Silaturahmi PPI Bourgogne

Sabtu pagi ini ada perkumpulan PPI Bourgogne dengan DuBes RI untuk Prancis yang baru. Beliau menyempatkan datang kesini loh berhubung katanya sih memang daerah Bourgogne terpencil kali ya jadinya jarang dikunjungi :p (padahal kan yang menghubungan Paris – Lyon). Pertemuan bertempat di La Cloche, Hotel Sofitel Dijon pada saat makan siang. Humm… pasti yummy..😀

Ternyata sudah banyak anggota PPI dan keluarga Franco-Indonesia (campuran) yang hadir. Wah, banyak keluarga Franco-Indonesia dari luar kota Dijon yang baru saya kenal saat itu. Lucu – lucu sekali dan pasti lebih cantik/ganteng ya kalo anak – anak hasil campuran Asia – bule Eropa itu, nyehehe…. Gemes jadinya!! :p . Tapi walaupun begitu say amah cinta produk dalam negeri dah…

@ Sofitel

Setelah beberapa sambutan dari ketua PPI dan DuBes, dibukalah jamuan makan siang ala Bourgogne kali ini. Entrée-nya Mosaique de Legumes yang seperti cetakan agar – agar sayuran, disertai saus tomat encer, dan tantu saja roti kampong yang crispy. Lalu, untuk main-nya adalah ikan (rebus?), mashed potato dan saos khas Bourgogne. Dessert-nya paling yummy deh, es krim lemon, pudding caramel dan framboises. Tentu saja kalau di France terakhir adalah kopi (yang beneran dah super pahit banget, gak sanggup dah cumin nyoba 2 sendok udah gak kuat), disertai cemilan cookies home-made dan kue khas Bourgogne (yang menurut ku sih beneran kayak pisang goreng tapi lebih bagus dicetak bentuknya).

Entree - Legumes

Dessert

 

 

 

 

 

 

 

 

Ngobrol – ngobrol nya juga asik karena DuBes barunya orangnya luwes dan santai, jadinya suasana juga gak kaku. Oia, baru tau kalau KBRI di Paris tuh termasuk gedung ambassade yang paling luas loh dan di kawasan super elit tingkat tinggi(tingkat dunia kali) yang dibeli oleh Indonesia, wah.. hebat ya. Ternyata juga KBRI di Paris termasuk tipe 1, maksudnya yang luasnya itu paling besar. Selain di Paris, yang tipe 1 adalah KBRI di London, New York dan Den Haag. Hmm… ini bukan berdasarkan jumlah banyaknya orang Indonesia di Negara itu loh, tapi berdasarkan hubungan bilateral ke Negara tersebut.

Round table @ La Cloche

Misalnya saja, walaupun jumlah warga Indonesia di Paris sama dengan di Swiss, tapi di Swiss hanya tipe 3. Begitu juga di Jerman yang merupakan Negara Eropa dengan jumlah warga Indonesia paling banyak (kedua baru Belanda ternyata). Hoo…  Fakta yang lucu lagi, tiap tahunnya ada sekitar (kalau gak salah ingat) 150.000 turis Prancis yang datang ke Indonesia. TAPI, turis Indonesia itu malah hampir 2x lipatnya yang datang ke Paris. Wah, benar – benar fakta yang mengejutkan… orang Indonesia memang lebih kaya, lagi – lagi terbukti!😀

Untuk misi kebudayaan, bukan hanya mahasiswa Indonesia loh yang mau belajar ke Prancis. KBRI juga membuka program baru, yaitu misi beasiswa kebudayaan. Bagi orang Prancis yang mau belajar bahasa dan terutama budaya Indoneisa, ada program selama 1 tahun (atau ada juga yang 6 bulan ya? Lupa saya, infonya ada di http://www.amb-indonesie.fr/images/stories/APC_DS.pdf). Selama itu mereka bisa belajar di pilihan beberapa institute seperti ISI Solo/Jogja/Bali, mengenai budaya Indonesia. Wah, seru bukan?😀

PPI Bourgogne + pak DuBes

Semoga juga Indonesia bisa lebih mengembangkan produk – produk karya seni dan kerajinan-nya yang unik dan antic di Prancis. Banyak pameran disini (contohnya seperti Foire de Dijon, yang tiap tahun pasti selalu mengusung tema dari Negara yang berbeda à sayangnya Indonesia belum pernah ikut menjajakan makanan ataupun produk kerajinannya) yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang promosi produk khas Indonesia. Ayo ayo.. jangan mau kalah sama Negara lain (misal para etnik Afrika yang sudah mulai membuka toko baju – baju etnik khas mereka di beberapa kota Prancis… bahkan orang – orang Nepal itu jualin produk – produk dari Bali di pameran disini tapi bilangnya dari Negara mereka, hiks..) dalam memasarkan karya anak bangsa di kancah internasional!!🙂

Sekian..