Last musical holiday:Vienna

29 June 2010

Pagi ini ke Schonbrunn Palace, yang letaknya agar diluar kota tua Vienna. Namanya juga istana, pasti selalu dibangun diatas bukit agar bisa mengontrol kondisi kota dan warganya. Tapi, transportasi di Vienna, layaknya ibukota lainnya – sangat menunjang untuk mobilisasi. Dengan naik subway U4, langsung sampai deh di Schonbrunn. Aih, banyak turis tapinya soalnya kan kayaknya tujuan utama (selain wisata musik) di Vienna.

Untuk tiket masuknya, ada berbagai macam Pass yang ditawarkan. Aku sih ambil yang Classical Pass yang udah lengkap ikut Imperial dan Grand Tour-nya, taman dan Apple Struddle Show! Masuk ke dalam Palace-nya, yah seperti istana kerjaan – kerajaan Eropa biasa, ada ruang ini itu dan disuguhi cerita sejarah lengkapnya. Yang terkenal itu adalah Ratu Sisi, yang punya gallery lengkap dan mewah. Ternyata juga ada hubungannya juga dengan Marie Antoinnette yah…

Schonnbrunn Palace

Maria Theresa adalah salah satu ratu yang ternama juga, punya 11 putri dan semuanya dinikahkan dengan alasan politik, heuuff,, kasian. Masuk juga ke ruangan hall yang merupakan pertama kali Mozart membawakan lagu Eine Kleini Nachtmusik dihadapan anggota kerajaan Austria. Oia, ada juga dinner room dimana biasanya makanan yang disajikan adalah makanan tradisional khas Austria, seperti chicken schnitzel (baru tau..), escallops, dsb.

Yang bagus di palace ini sebenarnya taman-nya yah, susunan-nya cantik. Juga ada namanya Gloria, di atas bukit di seberang palace yang untuk sampai ke atas harus nanjak cukup capek, hehe… Kompleks Schonbrunn luas sekali, soalnya ada juga taman bermain anak – anak disertai Maze labyrin (aku mah males, takut tersesat gak bisa keluar lagi), dan juga ada kebun binatang. Di cafe nya juga ada Apple Struddle Show yang mendemonstrasikan cara – cara membuat Apple Struddle. Dikasih juga free sample, tapi kayaknya kurang crisp deh.. L . Sama aja ya rasanya kayak di Indonesia..

Gloria

Setelah puas di Schonbrunn, balik lagi ke pusat Vienna untuk ngider – ngider sendirian. Mulai dari Museum Quarter, terus mengunjungi taman – taman yang penuh dengan Tribute to Musicians (seperti patung + taman untuk Mozart, Strauss, Brahms, Beethoven, dsb.), Belvedere Palace, Konzerhaus, dsb. Haaaa…. rasanya gempor juga jalan keliling itu diterik matahari, ampe mimisan jadinya -__-;

Pengen nonton konser lagi ntar malem tapi gak ada yang main, ada juga sih konser Mozart – Strauss tapi lagu – lagunya sama kayak konser kemarin. Yasulah, istirahat aja gak usah nonton konser karena jam 3 dini hari besok harus terbang ke Barcelona.

Tribute to Mozart

Akhirnya, sisa hari di Vienna diisi dengan mengunjungi MozartHaus. Museum ini lebih lengkap dan menarik dibandingkan yang di Salzburg, karena Mozart lebih banyak menghabiskan hidupnya di Vienna untuk meniti karier (cieh, merantau ke ibukota ni ye..). Di rumah inilah Mozart menulis opera terkenalnya, “Marriage of Figaro”. Menarik deh kalau mengikuti penjelasan di audio guide-nya juga display museum-nya itu tidak membosankan, jadi ikut ‘masuk’ ke dalam ceritanya disertai lagu – lagu Mozart.

Yang bikin patah hati ada juga… Emang sebelumnya sudah tau, dari dulu ‘kan baca buku bio nya Mozart katanya merupakan Freemason. Tapi dulu nanggepin-nya biasa aja… Nah, sekarang, ternyata di MozartHaus ini telah TERBUKTI, melihat jelas bukti – buktinya dengan mata kepala sendiri (jyaaahh… majas apa ini?) bahwa Mozart benar – benar FreeMason!! Ada sarung bantal, bendera, barang – barang yang berlambangkan bintang David, lalu surat – surat-nya Mozart ke Freemason, mulai dari minjem duit alias ngutang karena dililit kondisi keuangan sampai persetujuan ayahnya Mozart tentang keikutsertaan Freemason.

Beuhhh… jadi kesel deh. Di museum juga dipaparkan mengenai opera terakhir Magic Flute, di akhir usia-nya Mozart saat setelah aktif di Freemason. Ternyata opera ini penuh dengan lambang – lambang Freemason! Tapi Nyo belum nonton sih operanya, ni baru beli DVD-nya langsung disana, penasaran soalnya, hehehe… tapi melihat setting-an operanya yang ada piramid, dsb sih kayaknya emang benar ada simbol – simbol Dajjal gitu.

MozartHaus + HausDerMusik

Kematian Mozart juga masih misteri. Apalagi soal Requiem misterius yang dibuat Mozart menjelang ajal, yang ternyata client-nya adalah seorang yang mau plagiat. Mengenai penyebab kematian-nya masih spekulasi sih.Tapi di museum semua ditunjukkan bukti – bukti sampai otopsi dokter segala. Oalah, Mozart..Mozart… Kenapa orang – orang jenius kayak gitu ya.. L

Selesai mengunjungi si Mozart (jadi gak se-antusias di awal), ke Haus der Musik. Waw, seru mengunjungi museum Vienna Philharmonic Orchestra!! Disana juga bisa menonton New Year Concert yang disuguhi kayak nonton langsung (padahal kyk di bioskop gituh), conductor-nya keren sekaliiii, menjiwai superrrr…. Hoh, jadi inget Karajan, yang merupakan conductor orchestra ini juga. Di Haus der Musik bisa juga maen jadi conductor2-an lho, kayak simulasi virtual reality, serrruuuuuuu……………!!!😀

Pokoknya asik lah di Haus der Musik rasanya kayak jadi anak – anak lagi, belajar mengenai awal terjadinya bunyi, sampai experience sound without virtual. Ada juga tentang komposer – komposer legendaris, masuk ke ruangan – ruangannya masing – masing. Tapi disini cuman musisi dari Vienna aja yah: Ada Haydn, Mozart, Beethoven, Strauss, Schubert (ternyata sebelum umur 20, uda pake kaca mata bulet, cute yah..), dsb. Lalu lantai paling atas ada tentang Musik of the Future yang merupakan brain opera, wuih, benar – benar interaktif kita mengalami dan bermain sendiri alat – alatnya. Hooo….. satu kata deh: SERRUUU…………!!! ^^

Layar Tancep depan WienerSTaatsoper

Sore itu berjalan – jalan lagi keliling Wiener Staatsoper sambil nonton duduk di kursi lapangannya, ada layar tancep yang nyuguhin opera – opera review. Enak sambil ditemani angin sepoi – sepoi. Yah, walau kagak kesampean nonton opera benerannya, nonton layar tancepnya aja udah seneng deh, kan gak bikin ngantuk, hehhe….