dalam cerita terjadi saat SD, cerita ‘laskar-pelangi’ku bukan saat ku SD. Karena itu, saat kemarin nonton, kok rasanya ingin sekali merasakan keceriaan anak-anak, bagaimana mereka menikmati hidup yang walaupun susah tetap senang. Sepertinya masa SD-ku tidak seperti itu. Aku bersyukur lebih beruntung, bisa mendapatkan hak-ku untuk menuntut ilmu dengan fasilitas yang jauh lebih memadai. Tapi aku merasa, sepertinya dulu aku tidak menikmati semua itu. Agak menyesal memang, sebab dulu sepertinya aku terlalu stress – maklumlah masih belum tersentuh oleh nilai-nilai agama =p .

Mungkin berbeda zaman dan lokasinya, SD ku di kota besar, Jakarta. Dulu yang ada dalam benakku hanyalah kompetisi, persaingan, ambisi dan tekanan (actually, peer-pressure!). Kelasku adalah kelas AB(Anak Berbakat) dimana dari kelas 1 sampai 6, muridnya dari 8 sampai 11 orang (tiap tahun ada yang masuk-keluar) dan uniknya PEREMPUAN semua. Kelas 1 dan 2, baik-baik saja, tapi mulai kelas 3 terasa benar tekanan dan kompetisi itu sampai kelas 5 – karena kelas 6 kita semua sudah sibuk dengan Ebtanas.

Pelangi-ku

Pelangi-ku

Memang, ada nilai-nilai persahabatan disana, especially with my best friends, yah 2 atau 3 orang. Namun, hati tidak bisa berbohong, naluri tidak bisa menutupi. Apalah artinya rangking satu terus kalau di kelas seperti ancaman, penuh dengan kecemasan dan kegelisahan, akan teror antar teman, permusuhan bergilir, pengucilan bergantian, dst. I do not want to remember that time! Pertengkaran itu, masalah-masalah itu, huff…yang membuatku jadi sering ke rumah sakit dulu, saat selama hampir 5 tahun jadi ketua kelas, yah, mungkin hanya aku yang ‘gak kuat’ dan labil menghadapi semua itu.

Well, saat-saat indah di SD justru kelas 6! Dimana ke-10 perempuan ini sudah mulai ‘sadar’ dan meninggalkan saat-saat ‘suram’ di masa lalu. We grew up! Kita mulai tertarik dengan hobi masing-masing, dan juga.. cowok =P . Kebetulan di kelas A-1, jumlah cowok-nya pas 10 orang. Jadi.. hum… banyak kejadian seru saat itu =) .

Hal yang indah lainnya di SD, yaitu hubungan kita sekelas dengan para guru. Rasanya, guru-guru yang paling mengena dalam hati adalah guru-guru saat SD. Dimana kita semua dapat meng’hormati’ tanpa membantah, tanpa berpikir melawan, dan menerima semua pelajaran dengan hati lapang. Guru yang paling ‘kena’ adalah Pak Soeripto, guru kesenianku. Entahlah, mungkin karena selama SD aku ikut paduan suara dan ansambel yang dibimbing sama beliau. Bahkan jadi rajin ikut lomba-lomba nyanyi kemana-mana, tampil di TV ber-paduan suara, kompetisi di TIM, SeaWorld, menang lomba kesenian di Diknas Jakarta, mendorong aku buat nyiptain lagu saat 4SD, ikut rekaman di studio Kak Sur, dan banyak lagi, karena didikan Pak Soeripto. Terimakasih. Pak.. terimakasih karena dalam kesenian itu-lah aku bisa bergembira dan menikmati masa SD disela-sela masalah yang ada.

Karena itu, saat ada satu scene di film Laskar Pelangi dimana Bu Muslimah yang baru datang ke kelas setelah ‘berkabung’ 5 hari, dirangkul murid-muridnya– aku sedih. Terharu…karena ternyata memang, guru SD itulah yang banyak membangun karakter kita sekarang. Dulu saat SD, kami sekelas bisa menangis bersama saat tahu ada salah satu guru kami yang wafat, rasanya sampai ke hati sedihnya. Kenapa? Karena mereka mengajar dari hati, ke hati… jika hati kita yang berbicara secara ikhlas, orang lain juga akan menerima dengan hati yang terbuka, secara ikhlas juga =)

Jika Laskar Pelangi di dalam cerita terjadi saat SD, cerita ‘laskar-pelangi’ku lebih mirip saat ku SMA. Di kelas yang seperti akuarium itu, kelas AXL, alias akselerasi – yang katanya orang isinya anak-anak aneh. Huh, itu hanya anggapan mereka, kita semua ber-9 normal kok, hehehe…. Sepertinya rasa persahabatan itu justru lebih tumbuh dalam kelas AXL, walaupun kompetisi tetaplah kuat. Mungkin, (kata Dila) aku seperti si Mahar di Laskar Pelangi. Why, dil? Mungkin karena aku suka nyanyi-nyanyi sendiri dan buat dance AXL yang aneh. Hahaha… Banyak hal manis yang dikenang, karena masalah-masalah tidak se’berat’ saat SD. Hubungan dengan guru-guru, terutama wali kelas kita juga malah terkesan lucu =D

Gambar AXL yang Nyo-Nyo buat pas SMA

Gambar AXL yang Nyo-Nyo buat pas SMA

Satu hal yang menggugahku, yaitu di akhir film Laskar Pelangi; lagu tentang Rukun Iman! Kenapa lagu itu ditaruh di akhir film? Kalau melihat dari cerita, Lintang yang dulunya super jenius harus berakhir menjadi supir truk. Apa yang salah? Bukan dia.. Dia sudah berusaha sekuat-kuatnya, dan kita tak bisa menyalahi takdir. Rukum iman ke-enam, meng-imani takdir! Sepintar-pintarnya orang, belum tentu nantinya dia nasibnya seperti itu terus (mis, Lintang), sekuat-kuatnya orang, bukan jadi jaminan tubuhnya akan sekuat itu terus, sekaya-kayanya orang belum pasti tidak akan mengalami kebangkrutan. Nasib orang bisa berbalik… hmm…

Lagu Rukun Iman yang Laskar Pelangi kemarin sangat menyentuh; apapun yang kita lakukan, lakukanlah dengan sebaiknya…berdo’a-lah sebanyaknya.. Namun, pada akhirnya takdir juga lah yang berbicara. Yang harus dipelajari adalah, bagaimana kita percaya bahwa Allah swt sudah mempersiapkan cerita yang terbaik buat kita dan bagaimana kita bisa menerima takdir hidup kita dengan ikhlas….