Escape to Paris: Chateau de Versailles

Sabtu, 23 April 2011

Pagi ini dari Dijon, Nyo berangkat ke Paris naik TGV (return ticket bagi pemegang kartu 12 – 25 tahun 59 EUR) untuk menghabiskan liburan Easter week-end ini dengan my best pren yang udah lama gak ketemu semenjak lulus kuliah, CaCa Marica, hehehe… Akhirnya tiba juga di Gare de Lyon dan dari sana kita langsung naik RER C ke Versailles. Surprisingly –  karena emang tiap ke Paris aku bareng ortu terus dan otomatis kalo gak naik taxi ya naik bus tour – pas aku naik kereta ini eh ternyata ada pengamen juga toh di dalam RER nya😀 . Hoho, asik juga pengamennya walaupun sepertinya imigran dan agak seram tapi formasi-nya band, lengkap dengan akordeon membawakan musik khas Parisien. Yep, setidaknya kalo mau ngamen di Eropa nampaknya butuh modal yang cukup gede yah, gak cuma modal tepuk tangan atau kaleng rombeng, hihi…

Sampai di Versailles, berjalan menuju gerbangnya bareng dengan orang yang berbondong – bonding. Tapi kami membeli tiket masuk dulu di agen tourist (sebelum masuk ke area Chateau de Versailles)yang tipe lengkap ‘Passport’ untuk akses kastil, jardin, musical fountain dan juga Trianon serta tempat Marie Antoinnete, seharga 25 EUR.  Kami cukup lega karena setelah berjalan ke depan melihat antrian pembelian tiket di tempat sangatlah panjang. Tapi ternyata walaupun kita sudah punya tiket di tangan tetap saja untuk masuk ke kastil-nya harus antre dan sangat buat SHOCK antreannya!!!

Gyaaaa…. Udah gak tau ujungnya dimana, kayaknya lebih parah dari pas antri bus ke Keukenhof di Schipol waktu itu deh. Katanya orang – orang sih ini antreannya bakal 4 jam-an gitu. Hadoh, padahal kita udah jam 9 lho kesini, wah mereka pada udah antre dari jam berapa ya? Sebenarnya BISA sih akses ke jardin dulu baru masuk ke kastil-nya, tapi masalah-nya Nyo mau nitipin backpack Nyo dulu dan harus melewati antrean ini untuk masuk kesana dan sekalian ke kastil. Dan juga kayaknya sih worthed it deh kalau lihat dalamnya chateau dulu disbanding ke tamannya dulu. Jadi, kita menjalani antrean yang mengular muter – muter itu, sambil dinikmati..😀

Gerbang Emas Versailles

Setelah udah lemas dan kelaperan pula, akhirnya kita baru bisa masuk ke Chateau jam 1 siang! Haaa….. oia, info buat pelajar di Eropa juga ada tiket gratis yah masuk kesini jadi gak perlu bayar full, jangan lupa bawa ID-nya. Nah, sekarang saatnya kita menjelajahi apartemen di kastil ini. Jadi, sejarahanya tuh pada tahun 1661, Louis XIV mentransformasi kastil yang sebelumnya dibangun oleh Louis XIII ini dengan melibatkan 2 arsitek: Louis le Vaud dan Jules Hardouin-Mansart.

Pada 17 Agustus, 1661 pengawas keuangan Perancis, Nicolas Fouquet, memimpin perayaan besar untuk menghormati Louis XIV. Perayaan berlangsung di château Fouquet megah yang baru saja selesai, Vaux-le-Vicomte. Ketika Louis melihat istana ini dia sangat marah karena salah satu menteri kok punya istana yang bagus, sementara dia tidak! Karena iri dan kesal, Fouquet malah dilemparkan ke dalam penjara. Lalu, Louis XIV mempekerjakan orang-orang yang telah membangun istana tsb untuk melakukan hal yang sama untuknya di Versailles.

Chateau de Versailles

Dulu, saat Louis XIII, Versailles hanya merupakan pondok berburu. Struktur kecil ini menjadi dasar untuk bangunan paling mahal dan mewah di dunia. Sekitar 15.000 hektar lahan yang dibersihkan untuk membuat ruang untuk pohon – pohon hias, maze dan ribuan tanaman berbunga. Di bagian tengah ada Grand Canal berbentuk salib sepanjang 1.588 meter dan lebar 61 meter. Juga, ada 1.400 air mancur dan 400 buah patung baru dibuat.

Pembangunan ini masih terus berjalan sampai setelah Louis XIV wafat dan baru selesai pada abad 18, dengan apartemen baru yang dibuat pada masa Louis XV dan XVI. Pada 6 Oktober 1789, monarki meninggalkan istana Versailles ini setelah Revolusi Prancis. Pada tahun 1837, raja Louis-Philippe membuka museum di dalam istana ini untuk umum.

Pemandangan taman dari dalam istana

Hmmm… jadi ingat waktu tugas akhir semester kemarin kan membahas tentang perkembangan musik Baroque pada zaman Louis XIV, saat ia juga membangun istana ini. Mungkin karena saya datang pas liburan Easter jadinya super sesak didalamnya juga. Apalagi saat masuk ke bagian utamanya, yaitu State Apartement. Kami melalui mulai dari King’s state apartement, queen’s apartement, tempat menerima tamu, belajarnya raja, dsb. Yang paling ditunggu – tunggu dan mewah adalah tentu saja ‘The Hall of Mirror’!! Yep, ruangan sepanjang 73 meter ini sangat menawan, apalagi kalau memandang keluar ada pemandangan taman yang sangat indah, waahh.. enaknya jadi raja!

Hall of Mirror

Hall of Mirror ini dibuat oleh arsitek Juler Hardouin Mansart dan pelukis Charles le Brun pada tahun 1678 – 1686. Mengapa harus penuh kaca? Katanya sih zaman dulu untuk mengolah kaca membutuhkan teknik yang tinggi. Oleh karena itu, adanya Hall of Mirror ini membuktikan bahwa Prancis saat itu memang handal dari sisi teknik maupun seni, sehingga para utusan Negara yang datang kesini langsung terkesima dan (diharapkan oleh Raja untuk) iri, mengakui kehebatannya.

Lukisan di langit – langit menggambarkan kehidupan Louis XIV, mulai dari awal kekuasaannya tahun 1661, sampai deklarasi Nijmegen tahun 1678. Saat itu, Raja tiap hari selalu melewati Hall of Mirror ini jika berjalan ke Chapel. Ruang ini juga merupakan jalan akses antara King’s dan Queen’s apartement. Biasanya, Hall of Mirror digunakan untuk resepsi, royal wedding, dan acara duta besar (zaman dulu).

Menyusuri taman menuju Grand Canal

Setelah selesai mengunjungi semua sudut istana, maka kita keluar beralih ke taman, sekalian cari WC dan makan siang, krucuuk..krucuk… Yep, taman Versailles memang sangat indah dan looooassss…. Sekali!!! Bagaimana sih sejarahnya? Jadi, jardin ini dibangun oleh André Le Notre, arsitek lansekap, mulai tahun 1661. Model jardin de Versailles ini terdiri dari rerumputan, pohon – pohon hias yang rapi tertata, juga patung – patung dan air mancur, dengan khas ala taman Francaise. Kalau dilihat dari atas, semua tampak simeteris sisi kanan dan kiri, mulai dari kolam dan juga susunan tamannya, super indaaaahhhh…………….!!!

depan basin d'Apollo

Yang paling mengesankan saat berjalan ke arah Grand Canal, waaahhh……. Megah sekali tatanan tamannya dan saat itu ada musical Jardin. Jadi, selagi kita berjalan menyusuri taman, lagu – lagu orchestra Baroque karya Jean Baptiste Lully maupun Jean-Philippe Rameau terus mengalun. Aih, serasa terbawa ke zaman Louis XIV… J . Apalagi air mancur dekat Grand Canal: Bassin d’Apollon sangat artistic dan klasik lah…😀

Sampai di Grand Canal, banyak orang yang leyeh – leyeh di rerumputan dan juga banyak yang mendayung perahu sepanjang canal. Waahh… jadi pengen juga!! xD  . Haaa…. Ini adalah momen yang paling santai dah! Tapi Karena perut sudah keroncongan jadi kita makan siang dulu di restoran deket Grand Canal.

Grand Canal

Perjalanan dilanjutkan ke Trianon, kami memutuskan untuk naik kereta turis dari Grand Canal menuju Trianon. Memang agak antri sih, tapi rasanya udah agak gempor juga nih kaki untuk berjalan kaki ke Trianon. Akhirnya kami naik kereta, gratis bagi tiket Passport lengkap ini. Tapi saat di depan Trianon, loh kok keretanya malah gak berhenti dan terus melaju (dengan kecepatan yang super lambat, jaaahhh…. Rasanya cepetan jalan kaki deh!) sampai…… yap, ternyata baru berhenti di depan istana inti dekat pintu masuk!

Whaattt??!!! Jadi kita harus mengulang menyusuri taman yang ampun jauhnya itu ke ditambah ke Trianon balik lagi??!! Oh no….!!! xD . Membayangkannya aja udah lemas euy, tapi mau gimana lagi.. hah, naik kereta itu malah merupakan ke-dudul-an dah nambah – nambahin kaki yang udah gempor. Yasulah..mending kita beli Jeruk Murni dulu, enak loh.. suegggeerr.. tapi 3 EUR! Mungkin karena langsung diperas saaat itu juga ditempat dari jeruk asli…  udah dehidrasi sih, masa mau minum air dari Grand canal.. :p

Sampai juga kita di Trianon walau waktu sudah hampir menunjukkan pukul 5 sore. Pertama, kita ke Grand Trianon dulu yang konstruksinya dipenuhi dengan marmer Carrare Italie yang dulu terkenal itu.Grand Trianon merupakan peninggalan tempat tinggal Louis XIV dan keluarganya. Disini jauh lebih tidak megah disbanding istana intinya, karena mungkin untuk kehidupan pribadi ya.

Grand Trianon

Lalu, untuk menuju Petit Trianon harus jalan agak jauh dari Grand Trianon melewati (lagi – lagi) taman yang penuh bunga. Petit Trianon ini merupakan tempat Marie-Antoinette yang lebih personal dan ditata sesuai seleranya, terkesan lebih hommy disbanding istana inti. Disini juga Nyo menemukan ruangan fave Nyo,  karena Marie Antoinette memang putri dari raja  Austria (baru tau saat Nyo berkunjung ke Schönbrunn Palace di Wina) so pasti dia juga suka bermusik sehingga istana ini memiliki ruang music di Petit-Trianon. Ruangan ini hanya berisi harpa, harpsichord dan beberapa kursi mungil.

Music Room

Pas sekali, setelah kita selesai mengunjungi semua bagian dari kompleks istana Versailles yang loas ini ampe gempor, tiba – tiba hujan turun dan semakin deras! Kyaaahhh….. alhasil harus buru – buru ambil tas di penitipan barang. Lagipula saat itu sudah jam setengah 7, udah mau tutup.. jadi, mari pulang!😀

Ahamdulillah, Nyo nginep di apartemen teman lama Nyo yang sudah lama tak jumpa. Jadi, malam itu bisa istirahat dengan tenang sambil berdiskusi masalah Astro-fisika… hehe, dunia yang sudah lama tidak Nyo jamah semenjak masuk Elektro. Padahal dulu getol banget bacain dan menganalisa buku – buku Astro-physics, sampai ikut Space Camp di Bosscha, Himpunan amatir Astronomi Jkt, dan olimpiade Astronomi (walaupun kalah, hihi..). Jadi nostalgia…😀