Perjalanan Beasiswa

Sepertinya perlu ditulis deh, walaupun sebenarnya hanya kilas balik..🙂

Jadi, sebenarnya saat lulus Juli 2008 pengennya langsung nerusin sekolah, tapi karena beberapa hal kayaknya tidak memungkinkan, harus menunggu 1 tahun setelah lulus. Tapi memang semua ada hikmahnya, didalam 1 tahun kurung waktu ‘menunggu’ itu banyak moment2 yang sangat indah ^^ .

Awalnya mendaftar untuk banyak universitas dan beasiswa. Dimulai juga dengan berbagai ujian bahasa, kayak TOEFL (yang uda 2x ikut, 2tahun berturut, ternyata nilainya sama persis-sis-sis!!! padahal udah belajar, heuu..), IELTS (les-nya kagak selesai karena harus bekerja di metropolitan, tapi Alhamdulillah lolos ujiannya), GRE (paling gak jelas), TPA (lumayan jelas daripada GRE). Setelah itu juga ikut workshop tentang beasiswa yang bagus, diadakan oleh http://www.about-scholarship.com/ . Di workshop maupun websitenya dan si ibunya juga menulis buku, tentang cara-cara mendapatkan beasiswa, termasuk juga soal menulis motivation letter yang baik dan benar  :p

Aplikasi pertama adalah ke NUS, untuk jurusan Bioengineering (rada nyeleneh, agak gak nyambung sama background). Gara – gara daftar ini nih, jadi ikut tes GRE..  Sayangnya setelah aplikasi diterima untuk Master-nya, di-beritahu bahwa gak tersedia beasiswa oleh NUS, sehingga ditawarkan untuk di-upgrade jadi langsung Doctoral. Humm… mikir2.. lama banget dunks gitu sekolahnya? Huhu… GAK MAU..!! Tinggalakan, yo wis..

Beranjak nyari ke Prancis. Nyo juga daftar untuk beasiswa TOTAL, seperti sepupuku yang merupakan peraih beasiswa tersebut 4 tahun lalu. Seleksinya pas banget sebelum mulai kerja tuh, jadi bisa ke Bandung. Seleksi awal, Group Discussion lolos, lalu ikut ke tahap berikutnya, wawancara perorangan. Nyo pilih hari itu juga karena besoknya harus ke Jakarta. Heheu.. tapi jawabannya super ngaco, karena yang ditanyain ternyata mengenai ‘motivation letter’ yang kita tulis saat mengajukan aplikasi. Padahal udah lupa dan gak dibawa, ngarang deh. Alhasil, beberapa minggu kemudian nyampe surat yang mengatakan bahwa ditolak, haha.. :p

Nyo juga iseng nyobain Erasmus Mundus. Nyari – nyari program yang sesuai dari ratusan program, tapi kok gak ada?? Cari di bagian engineering, bacain satu2 short description-nya. Akhirnya nemu yang ada kata-kata MEDICAL-nya, aku baca ada tulisan ‘medical imaging’ dalam penjelasan program tsb. Hoo… OK. Akhirnya aku apply ke VIBOT, walaupun agak ogah-ogahan karena porsi ‘medical’-nya terasa sedikit. Juga, kayaknya perpindahan tempat belajar ke beberapa negara membuat tidak konsen riset deh.. (masih idealis dulu, mikirnya riset atau belajar, hihi..).

Kembali ke fokus awal tujuan negara asal untuk nerusin, yaitu Belanda. Perburuan kembali dilakukan untuk universitas-universitas dengan jurusan yang sama: BIOMEDICAL ENGINEERING!!! Nyo daftar Groningen, TU Delft (gara2 TOEFL_PBT gak diterima jadinya musti tes IELTS), dan TU Eindhoven. Dari ketiga universitas tersebut, yang paling aku mau adalah TU Delft…soalnya memang bagus dan akrab di telinga (loh?). Kenapa Biomedical Engineering? Kalo di Belanda, gak usah diragukan deh mengenai pendidikan di bidang tersebut. Selain ada perusahaan BME yang terpercaya disana, juga akses ke medical-nya bagus.

Hasilnya, Nyo keterima di tiga-tiganya, tapi untuk yang TU Delft dan TU Eindhoven tidak dapat beasiswanya. Piye iki, masa mau ngerepotion orang tua lagi untuk bayarin tuition fee + living cost yang tinggi disana? T,T.  Tadinya mau ambil TU Delft sih, dengan tuition fee dibayar ortu dan living cost dengan kerja disana. Tapi, kayaknya aku terlalu capek deh kalo seperti itu.

So.. Nyo ikut lagi seleksi beasiswa Depkominfo. Wah, senangnya pas disuruh mengisi surat motivasi-nya dengan bahasa Indonesia ^^ . Karena ikut seleksi beasiswa ini, Nyo harus ambil tes TPA, yang ternyata menyengakan, hoho…setidaknya gak kayak GRE, hueks..  Setelah itu, ternyata lolos ke tahap wawancara, ketemu banyak orang yang aku kenal, se-almamater, hehehe…. asik2.. Terus, beberapa minggu kemudian ada hasilnya dan: Alhamdulillah lolos, resmi dapat beasiswa Depkominfo. Tapi?? Hum.. belum berakhir sempai disitu.

Permasalahannya, kali itu ada beasiswa lain yang sudah diumumkan hasilnya, yaitu yang pertama kali keluar adalah Erasmus Mundus – VIBOT, lalu HSP – Huygens Scholarship (dari pemerintah Belanda) untuk ke Groningen, dan beasiswa Depkominfo itu untuk TU Delft. NYO mikir-mikir lagi dan tanya pendapat orang tua, dosen, teman – teman, dsb. Banyak sih +/- dari beasiswa2 di atas. HSP nominalnya lebih tinggi dari EM, gak ada ikatan pula, tapi Nyo lebih pengen ke TU Delft daripada Groningen. TU Delft dengan beasiswa Depkominfo? Pertimbangan yang berat adalah karena ada kemungkinan untuk terikat 2n+1. Sebenernya ini yang aku ndak mau, karena emang dari awal ndak pengen kerja, hehehehe… jadi lebih milih yang bebas2 ajah.

Alhamdulillah, jadinya Nyo milih EM aja, Vibot (Vision & Robotics). Ini sebenernya agak bikin deg-degan judul programnya, karena aku know nothing about robotics, uhuhu…bisa2nya kok milih itu?? Ah, udahlah, biarin dah, liat ntar aja..   -__-; . Tapi dari ke-3 beasiswa di atas, kayaknya ini yang paling ‘sreg’ di hatiku dan disetujui oleh ortu + dosen, Insya Allah semoga yg tepat.. Se-iring berjalannya waktu juga, Nyo jadi males ngurusin hal-hal yang terlalu serius, dari yang tadinya idealis jadi pengennya lebih ke explore the culture dan jalan-jalan, yeah..yeah…  😀

Yah, memang di dalam keinginan-ku sejak dulu, jika saat S-1 kayaknya porsi ‘belajar’ materi kuliah lebih banyak pengennya saat S-2 lebih banyak poris belajar kehidupan dan keberagaman, terutama untuk  ‘open your heart & mind’. Pengen lebih mandiri.. :p  . Hopefully…