HF Training..”haTI.haTI.Di.Jalan”

DAY 1

Hari ini Nyo ikutan training Heart Focus di Jakarta, hari pertama. Dengan leave yang sudah di approve bos, akhirnya Nyo datang ke training lanjutan dari Mind Focus ini. Jarak dari pas ikut Mind Focus udah 1 tahun pas lho, tahun lalu ikutnya tanggal 17 Mei 2008. Inti dari Heart Focus adalah untuk lebih menyelami ‘hati’ dan lebih bisa mengontrol perasaan kita, dimana pada saat Mind Focus yang ditekankan adalah tata cara berdoa secara digital (untuk lebih lanjutnya, ikut aja sendiri deh trainingnya ;p)

Di sesi pertama, Nyo jadi tahu bahwa ada 3 cara mengelola perasaan, namun 2 diantaranya ternyata ‘gak benar’. Yang gk benar ini adalah dengan memendam perasaan dan melampiaskan perasaan. Memendam perasaan, biasanya lebih banyak dilakukan oleh orang Indonesia, dimana di luarnya nampak ‘saya sudah memaafkan’ atau ‘iya, udah gak dedam lagi kok sama dia’, tetapi dalam hatinya tuh perasaan busuk masih bercokol dan terus ada. Sebaliknya, melampiaskan perasaan lebih sering ditemui pada budaya masyarakat Barat. Katanya ya, di suatu negara europe sana ada penyewaan ruangan yang isinya barang-barang lengkap, pecah belah, dsb, lalu orang yang menyewa diberi stik kayu, nah.. orang tersebut bebas deh melampiaskan perasaannya dengan cara banting2, mukul2, mecah2in semua barang disana (secara udah bayar ya?). Atau bisa juga dengan marah ke orang yang dituju, heuff… ini mah bukannya selesai, malah nambah masalah di hati, ya gak?

Jadi gimana dunx caranya? Caranya ternyata dengan meng-ikhlas-kan perasaan itu. Cara ketiga inilah yang sangat disarankan. Bingung? sama… aku juga bingung, hehehe… ^^; karena ternyata ikhlas itu emang gak bisa dipikiran ceu’nah, soalnya kalau otak yang bertindak yah kagak nyampe. Kalau cuman ngandelin logika aja, nampaknya bakal gak abis – abis memikirkannya, padahal dalam 1 hari aja kita bisa memikirkan 60.000 pikiran. Masa kita sanggup untuk mengelola semua pikiran kita, capee deh. Lebih baik, nikmati saja kebingungan kita itu.. sambil memohon tuntunan ilmu pengetahuan dari Allah SWT.

Tips – tips untuk meng-ikhlas-kan perasaan, yaitu terima, lepas, dan selam. Bingung lagi? Me too… hohoho.. Jika perasaan itu muncul, trik pertama adalah menerima dan mengizinkan perasaan itu masuk ke hati kita. Tetapi,  ini yang paling penting: jangan libatkan otak kita untuk menganalisis, perasaan apa itu, disebabkan karena apa, atao orang yang menyebabkan kita merasa seperti itu; just RASAIN tuh perasaan tanpa embel-embel interferensi dari si otak. Lalu, proses selanjutnya adalah melepaskan rasa tersebut, hilangkan perasaan yang negatif, tetapi juga jangan takut kehilangan perasaan positif (bingung? hihi.. gk usah dipikirin). Dan proses penyelaman adalah menikmati perasaan deh.

Emosi= E-Motion = Electromagnetic Motion = pergerakan elektromagnetik. Humm.. menarik! Sebenarnya emosi itu kan berasal dari jantung, jantung itu adalah power supply dari manusia, dimana memiliki trigger dan aktivitas elektromagnetik yang Subhanallah… Nampaknya, aku harus membuka kembali buku – buku Anatomi Fisiologi dan Fisika Medis – ku saat kuliah dulu untuk menuliskan fakta – fakta dasyat tentang jantung kita. Jantung = heart = hati; ya kan??

Heart

Heart

Tadi, ada visualisasi menarik mengenai jantung dalam grafis 3-D (gyaahh… love it!!), ada juga tentang saraf otak yang berada di jantung dan HRV (Heart Rate Variability – jjaaahhh… jadi ingat mata kuliah Biomedical Signal Processing yang Nyo sangaaatt… sukai!!! Huhu.. kangen!) yang menampilkan sinyal – sinyal dari heart ini. Ternyata emosi memang berkaitan erat dengan jantung.

Satu kondisi, saat dalam kondisi frustasi/cemas/sedih, tampilan sinyal jantung -> tajam, periode kacau, bergerigi dan turun naik dengan peak yang runcing2. Sedangkan saat kondisi emosi damai, tampilan sinyal jantung -> tampak seperti gelombang transversal dengan periode yang teratur dan kondisi gelombang yang turun naik dengan halus, ndak ada peak2 yg tajam deh pokoknya. Nah, diantaranya, ada kondisi peralihan dari sinyal kacau ke sinyal teratur, nampak sekali ada perubahan yang cukup drastis. Mau tau dengan apa? Ternyata dengan menarik nafas, menghembuskan kembali dengan istighfar… Astagfirullah.. membawa kondisi emosi jantung kita kembali teratur  😀

DAY 2

Hari ini belajar mengenai teori Chaos, humm.. tentu semuanya tahu tentang chaos atau kekacauan. Di dunia nyata sering sekali kita bertemu dengan chaos. Namun, ternyata menurut teori dasar chaos itu, ternyata hanya perlu dialami dan diakui kok, lalu setelah itu akan terbentuk keteraturan kembali. Begitu juga dengan kondisi dan emosi kita, udah lah jangan ditutup-tutupi, alami aja dulu perasaan itu, hayati, lalu lepaskan dan nantinya akan mengikuti ke jalur keteraturannya kembali. Yang pasti, 3 emosi yang baik itu terdiri dari berani/mantap akan dirinya, menerima dan akhirnya bisa merasakan damai or peacful (dimana otak udah ndak bisa inteferensi dan hati udah gak mau diganggu gugat lagi sama si logika yang satu ini)  ^^

This second day porsinya lebih banyak menonton dan memahami konsep – konsep dasar ilmiah, science atau fisika-nya atau apalah itu, tentang quantum dan teori emosi. Waw, jadi inget zaman SMA dulu, dimana pas lagi getol2nya baca dan mencari tahu banget tentang atom, photon, quantum, quark, dsb (bahakn dulu sempat ingin masuk jurusan Fisika teori gara2 seneng hal2 beginian, yang antara nyata – maya). Yah, ujung2nya video itu menunjukkan kalau kita pergi jauh melewati milky-way, galaksi2 milyaran bintang2, jatuhnya adalah fana. Saat menembus ke dalam tubuh, melewati sel, atom, dan inti materi, ternyata juga fana. Maksudnya, sebagian besar dalam ukuran relativitas tersebut adalah ruang kosong atau hampa. So?

Ada juga tayangan seru tentang teori quantum, bahwa seseorang bisa berada dalam banyak tempat dalam satu waktu yang sama. Bahkan beberapa peserta juga pernah mengalami hal itu, dimana mereka gak berbuat apa2, tapi kok orang yang dituju ‘mau dia buat apa2’ bilang bahwa peserta tsb mendatangainya (padahal kenyataannya gk pernah, ketemu aja gak). Hhfff…agak seram memang. Mungkin teori quantum itu, bila dalam bahasa spiritual-nya roh yah.. ah, tapi Nyo ndak ngerti deh soal yang gini2  :p

Peaceful

Peaceful

Emosi negatif (-) ternyata bersumber dari nafsu utama yah, yaitu nafsu untuk mengatur, untuk mencari approval, dan untuk selamat. Yang Nyo rasakan, diantara ketiga-nya itu yang paling dominan adalah nafsu untuk mengatur, untuk to have control in everything. Rasanya selalu inginnnn banget ngerubah si ini, itu lah, dsb.. dan kalau yang diatur gak mau nurut atau gak sesuai yang Nyo mau, hasilnya tuh kesal dan amarah, grrrghh…  >,< . Kita selama ini seperti men-sabotase tugas Allah swt dengan gak yakin 100% bahwa Dia Maha Pengatur. Jadi, udah lah.. Nyo merasa harus berlatih meng-ikhlas-kan perasaan ingin mengatur tersebut, kalau gak sesuai, yah…jangan ngoyo deh. Sabarrr..😀

DAY 3

Hari terakhir ini paling seru deh karena banyak banget praktek-nya. Walaupun di kehidupan nyata, kemarin pas pulang, Nyo gagal; masih belum bisa mem-praktek-kan-nya sesuai dengan yang di training. Biasalah, terlalu impulsif..pas emosi itu datang, malah langsung dilampias-kan, bukannya di-terima dan di-ikhlas-kan seperti yang sudah diajarkan. Beberapa orang juga merasakan bahwa di luar training banyak chaos yang menguji komitmen hati dan itu-lah sebenarnya tugas manusia. Sesuai dengan hadits; bahwa perang terbesar manusia adalah perang melawan hawa nafsu-nya…

Nyo tadi kebagian untuk ikut main game ‘happy’ mood gitu! Tujuan game ini adalah untuk menerbangkan 3 bola dengan warna berbeda setinggi mungkin dengan suasana hati kita. Waw, serruu!! Jadi, pertama-tama, ada sensor yang dipasang di 3 jari kita. Sensor ini dihubungkan ke laptop, of course, lalu start the game setelah kalibrasi sinyal-nya. Pertama-tama, ketiga bola itu gak gerak, heuu.. mungkin karena Nyo takut, deg2an di tonton orang2. Lalu tiba2 karena semuanya pada memberi semangat, Nyo jadi senang deh, ketawa.. eh, bola2-nya pada terbang tinggi dan berputar  ^^. Terus, Nyo mencoba untuk tenang, terus berpikir di otak, “ayo.. tenang dunx.. tenang…jaim..”. Lho..loh??  Kok bola2nya jadi nge-rem, turun lagi dan berhenti gerak?? Wah, ternyata yah, saat kita disibukkan dengan kerja pikiran kita, kok bisa gini, gitu, ngatur2, bertanya2 – si hati dan perasaan kita itu jadi GAK berfungsi alias ‘mati rasa’. Saat Nyo menarik nafas panjang dengan bahagia, eh, si bola2 itu terbang lagi..😀

Kesimpulan-nya, jangan terlalu banyak mikir terus – terusan deh, kalau kita tau fungsi otak 12% sedangkan hati/jantung itu 88%, yah kita gunakan aja sesuai ‘porsi’nya. Otak logika itu suka gak sabar dan meng-interferensi kerja hati kita dan proses di alam kuantum yang sedang berjalan. Jujur aja deh dengan perasaan2 yang kamu alami, akui itu, accept..🙂 .

Oia, ada lagi alat yang bagus yang dibawa Mas Nunu tadi, yang sekilas tampak seperti iPod. Alat tersebut ternyata hasil riset yang mas Nunu terlibat juga dulu. Alat dari DigitalPrayers ini bisa mendeteksi kondisi hati kita. Saat kondisi emosi-nya lagi transisi (+)(-), warna-nya biru, saat kondisi hati (+) warnanya hijau, kalau kondisinya (-) jadi merah dan berbunyi. Tapi tadi gak sempat nyoba sih… pas mas Nunu nyobain, ndak bisa keluar warna merah tuh (hahaha.. mungkin udah saking jarangnya gak pernah ada kondisi emosi itu, jadi susah ngeluarinnya :p)

Peaceful.... :)

Peaceful....🙂

Aih, Nyo jadi semakin semangat untuk membuat aplikasi-aplikasi Biomedik seperti itu, yang menghubungkan teknologi dengan visualisasi agar manusia bisa lebih mengerti bahwa sebenarnya manusia sudah diciptakan dengan sebaik-baiknya lho.. maksudnya, dengan visualisasi dan ‘bukti ilmiah’ yang bisa kita lihat, saksikan, kita kan bisa semakin yakin hatinya. Spiritual bisa dikaji dan lebih dipahami dengan teknologi. Mungkin ini yah maksudnya bahwa ilmu pengetahuan itu harus digali agar kita lebih yakin dengan kekuasaan dan untuk membawa lebih dekat  kepada-Nya  😮

Konsep NARIMO-nya bangsa Indonesia ternyata benar-benar powerful. Bangsa mana sih, yang punya tradisi seperti itu? Buktinya aja, kita dulu sabar kok selama 300 tahun lebih, kok sekarang Jakarta malah diakui dunia sbg kota terbaik untuk belajar sabar? hihihi.. Ternyata, gak ada cara lain untuk narimo selain narimo-nya itu. Gak bisa juga dituntut2 untuk narimo pada saat itu, padahal hati sendiri belum sreg untuk narimo. Hmm..

Sesi terakhir amat mengharukan saat melatih ‘hati-hati di jalan’. Sebuah proses yang simpel tapi melelahkan. Nyo ampe capek dan lemes sekaligus ngantuk sih setelah praktek-nya. Humm.. tampaknya dalam sepanjang hidup ini kita harus selalu melakukan dan semoga selalu menerapkan  ‘HATI – HATI DI JALAN’

🙂

……..just a small note from me about this wonderful training