Escape to Paris(2): Palais Garnier

Minggu, 24 April 2011

Agenda hari ini, tampaknya meneruskan napak tilas tempat – tempat yang Nyo bahas di tugas akhir semester lalu mengenai music Baroque Prancis. Yep, apalagi kalau bukan ke Palais Garnier!! Aaahh…… inilah yang Nyo tunggu – tunggu, semenjak 2 tahun lalu sampai di Prancis liat gedung bertuliskan ‘Academie Nationale de Musique’ berhiaskan patung kepala – kepala musisi klasik seperti, Mozart, Beethoven, dsb – Nyo langsung pengen masuk. Baru kesampen saat ini tapi… Bagi pelajar, ada diskon nih buat tiket masuk ke Opera Garnier, yaitu seharga 6 EUR saja. So, mari kita masuk…!!😀

Main facade Palais Garnier

Palais Garnier ini merupakan teater ke 13 Paris Opera yang dibentuk oleh Louis XIV semenjak tahun 1669.  Palais Garnier ini dibangun atas perintah Napoleon III sebagai bagian dari proyek rekonstruksi ‘great Parisian’. Charles Garnier sebagai arsitek membangun gedung ini selama 15 tahun, dari tahun 1860 – 1875.

Grand Staircase

Main façade yang Nyo bilang banyak patung musisi itu baru direnovasi pada tahun 2000 ternyata sehingga lebih berwarna. Yang paling khas dari Palais Garnier ini adalah the Grand Staircase!! Grand Staircase setinggi 30 meter ini sangat megah karena dibangun dari marmer beraneka warna. Dua tangga ini lalu bercabang menuju serambi/foyer dan auditorium. Empat bagian dari lukisan di langit – langitnya menggambarkan beragam kiasan  dari music, aihh… Sedangkan pada kaki tangga, ada dua patung tembaga yang menggambarkan wanita membawa lampu lilin, menambah kesan antik gedung ini.

Patung pembawa torch di kaki tangga

Di sekitar balkon di atas Grand Staircase ini banyak terdapat stand – stand buat foto. So pasti kita gak melewatkan sesi foto – foto disini, klasik sekali… perpaduan arsitektur Neo-Baroque dan Neo-Reinassance, wah… Rasanya Nyo pengen jalan sambil nyanyi – nyanyi disana ala Soprano dan bergaun panjang khas ratu, hihi… ngayal.. ;p. Lalu, saat beranjak masuk ke the Grand Foyer, mata Nyo seketika langsung terbelalak, waahh……… INI DIA!! I found it… Ini dia tempat yang paling Klop dan pas untuk shooting video klip lagu Nyo: Valse de Chateau!! xD

Nyo di atas balkon😀

Grand Foyer yang sangat kaya akan dekorasi mewah ini diperuntukkan sebagai area istirahat bagi para penonton selama interval opera atau konser. Kubahnya dihiasi oleh mosaik berwarna – warni dengan background emas. Grand Foyer ini baru direnovasi lagi tahun 2004, dan pada awalnya Garnier bermaksud mendesain ini mirip dengan gallery dari istana klasik (mungkin kalau dipikir – pikir emang agak mirip juga ya dengan kemewahan Hall of Mirror). Langit – langit di Grand Foyer ini juga tak kalah hebohnya, dilukis oleh Paul baudry dan menceritakan mengenai sejarah music.

Grand Foyer

Setelah puas mengagumi kemewahan Grand Foyer, saatnya kita untuk mengintip ke auditorium. Yep, inilah tempat untuk pertunjukan opera-nya. Hwaaahh… Nyo masuk yang dari sisi penonton balkon (hihi.. sok jadi orang kaya dah, kan gak kebeli soalnya kalau tiket nonton opera di balkon bisa > 200 EUR, hiks…).  Hoo…. Langsung disambut dengan kombinasi warna yang khas, merah dan emas. Auditorium ini bergaya Italian ternyata dengan bentuk horse-shoe dan mampu menampung 1900 penonton pada kursi – kursi merah empuknya.

dalam Auditorium

Apalagi disertai dengan pencahayaan dari chandelier Kristal besar yang bergantung di langit – langit, tambah megah deh.. Ngomong – ngomong, ada fakta menarik mengenai chandelier seberat 8 ton ini. Jadi, pada tahun 1896, lampu cini pernah jatuh, menimpa penonton dan mengakibatkan kematian satu orang. Kejadian ini, kanal air bawah tanah, bersama dengan unsur-unsur lain dari Opera House bahkan bangunannya sendiri, menjadi inspirasi dari Gaston Leroux untuk klasik novelnya Gothic 1910, The Phantom of the Opera!!😀 . Wah, pantesan aja di film Nodame Cantabile Movie 2 yang ceritanya lagi di Paris juga menggunakan gedung opera ini sebagai salah satu setting-nya. Memang indah, klasik dan bersejarah ternyata, semenjak dari zaman Louis XIV..😀

Tapi sayang Nyo gak nonton di Palais Garnier soalnya tiketnya sampai bulan Juni sudah habis. Sebenarnya bisa aja beli di kios seberang gereja Madeline yang katanya sih suka ngasi harga diskon, atau bisa juga mengandalkan tiket ‘Late Minutes’, tapi saat itu lagi pada tutup sih (minggu). Jadi yah, kapan – kapan aja deh atau nonton opera kalau bahasa Inggris aja yah biar ngerti dan gak bengong :p  *apa mau Opera van Java aja? Nyehehe…*

Habis dari Palais Garnier, kita beranjak menuju ke Institute du Monde d’Arabe di jalan Place Mohammed untuk melihat hasil karya dan peninggalan tradisi Islam yang ada di Prancsi. Hmm…. Tak disangka, ternyata lumayan bagus juga ya isinya. Selain itu, banyak buku – buku Islam disitu dan disekitarnya ada beberapa toko – toko bu Arab. Nyo juga beli beberapa buku cerita anak – anak bahasa Arab buat mama, mumpung lagi diskon murah, hehehehe… :p

Centre de Pompidue

Dari sana, kami ke Centre de Pompidue yang gedungnya ber-desain aneh, agak modern tapi terkesan belum jadi, hehe…. Aneh, didepannya antrian sudah panjang.. apa orang pada antri masuk ke perpustakaannya atau karena ada konser? Dunno deh.. Yang pasti di dekat sana bisa jalan ke Rue de temple dan seterusnya untuk mencari toko souvenir Paris yang murah, di toko – toko Cina. Bayangkan, kalau biasanya dekat Eiffell pada nawarin gantungan kunci Eiffel 1 EUR untuk 3 buah (maksimal pas di Versailles ada yang nawarin 1 EUR dapat 6 buah, haha..), nah di toko tersebut jual 1 pak, isi 50 buah harganya 8 EUR. Tapi ini Nyo juga beli karena titipan teman sih.. udah kayak mau dagang ajah..   :p