Begin: Paris – Amsterdam

Jumat, 15 April 2011

Kita memulai trip liburan musim semi dari Dijon – Paris pagi – pagi naik TGV. Di Paris, sambil menunggu Thalys ke Amsterdam jam 14.25, mending kita keliling untung mengujungi ke objek – objek yang belum sempat dilihat selama ini. Tujuan pertama adalah Masjid besar Paris, dari dulu belum pernah kesini karena memang letaknya agak susah dicari yah, hehe… Wah, ternyata besar ya dan gaya arsitekturnya mungkin mirip kayak model – model masjid yang di Spanyol (ala Alhambra dengan menara masjid ala Maroko/La Giralda Sevilla). Di tengah – tengahnya ada air mancur dikelilingi dengan taman – taman. Tapi saying gak bisa masuk ke dalam masjidnya berhubung hari Jumat jadi sedang disiap – siapkan untuk sholat Jumat. Soal tempat wudhu, ternyata model Arab mungkin yah yang tempat wudhu nya duduk.

Grand Mosque Paris

Dari masjid besar beranjak ke Place de la Sorbonne. Penasaran aja sih bagaimana sih rupanya kampus tertua di dunia yang juga merupakan sekolahnya si Ikal ‘Laskar Pelangi’, hihi… tapi yang jadi tujuan utama tentu saja di Pantheon-nya. Campus Sorbonne ini dibangun pada abad 12 dan katany fakultas pertama yang ada adalah de droit atau fakultas hukum. Memang kebanyakan jurusan – jurusan yang ada di La Sorbonne ini ilmu social yah. Sedangkan Pantheon-nya sendiri adalah bagian dari universitas Paris 1.  Awalnya dibangun sebagai gereja tapi sekarang sudah tidak digunakan, lebih sebagai objek wisata dan bisa masuk ke dalamnya (bayar tapi). Tak jauh dari sana ada dinding yang berpahatkan nama – nama ilmuwan Prancis dari zaman dulu, ada Fourier, J.J.Rosseau, dsb.

Pantheon Sorbonne

Untuk menuju Gare du nord, kami harus bertolak dr stasiun St. Michel naik RER-nya. Saat melewati St. Michel, tak jauh dari sana ternyata adalah katedral Notre Dame. Walaupun dulu sudah pernah kesini (tapi cuma dari atas bus), jadinya mending kita stop dulu untuk foto – foto disini atau sekedar member makan merpati – merpati yang banyak berkeliaran di depannya. Ternyata tetap ramai dan saya udah kayak turis nyasar sambil geret – geret koper disana.

Jika melintasi depan Notre Dame dan mendengar lonceng-nya berbunyi, selalu aja yang aku kebayang si Hunchback of Notre-dame. Pantesan aja di film-nya itu ada wanita gypsy, ternyata memang area ini dekat dengat Quarter Latin-nya Paris, hooo… Di depan Notre Dame ini ada Point Zero. Banyak orang pada berebut untuk menginjak symbol ini, karena konon jika ia menginjak-nya bakal balik lagi ke situ. Nyaahh… banyak banget yah tempat – tempat di Eropa dengan mitos seperti ini.

Turis dpn Notre Dame

Saatnya untuk berangkat ke Gare du Nord. Tak terasa sudah waktunya makan siang dulu jadi mending cari restoran buat makan siang sebelum Thalys melaju. Gare du Nord memang jauh lebih ramai dan sibuk disbanding Gare de Lyon, karena ini merupakan portal untuk masuk ke Paris dari Inggris (EuroStar), Negara – Negara Eropa utara (Benelux, dsb), dan juga dari Afrika, makanya banyak orang kulit hitam juga disini. Sedangkan kalau di Gare de Lyon lebih untuk ke daerah – daerah Prancis lain (local/non-international).

Akhirnya berangkat juga deh.. Tapi BT juga yah di Thalys 3.5 jam an perjalanan ke Asmterdam. Untung sebelumnya udah beli buku TTS (tapi bahasa Prancis, hix.. lumayan nambah kosakata) dan majalah resep – resep masakan (walaupun gak ngerti isi bacaannya, yang penting kan gambar makanan-nya bisa dipandangi :p). Thalys tiba di Amsterdam Centraal Station hampir pukul 6 sore.

Untuk transportasi, kita langsung beli OV-Chipkart untuk turis yang 72 jam di kantor GVB disana. Setelah dihitung – hitung kalau emang banyak mondar – mandir pake tram, bus, metro ya mending beli yang tipe ini, karena untuk harga satuannya yang Single dan hanya bisa dipake dalam waktu 1 jam itu 2.6 EUR, sedangkan ini 15 EUR bisa untuk 72 jam, lumayan kan… J . Pilihannya ada juga yang 24, 48 (11.5 EUR) dan 96 jam (khusus buat turis à tapi ini gak bisa dipake buat kereta NS keluar Asmterdam atau bus di Waterland, kalau yang OV-Chipkart permanen katanya bisa).

Sampai di Amsterdam Centraal Station jadi nostalgia…Haa…. Jadi ingat Sept 2009 saat pertama kali kesini, nginep di hotel persis seberang station jadinya paling sering ke station. Nyo suka deh stasiun Amsterdam ini emang beda daripada yang lain karena desainnya yang unik dan klasik. Dari sana langsung deh menuju hotel kita di Jordaan area, kawasan yang katanya sih ‘Amsterdam banget’ karena masih asri dan kanal – kanalnya lebih mungil. Tenang deh rasanya di kawasan ini, cocok untuk istirahat. Apalagi pemandangannya yang kayak lukisan..🙂

Hotel di area Jordaan District

Setelah melepas lelah sejenak, langsung pergi lagi untuk sekedar jalan – jalan ke area Damrak. Wah, ternyata Royal Palace-nya sudah bisa dibuka lagi, dulu pas kesini kan masih direnovasi dan Dam square nya ditutup. Jadi sekarang bisa deh foto – foto depan Madame Tussaud, area Dam, monument dan Royal Palace-nya. Ramai yah jam segini, banyak juga musisi jalanan yang ok perform disitu..🙂

Berjalan terus menyusuri Dam square, akhirnya ketemu Canal Cruise yang lumayan murah dibandingkan yang lain (8 EUR). Jadilah kita ber-Canal Cruise pada malam hari.. Kalau dulu Canal Cruise pas pagi – pagi, ternyata beda ya suasana-nya sekarang. Kalau malam, lebih ‘elegan’ Amsterdam-nya karena ada lampu – lampu di jembatan atas kanal dan juga dari rumah – rumah khas Baroque-Flanders nya. Cantik…  Canal Cruise ini durasinya sekitar 1.5 jam, dengan guided audio dan melewati kapal Nemo + semua kanal – kanal penting di Amsterdam.

Canal Cruise

Sayangnya perut udah gak bisa kompromi karena kelaperan, jadi setelah Canal Cruise langsung mencari restoran deh. Niatnya pengen ke restaurant Indonesia, katanya banyak di Amsterdam, tapi ya kok sama sekali GAK ketemu tuh dari tadi udah keliling – keliling. Huhuhu……… ya ujung – ujungnya ya di resto Kebab lagi. Dan lucunya yah… ini di restoran yang dulu aku makan buka puasa pas tahun 2009! Wah, benar – benar gak disangka, kok bisa balik lagi kesana ya…  :p