Wisata Budaya ke Cluny

Sabtu, 5 Maret 2011

Di Sabtu yang cerah peralihan dari musim dingin ini, warga Dijon akan berkunjung ke tempat satu sahabat di Cluny. Wah, Cluny.. sepertinya familiar dengan kata ini? Haha, so pasti ‘ngeh’ jika kalian ikut kelas Local Culture Vibot semester kemarin, karena dosennya dikit – dikit ngomong CLUNY! Apalagi ditambah pas ujian akhir disuruh menceritakan sejarahnya saat masa kegemilangan Cluny di Bourgogne. D’oh, ceritanya nanti aja ya sambil jalan.. xD

Perjalanan ke Cluny dari Dijon lumayan lama, karena gak ada transport yang langsung sehingga harus naik kereta dulu ke Chalon sur Saone lalu dari sana naik bus ke Cluny, totalnya sekitar 2.5 jam an deh. Di Chalon kita berhenti sebentar jalan – jalan di sekitar kota. Kota ini tidak terlalu besar tapi memiliki sungai yang membelah tengah kota (sur Saone istilahnya), kayaknya sih cumin ada ini yang bisa dilihat, hehe…

Sampai di Cluny, langsung menuju Abbaye (atau Abbey dalam bahasa Inggris, kalo bahasa Indonesia nya gak tau.. =__=). Ternyata Abbaye ini dikunci dan tertutup untuk turis, gak bisa sembarangan masuk karena merupakan universitas juga. Untung saja kita bersama mahasiswa di Abbaye de Cluny, jadinya kita bisa masuk deh. Unik ya, tempat bersejarah tapi juga tempat kuliah, hmm…

Cluny --> sisi kampus

Sebelum kita masuk lebih jauh, mari kita flash-back dulu tentang Cluny…tapi maaf ini hanya berdasarkan ingatan yang saya mudah lupa pelajari semester lalu (karena kertas2-nya udah gak tau kemana dan malas nyari-nyari lagi). Kota Cluny dulu pada abad 11 merupakan monastery paling berpengaruh di Eropa (pengaruhnya sampai seluas itu). Cluny’s Abbey merupakan Benedectine abbey dan mengalami masa kejayaan-nya pada abad 12.

Kok bisa? Pertama, monastery Cluny ini sangat kayak arena banyak donator yang memberi ke Abbey atau membayar abbot untuk mendoakan para Dukes ini. Nah, mulailah monastery Cluny membeli banyak tanah dan komoditi sehingga bertambah kekayaan-nya. Kedua, pengaruh agama sangat kuat, bahkan para monk-nya setiap hari strict berdoa tanpa lelah dalam Abbaye. Ketiga, mereka bisa membuat Abbaye de Cluny yang sangaaaattt…. Luas!!

Nah, Abbaye de Cluny ini merupakan karya arsitektur gaya Romanesque dan sangatlah luas aslinya. Sekarang, yang tinggal hanya sisa 1/5 bagiannya. Semua itu dihancurkan pada abad revolusi… Dulu di kelas sempat nonton video-nya, UNESCO sedang melakukan renovasi dan rekonstruksi ulang Abbaye de Cluny ini. Namun, tetap saja itu terlihat tidak mungkin karena terpentok urusan biaya.  Maka, sekarang ilmuwan dari disiplin ilmu menerapakn ‘virtual reality’ di Abbaye de Cluny, berupa layar computer yang bisa diputar 360 derajat, naik, turun, ke segala arah dan yang ditampilkan adalah gambaran rekonstruksi virtual dari view objek di Abbaye de Cluny yang kita arahkan. Jadi kita bisa tahu kira – kira dulu itu situs yang sedang kita lihat sekarang, dulu itu seperti apa sih? Menarik..😀

Virtual Reality Cluny

Memasuki ke dalam campus-nya, langsung kaget dan merinding… hwaaah… ini mah kayak tempat sekolahan Harry Potter!! Mistis – mistis gitu di dalamnya, ada lorong – lorong panjang disertai pintu – pint dan ruangan yang masih tampak seperti aslinya (abad 11). Kayak Lawang Sewu katanya… Belum lagi ditambah dengan lampu gantung besi bertipe gothic. Jangan salah masuk pintu, karena walaupun dalam 1 gedung, ada sisi untuk ruang kuliah dan lab/ruang kerja peneliti/dosen, masih dalam area yang sama adalah dormitory mahasiswa nya. Walah, enak banget ini mah kalau ada kelas tinggal nyebrang, 5 langah nyampe.. (ato gak enak yah, jadi gak bisa ngabur, huhu..).

Kita makan siang dalam ruang kerja-nya, hihi, jangan salah ya… tampak luar boleh kuno dan antic, tapi saat buka pintu, langsung dah isi-nya komputer-komputer canggih dan alat – alat modern lain. Haha, kontras… Berbagai disiplin ilmu berkolaborasi untuk mengerjakan projek di Cluny ini, mulai dari arsitek-IT-historian, karena memang saling mendukung yah. Disini ini untuk sekolahnya cuma ada jurusan arsitektur, konon termasuk yang terkenal susah masuknya di Prancis.

Picnic inside the office :p

Dari situ kita lantas menyusuri Abbaye dan museum-nya, lalu keliling kota Cluny yang habis diputeri dalam waktu 2 jam.. =___= . Ngapain lagi yah sekarang?? :p . Nyo lihat banyak mahasiswa di Cluny ini melintas dengan jubah aneh, apakah itu gerangan? Usut punya usut, ternyata itu jubah khusus mahasiswa S1.. Kalau dia tingkat 1, cuma sependek jas biasa. Kalau sudah tingkat 2, kira – kira panjangnya sepaha lah. Kalau tingkat terakhir, melebih dengkul lah panjang nya! Wah, kalau mahasiswa yang gak lulus – lulus ampe 10 tahun kira – kira sepanjang apa ya? Udah kaya raja kali jubahnya menjuntai mengepel lantai, hoho… Kreatif-nya, di jubah tersebut tertanda cap/logo/gambar dari projek – projek akademis yang mereka sudah mereka kerjakan. Kebayang dong kalau mahasiswa tingkat akhir udah se-rame apa motif jubahnya. Waw, nice idea untuk memotivasi mahasiswa untuk cepet lulus dengan karya yang banyak… ^_^

Abbaye de Cluny from the top.. (my fave view)

Sebelum kita meninggalkan kota Cluny, kita tutup dengan cerita mengenai keruntuhan Clunny. Monastery Clunny dikenal dengan Black Order karena para monks nya selalu menggunakan jubah hitam – hitam (pantesan kayak lebih seram). Pada abad 13, Black Order mulai tergeser oleh Cistercian… Jika Clunny terlalu strict dalam beragama dan konsen pada hanya berdoa tanpa mementingkan sisi ke-ilmu-an, Cistercian lebih menerapkan ilmu, misal dalam irigasi, dsb. Pelan – pelan monastery Clunny mulai jatuh dan hancur.

Cluny from the top

Hmm… sekarang bagaimana kondisi di France? Heterogen sepertinya.. Saya jadi shock mengingat banyak yang tidak menikah tapi tinggal bersama disini (kalau bukan orang yang tidak biasa saya temui mungkin saya gak akan shock, tapi ini yang hampir tiap hari bertemu dan sebelumnya saya segani). Mengapa? Karena ternyata katanya sih tunjangan-nya lebih besar jika ber-status sendiri – sendiri dibandingkan menikah (soalnya yang istri dan anak – anak pasti jadi tanggungan bapaknya). Susah juga sih ya, disini kayaknya serba dihitung, semuanya demi kepentingan hak dan keuntungan pribadi. Sudah gitu, pas ‘copaine (temen tinggal bersama)’nya melahirkan malah pada ngasi selamat dengan suka cita ke ‘ayah’-nya (yang padahal gak wajib menanggung si perempuan dan anak-nya karena tidak terdaftar sebagai menikah). Weh, terang – terangan.. Na’udzubillah min dzalik.. Mungkin mereka lebih berprinsip untung/rugi penerimaan hak/tunjangan ya. tapi ada yang lebih agak benar lah yang lain nih, menikah di gereja tapi gak mendaftar ke pemerintah karena takut hak – hak nya berkurang. Hmm… no comment deh.. puyeng..  @_@  . Tapi itu hanya sebagian, banyak juga kok yang hidup normal aman sentosa dengan menikah dan banyak anak secara resmi.. J . Karena katanya kalau seorang ibu punya anak juga ada cuti melahirkan 3 tahun (bisa ayah atau ibunya, salah satu)!! Yey..! (Ini mungkin juga salah satu cara pemerintah untuk mendorong warganya biar menikah dan punya anak agar lebih bertanggung jawab, hoho..).

Sekian wisata budaya ke Cluny hari ini.. bon week-end!😀