Wisata Edukasi Burgundy :p

JUMAT, 22 Oktober 2010

Hari ini adalah Cultural Trip Bourgogne pertama, hihihi… seperti biasa, seperti semester sebelum – sebelumnya, ini merupakan bagian dari kuliah Local Culture yang wajib diikuti. Tapi beneran deh, pelajaran Local Culture di semester 3 ini benar – benar beda karena benar – benar belajar Sejarah!! Oh nooo….. sesuatu yang aku gak suka karena musti menghafal.. L . Yang paling nyante pas di Spanyol, enak belajar lebih tentang kondisi budaya-nya dan yang terpenting GAK ada ujian kayak semester ini!

Mari kita berangkat menuju objek wisata edukasi pertama: BRANCION CASTLE

Kebanyakan chateaux atau castle di Burgundy di departemen Saone-et-Loire (area dimana sekarang aku berada, hehe..) merupakan residence dari satu keluarga. Perlu diketahui bahwa region Burgundy ini terbagia menjadi 4 departement: Cote d’Or (dimana Djon berada), Nevers, Saone et Loire, dan Yonne (main town nya Auxerre, tempat si Fourier dilahirkan). Castle ini terletak tidak jauh dari Tournous, sepanjang perjalanan juga bisa dijumpai kebun anggur dan juga castle – castle lain (katanya di area ini ada 45 buah castle). Castle Brancion adalah satu contoh peninggalan dari era Medieval, di abad ke-10.

Brancion Castle

Brancion castle penting karena juga merupakan tempat tinggal Duke of Burgunday saat itu. Arsitektur nya bergaya medieval dengan tembok kokoh dari batu – batu yang tersusuan secara tidak beraturan. Manara-nya juga mencerminkan arsitketur abad ke-10, dimana berbentuk kotak, bukan lingkaran seperti abad selanjutnya.

Kastil ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama yang kami kunjungi adalah penjara. Uniknya, penjara ini bukan penjara bawah tanah seperti yang biasanya dimiliki kastil lain. Mengapa? Karena Duke ingin tahanan tetap hidup agar tiap minggu bisa di’siksa’ massa di depan pasar, dipasung dan dilempari aneka rupa hukuman, hoex… Hal ini untuk menunjukkan akan kekuasaan Duke Burgundy saat itu, hmm.. jangan macam – macam ya. Di ruangan prison tersebut juga ada baju besi. Lucu juga ya dulu raja kalau mau make baju besi perlu waktu paling gak 45 menit dengan berat total baju besi nya sekitar 25 – 30 kg, dan perlu anak kecil khusus untuk membetulkan helm dan masang bagian – bagian di tubuh atas. Ribet booo………. :p

Bagian ke dua adalah bagian lantai dasar. Disinilah sehari – hari ketika suasana sedang aman, semuanya melakukan aktivitas, mulai dari memasak, pemerintahan, rapat, dsb. Namun, jika dalam keadaan terancam atau perang, keluarga kerajaan diungsikan ke menara kotak di atas dan semua aktivitas berjalan di bagian ke-3, tingkat atas.

Foggy Brancion

Saat masuk ke bagian lodge, disini bisa dilihat berbagai macam lukisan mengenai sejarah Brancion. Karena abad 12 dan 13 pengaruh agama itu sangat kuat (area Saune-et-Loire dibawa pengaruh the order of Cluny), sehingga semuanya wajib ikut perang atas nama agama. Maka, majulah Josseran III dari Brancion tahun 1250 ikut ke Mesir untuk Perang Salib ke-7, La Mansourah. Sayangnya, disana ia wafat sehingga keluarga Brancion kalah. Dalam lukisan diceritakan sebelum berperang, Brancion harus memberikan ‘hadiah’ harta banyak untuk dapat restu selamat dari Cluny demi perang nanti, tapi malah berakhir tragis.

Kejadian itu juga membuat kemunduran dari Brancion. Dari yang tadinya kaya raya (sampai untuk toilet aja ada khusus Tower Lavatory), sampai melarat dan Burgundy duchy diambil alih oleh Raja Prancis. Akhirnya, tahun 1594 setelah perang agama, kastil Brancion ini dibakar (bisa dilihat dari temboknya yang berwarna merah) dan runtuh.

Sudut terakhir

Masih di area Brancion Castle, terdapat Chapel Bracion. Gereja ini terbilang kecil ukurannya dan di interiornya juga biasa saja dekorasinya. Namun, didalam nya ada tomb Duke yang berjasa dalam menyatukan perdamaian antara order Cluny (religious) dan pemerintahan. Selama sekitar 3 abad, order Cluny dalam system religious di Burgundy memang sangat kental. Cluniac order identik dengan baju hitam dan mereka lebih focus ke berdoa saja, tidak seperti order yang berkuasa berikutnya di Burgundy, yaitu order Cistercian (disebut juga White order karena mereka pakai baju putih2) yang juga ahli dalam bidang lain selain agama.

Typical Burgundian House with red autumn leaves..🙂

Objek wisata kedua: Gereja awal period Romanesque

Berhubung memang sedang belajar mengenai jenis – jenis arsitektur di Burgundy dari berbagai period, jadinya si dosennya mampir dulu deh ke gereja kecil ini (lupa namanya) walau sebentar. Apa yang menarik ya? Hmm.. hanya ingin memberi contoh bahwa inilah gereja yang dibuat pada abad ke-10 dengan gaya Romanesque. Apa ciri – ciri bangunan Romanesque? Yang paling jelas adalah temboknya tebal, terlihat padat, pilarnya yang kokoh dan lengkungan di langit – langit nya itu melingkar setengah lingkaran (kalau Gothic, lengkungannya agak lancip di tengah).

Romanesque CHurhc

Objek wisata ketiga: Chateau de Cormatin

Chateau ini dibangun pada tahun 1606 dan bergaya arsitektur Reinassance. Jika dilihat dari luarnya,terlihat lebih ‘berwarna’ lah dibandingkan dengan bangunan bergaya Gothic ataupun Romanesque. Chateau ini merupakan tempat tinggal marquis yang bernama Jean du Ble, setelahnya juga digunakan oleh Louis XIII. Ada fakta menarik mengenai Jean du Ble… Marquis ini menikah saat umur 34 tahun dan istri nya saat itu umur 13 tahun. Heuu… ternyata di Prancis zaman dulu sama juga ya nikahnya pada masih kecil – kecil.

Maka, sang istri lah yang masih belia itu menjadi ‘otak’ dibalik keindahan chateau Cormatin ini, mulai dari memilih pelukis, menentukan tema warna dan dekorasi ruangan, dsb. Waahh, hebat yaah si madam.. tapi sayangnya, 12 tahun setelah itu, Pak Jean du Ble harus tugas militer dan wafat disana sehingga sang istri yang baru berusia 25 tahun tetapi sudah punya anak 4, jadi janda. Sampai akhir hayatnya, ia mengurung diri dalam chapel untuk mendoakan suaminya. Eh, ada yang unik juga lho.. Lukisan – lukisan yang bergambar si Madam yang dilihat sekarang kan tadinya memakai baju merah, tapi setelah suaminya meninggal ternyata semua lukisan si janda tersebut harus dicat ulang warna bajunya jadi hitam. Hiks..hiks..

Mari kita memasuki ruangan dalam chateau ini. Pertama adalah ruangan yang terlihat ‘baru’, tidak terlalu Reinassance sih tapi lebih bergaya klasik kali ya. Hmm… benar – benar cozy dan menginspirasi deh, serasa balik ke zaman – zaman itu. Warna temboknya merah disertai rak – rak buku dan kotak – kotak koleksi awetan kupu – kupu serta serangga yang bergantung di dinding, sofa – sofa empuk, jendela yang menghadap ke taman, setumpuk buku – buku mengenai seni di atas meja, lukisan segede satu sisi dinding yang bergambar wanita – wanita sedang menari di padang ilalang, apalagi ada patung Beethoven (maklum yang beli istana ini sutradara opera dan pasti tergila – gila dengan musik klasik dan kadang suka cari inspirasi disini), aih.. benar – benar cocok untuk menghabiskan 1 hari penuh aja disini leyeh – leyeh!!! Ah, seandainya…😀 . Seandainya nanti di rumah Nyo bisa bikin 1 ruangan cozy kayak gini semacam perpustakaan asik juga ya, dengan gaya semi-klasik…

Ruangan Klasik

Nah, sekarang petualangan ke ruangan – ruangan dimulai. Pertama ke sisi Madam dulu, sebelum masuk ke kamarnya harus ke ruang tunggunya dulu. Beeuuww… seluruh tembok dan langit – langit penuh lukisan. Haiks.. khas Renaissance sekali boo… jadi inget di Firenze, udah mau mabok rasanya liat lukisan – lukisan sepenuh kamar! @__@ . Pas masuk ke kamarnya, lucu juga ya tempat tidur nya imut, dengan detail bunga – bunga di langit – langit, dan lukisan yang mencerminkan kesuburan. Dari kamar Madam ke kamar chit-chat yang lebih kecil, buat ngariung ceunah…ada juga wardrobe pakaian – pakaian-nya dari abad segitu. Wew, ada baju khas royal court, mauuu.. buat manggung😀

Lalu, yang paling asik yah bagian ini nih… pintu dan ruang tersembunyi yang menghubungkan bagian Madam ke Monsieur! Dari ruang tadi, karena seluruh tembok penuh lukisan kita jadi sulit menebak dimana pintu keluarnya. Tapi tiba – tiba ternyata salah satu sisi-nya adalah pintu, waahh… langsung masuk ke ruangan berikutnya. Dari ruangan tersebut yang lagi – lagi berdinding lukisan, ada pintu rahasia lagi, waa… kali ini melewati lorong gelap juga.

Chateau Cormatin di atas air..🙂

Lalu, tibalah kita di Treasure Room. Hooo… serunya, dari gelap tiba – tiba masuk ke ruangan kecil tapi terlihat besar karena di sepanjang sisinya adalah cermin. Di dalamnya ada banyak ‘harta karun’ alias souvenir pemberian dari sahabat marquise yang datang kesini dari penjuru dunia. Pantesan ya, kok aku liat ada cangkang penyu, ikan buntel di awetin, trenggiling awetan, sampai ada TOKEK awetan pula! Hahaha… jangan – jangan itu dari saudagar Indonesia yang dulu datang ke Prancis ya.. (eh, belum merdeka ya waktu itu?).

Treasure Room itu menghantarkan kita ke pintu rahasia selanjutnya. Beuh, gak abis – abis ni main rahasia – rahasia-an nya… Yup, inilah ruang utama Monsieur! Ruangan ini paling heboh karena didekorasi dengan warna biru dan emas yang mengkilap, tujuannya adalah agara saat malam tiba dan gada lampu, Monsieur masih bisa bekerja. Ruangan ini didesain sang istri dengan sangat apik karena bisa member inspirasi bagi suaminya dalam mengambil keputusan pemerintahan, ada lukisan tentang keadilan, kejujuran, dewi Venus, dsb dan yang di tengah adalah lukisan dewi yang bernyanyi dengan partitur musik di tangan. Sebagian dari lukisan – lukisan disini adalah lukisan dari seniman Flanders atau Belanda/Belgia karena emang mereka lagi popular saat itu.

Monsieur Chamber

Bagus juga ya ruangan ini, kemana lagi ya sekarang? Guide langsung menggiring kita ke arah pintu rahasia berikutnya. What?! Masih ada lagi pintu rahasia?! Hwaduh.. cyape deh. Ruangan berikutnya adalah ruangan terakhir yaitu dapur. Gede – gede ya peralatannya, ada alat giling biji kopi tua sampai ada ulekan raksasa. Haa..?? Buat apa? Masa orang Prancis mau ngulek sambel terasi kayak aku juga? Kata guidenya, “Oh, iya mereka harus diulek makannya karena saat itu semua orang gak punya gigi..”

Apaaa…?? Apa gak salah denger nih?

Guide jawab lagi, “Iya, karena saat itu mereka GAK pernah sikat gigi jadinya di usia muda mereka sudah gak punya gigi. Bahkan Louis XIII juga umur 20an udah ompong. Juga, mereka itu GAK pernah mandi!!! Karena saat itu dianggap kalau mandi bisa mengangkat kulit dan menimbulkan bakteri jadi gak ada yang berani mandi. Louis XIII selalu memakai bedak untuk memoles kulit wajahnya, lalu memakai rambut palsu yang keriting2 itu untuk menutupi rambut nya yang mungkin aja penuh kutu2, serta tak pernah lupa pakai parfum…”

Haaa…?? Melongo deh.. hahahaha…. Ampun dah! Kukira pakai rambut khas curly2 ala kerajaan tuh keren, eh ternyata karena berkutu. Now I now, setelah Perang Salib, mereka baru mengenal yang namanya mandi pakai sabun ya… Kebersihan sebagaian dari iman, hehehe…

Jardin et Chateau

Selesai mengitari interior Chateau Cormatin, geng VIBOT langsung bermain – main di taman khas Baroque di bangunan Renaissance ini. Memang sih tamannya gak se-indah taman castle yang di Scotland, tapi it’s typical French Baroque jardin. Ada maze, gazebo dan bagus buat foto – foto karena latarnya adalah castle ini yang mengapung diatas air, ada jembatannya juga. Hmm… nice.. J . Cewek – cewek pada bikin foto loncat dan berhasil dunx!! (setelah semester kemarin cewek2 berpose membuat formasi huruf Vibot di tengah laut Costa Brava, haha..).

Jump!

Objek wisata ke-empat: St. Philbert de Tournus

Kembali ke Tournus, sekarang menuju ke gereja lagi di Saone-et-Loire. Lagi – lagi merupakan gereja dengan gaya arsitektur Romanesque yang dibangun pada awal abad ke-11. Disini kita bisa melihat bagaimana transisi dari kondisi narthex (area sebelum nave) yang gelap ke bagian tengah gereja yang terang. Langit – langitnya mencerminkan gaya Romanesque yang melengkung setengah lingkaran, tapi jika melihat dekorasi kacanya, malah gaya Gothic yang terlihat agak kompleks dengan permainan warna dan pantulan cahaya.

Di bawah tanah terdapat crypt, merupakan makam – makam pendeta, juga ada sumur tua. Agak serem sih pas masuk ke bawah tanah karena gelap dan bau – bau apa..gitu, hiii…. Terus dari bawah tanah, beranjak ke altar lagi. Dari sana terlihat ada Church Organ menggantung, wuiih… keren, jadi inget Eclipse Harmony :p . Tapi masih gak kebayang, itu maenin-nya gimana ya kok di atas begitu? Biasanya bukannya Church Organ di bawah ya? Jangan – jangan yang maen pamvir (*baca dengan gaya sunda*), harus terbang dulu terus main organnya dengan jubah hitam melambai – lambai dan tertawa – tawa misterius, hihihi……

Church Organ

Nah, kita menaiki lagi tangga yang curam dan sempir menuju ke bagian atas gereja. Disinilah jawaban bagaimana memainkan Church Organ menggantung itu: ada pedal guedeee… Hwaah, piye ta? Jadi yang pemainnya katanya sih loncat – loncat untuk menekan pedal organ tersebut. Phew, it must be hard ya.. Area terakhir yang dikunjungi adalah Cloister, atau tempat kayak taman dimana ada sumur: yang melambangkan air à yang berarti melambangkan kehidupan juga, biasa bisa dipakai untuk berdoa.

St.Philbert de Tournus

Akhirnyaaa…. Setelah St.Philbert selesai juga Cultural Trip yang benar – benar kayak belajar sejarah- ini.. pulang – pulang langsung tepar, bobo.. zzZzzZzz… bobo terus mentang – mentang besok udah mulai libur Touissant (pergantian musim) di Prancis.. :p