Wisata Edukasi Burgundy – Part 2

Hari ini VIBOT kembali melakukan wisata edukasi ber-rombongan, hehe, tapi gak jauh – jauh kayak sebelumnya. Tujuannya ke Dijon, ibu kota Burgundy yang juga kaya sejarah. Karena perjalanan menggunakan bus, sepanjang perjalanan melintasi kebun – kebun anggur yang luas. As we know, Burgundy merupakan salah satu region penghasil wine terkenal dari France, selain Bordeaux atau dari desa kecil Champagne.

Sejarahnya, dulu itu bisnis dan pengolahan wine diperkenalkan oleh Romans disini. Penyebaran wine sangat terkait dengan Cistercian monks, yaitu seperti ‘dewan’ keagamaan yang mendominasi Burgundy setelah Cluny. Tau gak, wine Burgundy ini juga disukai banget sama Louis 14 dan Louis 15. Untuk daerah penghasil wine yang kita lewati di Cote d’Or yang terkenal adalah di Cote de Nuits dan Cote de Beaune. Mereka punya semacam Route de Vin dan wine testing, di desa – desa penghasilnya dengan mengikuti tanda panah “Suivez la Grappe” dengan gambar anggur di panahnya. Untuk di Burgundy, anggur yang digunakan untuk wine adalah Pinot Noir (red wine). Selain itu, juga ada Aligote dan Chardonnay (untuk white wine).

Kebun Anggur

Burgundy merupakan tempatnya wine – wine termahal di dunia, misalnya Romanee Conti, dsb, bisa mencapai ribuan euro satu  botol-nya!! Bahkan ada jurusan-nya pula loh di University Burgundy, khusus untuk menjadi ahli dalam pengembangan proses pembuatan wine dan bisnis-nya, namanya jadi ahli ‘vendangeurs’ karena mereka harus mengembakan industri turun – menurun wine keluarganya (sebagian besar itu nama – nama wine khas keluarga). Na’uzubillah min dzalik…. Heuu, serem… L . Males juga nulis beginian, udah ah.. mari kita beranjak ke sisi terang dari Burgundy..😀

Oia, sebelum kita memulai tur di Dijon, ada yang unik nih. Di kota ini, ada ‘petunjuk’ rute bangunan historic. Mau tau apa? Yaitu panah bergambar owl atau burung hantu yang ada nomor-nya. Nomor ini menunjukkan nomor bangunan bersejarah tersebut. Lucu ya, jadi kayak main treasure hunt gitu kalau kita sudah bisa mengunjungi semua bangunan-nya dan menyimpulkan/belajar mengenai sejarah Burgundy.

Tujuan pertama adalah: “Museum des beaux arts de Bourgogne”

Museum ini adalah salah satu museum tertua di Prancis, yang dibangun tak lama setelah Louvre. Disinilah berbagai karya seni terutama lukisan dan hasil pahat dari penjuru region Burgundy dipamerkan.  Seni pahat mulai berkembang lagi di zaman Romanesque setelah sebelumnya dilarang pada period pre-romanesque. Cluny school penting dalam perkembangan seni patung/pahat karena pada akhir abad 11 itu, gereja menjadi pusat kreatif untuk banyak seniman bekerja disana dengan bentuk + detail yang cermat. Gereja – gereja di Vezelay dan Autun merupakan hasil – hasil karyanya. Pusat tertua untuk perpatungan Romanesque adalah di Brionnais. Untuk lukisan, yang mencolok adalah lukisan dengan background biru di Cluny yang dihasilkan dari batu biru, import dari Afganistan. Pokoknya zaman dulu kalau seseorang pake hiasan biru dari Afganistan ini pasti melambangkan kemakmuran dan kekayaan nya deh.

Lalu, pada periode Gothic, Burgundy kembali menunjukkan kekuatannya dalam seni. Pada abad 14, artis – artis banyak berdatangan ke Burgundy, tertutama banyak dari Flemish, seperti Belgia, Luxemburg, Belanda, dsb, karena saat itu wilayah kekuasaan Dukes of Burgundy lebih luas dari sekarang sehingga mencakup juga area – area tersebut. Burgundy merupakan Dukes selama 400 tahun dan mencapai kejayaan nya di masa itu sebagai ‘negara’ terbesar di Eropa J

Senotaf Philip le Hardi

Yang paling mengagumkan dalam museum beaux-arts ini adalah tomb dari Philip le Hardi. Di ruangan tersebut bukan hanya ada tomb dirinya, tapi juga 2 Dukes keturunan-nya, yaitu Philip le Bon dan Charles le Hardi. Philip le Bon ini yang terkenal sebenarnya karena menyebabkan Burgundy bersekutu dengan Inggris. Nah, disanalah JOAN OF ARC yang bikin sensasi itu muncul… hoo… Philip le Bon ini juga memiliki Order of Golden Fleece, kumpulan dari prajurit yang terkuat untuk membela Dukes. Hehe, jadi inget the Order of Dumbeldore. Uniknya, order of Golden Fleece ini terinspirasi dari mitologi Yunani mengenai fleece (bulu domba) emas. Di masa itu, Philip le Bon juga ditawarkan untuk menjadi anggota Order de Grater punya-nya Inggris, tapi menolak biar gak dianggap melawan raja Prancis.

Nah, apa yang special dari senotaf (seperti memorian tomb, di dalamnya sebenarnya gak ada isi-nya( Philip le Hardi ini? Kalau dilihat yang menjadi karya ‘baru’ saat itu adalah gaun yang dipakainya dipahat secara mendetail dan sangat menyerupai kain. Lalu, di bawahnya, yang menopang ada pahatan banyak warga – warga yang digambarkan sedang moaning terhadap kematian Dukes, tapi uniknya dengan ekspresi yang berbeda – beda dan sangat mendetail sampai ke lipatan baju atau tudung kepala atau mimik. Sekarang patung – patung kecil ini yang ada di senotaf Philip le Bon sedang di US untuk dipamerkan karena ruangan ini di museum Beaux-Art akan direnovasi sebentar lagi selama 2 tahun. Wah.. lamanyo..

Copy Masterpiece

Lukisan – lukisan pada abad 16 dan 17 memiliki pengaruh juga dari Italie. Di museum itu, ada satu ruangan yang isi-nya karya murid – murid sekolah seni Dijon yang karena sudah dibiayai untuk belajar ke Itali, mereka harus ‘membayar’ balik ke pemerintah dengan cara me-copy karya masterpiece yang ada di Itali. Salah satunya mungkin seperti lukisan di langit – langit (tapi figure-nya diganti, bukan paus tapi dengan figure – figure ternama di Burgundy) atau ada juga patung copy Gladiator. Hmm…

Notre-dame de Dijon dibuat pada abad ke-13. Gereja Gothic ini memiliki banyak Gargoyles di exteriornya dan jam besar di salah satu puncak-nya yang memiliki cerita unik. Ada juga mitos lain, di salah satu sisi dinding ini terdapat pahatan berbentu burung hantu, yang katanya harus di usap dengan tangan kiri kalau mau lucky dan kembali ke Dijon. Haha… aneh – aneh aja, kok mirip yah kayak di Girona dulu, tapi bedanya kalo disana harus nyium pantat si patung anjing penjaga dulu jika mau masuk kota Girona.

Notre Dame de Dijon

Tak jauh dari sana, terdapat rumah tertua (dated old house) di Burgundy. Lalu, didekatnya juga ada Hotel de Vogue yang berarsitektur khas Reinassance, dengan banyak motif floral di gate dan pilarnya. Apa yang unik? Yang unik adalah atap-nya, warna – warni dengan pola warna kuning – hitam – merah, dan gak ada lagi yang mau buat kayak gini di zaman sekarang karena berat materialnya dan repot. Atap semacam ini juga bisa ditemui di Beaunne, yang menurutku sih cukup cantik.

NotreDame + Hotel de Vogue

Atp khas

Tujuan terakhir adalah Musée d’Art Sacré dan Museum Bourguinonne atau museum tentang orang – orang Burgundy. Heuu, agak males sih sebenarnya.. tapi ada yang penting nih, ternyata orang – orang Burgundy menyumbangkan yang penting bagi Prancis. Contohnya saja, Gustav Eiffel yang desain menara Eiffel itu dari Dijon, lalu Francois Rude yang membuat pahatan Arc-de-Triomphe di Paris juga dari Burgundy. Jadi, banyak seniman juga ya disini.

Musee de Sacre

Apa lagi yang special dari Dijon? Yup, moutard de Dijon atau mustard-nya Dijon itu khas! Karena dibuat dari bahan yang berbeda – beda sehingga warna dan rasanya juga berbeda – beda. Eh, tapi hati – hati ya, ternyata saat tanya dibuat apa, mereka memakai cuka juga. Nah, bedanya disini cuka-nya dibuatnya dari wine atau disebut vinegar d’alcool. Selain moutard, yang terkenal juga Macaron! Kemarin juga ke toko khusus Macaron yang terkenal. Macaron ini dibuatnya dari tepung almond dan manis – manis gitu, hmmm…

Port de Guillaume

Wisata edukasi hari ini rasanya lebih banyak shopping-nya dibanding tur belajar-nya (walaupun aku gak beli apa – apa sih), tapi terasa cyape karena jalan terus sepanjang hari. Tidak terlalu se-seru wisata edukasi yang pertama sih kali ini, karena lebih banyak ke museum (agak malas..), tapi yah at least kita bisa tahu sesuatu tentang tradisi Burgundy dan sejarah di kota Dijon (yang insya Allah akan menjadi kota nomaden terakhir ku di program vibot ini..). Tur berakhir di depan gate kota Dijon, yaitu Porte de Guillame, hoahm…-___-