Live dari ruang MRI

Kamis, 21 April 2011

Walaupun masih agak flu gara – gara liburan kemarin dan hawa – hawa liburan masih berhembus (sepi banget di lab karena kampus kan emang libur dari tanggl 16 April – 1 Mei), tapi mari kita tetap ber-tesis. Apalagi hari ini katanya pembimbingku mau ngajak ke ruang MRI di RS-nya. Tugas tesis-ku kan emang membuat aplikasi untuk deteksi myocardial infarction, sehingga bisa diketahui bagaimana sih fungsi otot jantung setelah terkena serangan jantung. Citra medis yang diolah dari Cardiac MRI 3 Tesla  ini..

Dari fakultas kedokteran, kita berangkat jalan ke Rumah Sakit yang ternyata Cuma di belakangnya toh.. haha, selama ini gak nyadar kalau segitu dekatnya. Berhubung pembimbingku udah telat, jadi lewat jalan privat deh melalui lorong – lorong bawah tanah yang panjang dan agak creepy, heuu… Tapi akhirnya sampai juga di departemen radiologi, dimana ruang MRI juga bersanding dengan ruangan kedokteran nuklir, seperti PET, SPECT, dsb.

Sampai disana lagi ada tindakan untuk pasien yang memiliki kelainan jantung. Aneh sekali, masa jaringan jantungnya gak compact, tapi serabut – serabut jaringannya seperti terpencar. Hmm… aku sih lebih memelototi layar monitor gambar nya sih. Sementara itu si operator terus memerintahkan pasien untuk, “Tahan napas… dan yak boleh napas kembali, “ pake bahas Prancis tentunya, nyehh.. Kenapa harus tahan napas? Karena jika pasien bernapas, akan ada banyak artifak atau noise dari pergerakan diafragma itu dan citra yang dihasilkan gak bagus.

Nah, di tengah – tengah itu tiba – tiba di citra nya juga ada noise lain yang terlihat sangat menghancurkan gambar karena seperti turbulen hitam. Ini merupakan noise yang dihasilkan karena ketidak-homogen-an medan magnet MRI. Untuk MRI dengan medan magnet yang lebih rendah noise ini tidak terlalu menggangu, tapi semakin tinggi medan magent nya (seperti 3T ini) maka walaupun resolusinya lebih tinggi tapi kemungkinan terjadi noise seperti itu juga besar. Maka, salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan teknik ‘shim’ atau memilih dahulu area ROI bagian anatomi yang diinginkan sehingga medan magnet-nya akan menyesuaikan biar homogeny di area itu dan bagus citranya.

Pasien berikutnya adalah pasien dengan protocol Biocard, salah satu protocol yang aku tangani. Di protocol ini pasien harus menjalani beberapa tipe akuisisi, seperti scout, perfusion, cine (untuk melihat fungsi jantung, terlihat seperti video di tiap cardiac cycle), lalu first pass dan late enhancement. Nah, yang terakhir ini adalah tipe yang paling cocok untuk menganalisa viability otot jantung.

Nyo sempat kaget loh pas First Pass itu kan pasien di injeksi kan cairan kontras berupa bolus Gadolinium, tapi ternyata nyuntiknya bisa dari ruang operator loh…😀 . Setelah 12 menit baru diambil lagi gambar untuk tipe Late Enhancement. Ntar deh kapan – kapan Nyo nulis soal Tesis tentang ini.. hehehe… Tapi emang ya kalo disini itu dalam ruang MRI harus selalu ada operator (pasti lah), suster, dokter, physician (kayak pembimbing ku ini, pokoknya yang ngurus – ngurus hal teknis), dan cardiologist di tempat pas pemeriksaan. Jadi semuanya udah siap akan semua kemungkinan yang terjadi…😀

Begitulah.. jadi inget masa – masa KP dulu, jadi berurusan lagi nih dengan MRI, hehe…