Akhir Tahun di Rumah Sakit

30 Desember 2008


Terhitung semenjak senin dini hari (29 Desember 2008) aku terkena diare akut dan muntah – muntah!! Sudah hampir 2 hari dan minum berbagai obat (Tolak Angin, Antangin, Spasminal, Norit, New Diatabs, Oralit, Bactrim, dsb), tapi malah tambah parah gak bisa stop juga. Akhirnya, karena kekurangan cairan dan udah gak bertenaga lagi, aku memutuskan untuk ke RUMAH SAKIT!! Berhubung dokter langgananku lagi cuti dan ortu lagi di China, sedangkan aku butuh INFUS…!!

Alhamdulillah Uwa bisa nganter aku ke RS di bilangan Kuningan, langsung deh ke UGD dituntun Mbak. Sampai disana langsung di infus, yeah.. (lho ko sneng?). Tapi keadaan di UGD sedang mencekam, ada apakah?? Uwa ku bertanya pada orang di depan bilik – ku, yang keliatannya baru saja datang sebelum aku tiba, “Pak, ini kenapa pasien-nya?”

“Iya, ini keponakan saya… umurnya baru 14tahun, tadi dia naik motor dari rumah saya habis main, mau nyari nasi padang terus kecelakaan, tapi belum tau sebabnya karena dari tadi belum siuman.”

Innalillahi… Ya Allah, kasian banget anak SMP di liburan ini harus mengalam kecelakaan seperti itu. Kata Uwa-ku, seluruh badannya diperban, dan apalagi kepalanya.. katanya sih retak gara – gara motornya tertabrak dan anak itu terlempar dan terhempas di trotoar, dan kebetulan tidak memakai helm. Yang mengerikan, dari kepala, mata, hidung dan telinganya kerap mengeluarkan darah. Tiap anak tersebut bergerak, mengalami kejang – kejang. Sedangkan bapak dan ibunya belum datang, masih terjebak macet.Duh.. Ya Allah..

Aku mikir ya, gimana reaksi orang tuanya kalau nanti mereka datang melihat anaknya dalam kondisi seperti itu? Hmm.. Beberapa jam kemudian, bapaknya datang dan langsung menangis disampingnya. Lalu, selang berapa menit berikutnya, ibunya tiba dan histeris melihat anaknya. Tangisannya pecah dan terdengar sangat pilu… Dadaku jadi sesak.. Sejenak aku merenung, tentang perasaan ibu tersebut. Dalam hening, hanya bisa ku sampaikan doa.

Dokter jaga UGD memutuskan untuk mengambil gambar cranial pasien dengan CT-Scan, karena bagian yang terparah adalah kepalanya. Setelah dilakukan CT-Scan, pasien kembali dan keluarganya pun sibuk ber-diskusi mengenai kelanjutan perawatannya. Yah, buntut – buntut nya selalu terkendala BIAYA… Tadinya pasien akan dibawa ke ICU, karena sudah tidak bisa ditangani di UGD lagi. Tapi, sebagaimana kita tahu bahwa, hukum manajemen rumah sakit pun berlaku: tidak ada duit/asuransi, tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Hfffhh…

Aku mendengar dari balik bilik ku, si dokter jaga menelepon dokter spesialis yang memang lagi cuti saat itu, “Dok, ini hasil CT-Scan pasiennya, begini… begini.. di bagian atasnya begitu… di sampingnya bla..bla..bla…,” katanya menerangkan mengenai citra CT-Scan yang dilihatnya. Nyeh? What the?? Oh my… kenapa dokter jaga itu harus repot – repot menjelaskan dan dokter spesialis yang entah dimana itu harus kebingungan menafsirkan citra CT-Scan???

Kenapa yah, gak menggunakan teknologi lain yang lebih memudahkan untuk diagnosa dari CT-Scan jarak jauh. ‘Kan bisa pake PACS, kirim lewat email atau tele-conference atau pake video-call atau dokter punya network khusus dengan RS yang memungkinkan citra diterima dengan kualitas detail tinggi, sangat cepat dan privacy pasien terlindungi. Hmm… dengan begitu kan, bisa lebih hemat waktu dan dokter gak menebak – nebak diagnosa atau mereka gambaran citranya.

Yup, kendala teknologi tidak bisa digunakan luas sepertinya masalah kemudahan.. Misalnya, paramedis merasa terlalu ribet jika menggunakan komputer, jika ‘hanya’ untuk urusan seperti itu. Atau ada ibu – ibu yang merasa riweuh jika menggunakan fitur – fitur di komputer atau alat elektronik. Mungkin awalnya memang harus dibuat se-sederhana mungkin biar gak mbingungin 🙂

Memang teknologi-nya sih SUDAH ada, tapi apakah mereka MAU menggunakannya??😦

Singkat kata, aku sudah habis 2 infus, tapi sakitnya tak kunjung membaik, hiks… Jadi, terpaksa deh, harus di rawat inap karena sudah malam. Huhuhu… T,T . Larut malam, hanya ditemani Mbak, aku masih muntah – muntah. Sempat khawatir, apakah aku akan melewatkan detik – detik awal 2009 di rumah sakit?? Kyaaahh…. GAK MAU!!   T,T .

31 Desember 2008

Keesokan harinya… Alhamdulillah kondisiku mendingan, walaupun sendirian di kamar (Mbak pulang, nemenin ade yang sendirian di rumah). Menunggu dokter datang, harap – harap cemas apakah aku boleh pulang. Ternyata, “Bagaimana, sudah tidak sakit kan?”, diperiksa dan diam sejenak. “Iyak, boleh pulang.. mau tahun baru-an ya? hehe…”. Alhamdulillah, Nyo bisa pulang…!!^^’

Detik – detik memasuki tahun 2009 pun dilewati di kamar dalam rumah, sendirian… karena mama papa di Hongkong. Hehehehe… Langsung tidur lagi.. zzZzz.zz…. -___-