Kumpulan Iboe-iboe Int’l

Beberapa minggu lalu tumben – tumbenan si tetangga ku yang orang India ngetok pintu dan ngajak bertandang ke tempatnya. Ternyata saat aku masuk disana sudah ada si nenek Hengelo. Yah begitulah biasanya aku dan mas manggilnya, soalnya si nenek itu memang setiap hari dari Hengelo, nyetir sendiri ke Enschede hanya untuk memberi makan angsa dan bebek – bebek di danau belakang rumah.

Tetanggaku ngasitahu informasi bahwa setiap Kamis ada perkumpulan ibu-ibu di acara coffee morning. Ho, mungkin ini acara kumpul – kumpul bagi istri – istri yang suaminya sibuk kuliah/kerja. Sambil menyeruput teh India yang disajikan dan menyantap kue cake almond khas londo, sore – sore itu kami saling bertukar cerita. Yang paling seru mendengarkan cerita dari nenek Hengelo, meskipun sudah renta tapi masih lancar bahasa Inggris-nya meskipun kadang agak susah denger.

“Saya itu setiap hari ke Enschede ngasih makan bebek, selama 12 tahun ini…,” kata si nenek. Ha, 12 tahun? Setiap hari? Telaten bener ya. “Saya hidup sendirian di Hengelo, suami saya sudah meninggal dan saya tidak punya anak. Tapi kakak saya yang usianya 85 tahun – ehm kalau saya 82 tahun – punya anak dan mereka setiap sore selalu mengunjungi saya. Jadi saya tidak kesepian.” . Wah, 82 tahun? Bayangkan, 82 tahun masih gesit nyetir mobil antar kota, turun-naik tangga lantai 3, dan juga rajin ngasih makan bebek. Ya ampun, ngebayangin kalau di Indonesia, nenek ku yg berusia kurang lebih segitu, sepertinya mau berdiri dan jalan pun sudah susah, untuk bercakap – cakap juga sudah pikun, apalagi ngasih makan bebek?!

Subhanallah ya… Kayaknya disini lihat nenek – nenek kok masih pada seger, panjang umur, dan beraktivitas normal. Apa faktor udara yang lebih bersih? Atau faktor mereka hobi naik sepeda? Atau karena gak mikirin biaya berobat? Hmmm…. entahlah.

Kamis-nya, aku mengikuti ajakan tetangga ku untuk ikut ke coffee morning. Wah padahal aku dari bulan Oktober tahun lalu ‘kan udah disini, kenapa baru tahu soal perkumpulan ibu-ibu internasional ini ya? Aku disambut oleh beberapa nenek – nenek Belanda yang ternyata adalah para organisator-nya yang mengomandoi perkumpulan ini. Lagi – lagi nenek – nenek yang sudah putih semua rambutnya yang aktif dan masih segar berjalan kaki, bahkan bersepeda. Salut… Sedangkan pesertanya adalah ibu – ibu dari berbagai negara, mulai dari India, Cina, Latvia, Rusia, Mesir, Syria, Palestine, dsb. Senangnya jadi tambah kenalan..

Minggu ini agendanya adalah berkunjung ke semacam ‘daycare’ untuk orang – orang disable (meskipun kebanyakan yang di berada di dalam sana adalah yang terjangkit down-syndrome). Letaknya tak jauh dari centrum. Begitu masuk, kami disuguhi tea/coffee dan apple pie di cafetaria-nya, yang semua pelayan dan masakannya dibuat oleh ‘penhuni’ daycare ini. Jadi meskipun mereka terlihat tidak normal, tapi Subhanallah… bisa bekerja tuh dan kue-nya enak – enak.

Selepas menyantap kue – kue, kami diajak untuk mengitari dan melihat – lihat kesemua ruangan daycare. Ada berbagai workshop yang tiap hari bisa mereka ikuti, ada ruangan khusus tekstil dimana mereka bisa bikin aneka kerajinan dengan kain, seperti menempel, jahit, dsb pada tas, celemek, kaos – yang nantinya dijual di toko suvenirnya. Ada juga workshop untuk mengerjakan prakarya yang lebih berat, misal dengan kawat/besi/keramik. Ada juga silent room yang isinya kebanyakan adalah orang disable yang sudah jompo dan butuh ruang istirahat dari bekerja, dilengkapi dengan dapur dan sofa empuk.

cute keychain karya mereka

Jadi, tempat itu untuk menampung mereka setelah keluar dari sekolah ‘SLB’, yang berusia di atas 18 sampai tua (ada yang 80-an tahun juga). Setiap hari mereka selalu ada workshop yang dikerjakan sehingga bisa berguna dan tidak kesepian, sebab tidak semuanya tinggal dengan orang tua, ada juga yang orangtuanya sudah tidak mampu mengurus lagi. Hmm… Tiba di ruang workshop melukis, aku melihat ada seorang anak perempuan muda sekitar 19-20 tahun yang sedang asik melukis karakter manga, bagus sekali.. Yang mencolok adalah, ia tidak seperti peserta lain yang down-syndrome, badan dan penampilannya seperti orang normal. Bahkan bisa berbahasa Inggris dan France dengan lancar, ramah dan cantik pula!

Ibu – ibu yang lain juga bertanya – tanya, kenapa dia disini? Guide menjelaskan, “Hmm… ya, ia memang tidak down-syndrome dan tidak memiliki cacat mental apapun. Tapi, ia memiliki masalah dalam kemampuan berinteraksi sosial tingkat tinggi. Well, I cannot tell you.. But, that’s why she’s here.”. Aku masih termenung.

Di tempat suvenir, kami tidak lupa membeli hasil karya mereka yang ternyata lucu – lucu dan kreatif, dengan warna – warna yang ceria. Memang dijelaskan katanya penderita down syndrome meskipun fisik mereka bertambah tua tapi di dalamnya, they’re just baby. Kunjungan ibu – ibu kali ini jadi membuatku agak terharu sekaligus bersyukur, dan disini they’re not hiding.. mereka beraktivitas seperti biasa dan juga punya karya. Dan bagusnya lagi, semuanya dibawah pembiayaan dan jaminan pemerintah.

Kami berikutnya adalah perkumpulan ibu – ibu disini sebelum Nyo liburan pulkam, hehe… It’s the normal coffee morning.. di ITC lounge dan dilengkapi dengan tea/coffee+berbagai kue – kue. Nyo kembali bertemu dengan wajah – wajah ibu – ibu barudari berbagai ras. Umumnya mereka diatas 30 tahun (sampai 80+ tahun) dan mereka sering bertanya dengan heran, “How old are you?” . he? Apa Nyo tidak pantas berada di perkumpulan ini? Apa karena mereka sudah pada beranak dan nyo belum? Heuu… Mereka biasanya kumpul saat suaminya kerja dan anaknya udah pada sekolah di int’l school disini.  Emang aneh, rasanya baru kemarin ikut di perkumpulan student internasional, sekarang di perkumpulan ibu-ibu (rumah tangga, yang tidak ada kerjaan) internasional. Nyehehe.. -> gak jelas

Recipes from all around the world

Selain apple cakes yang lezato buatan oma – oma londo yang super baik dan cekatan, pertemuan ini juga berkesan. Karena pada ujung acara, Nyo sebagai anggota baru dikasih buku!! dan bukunya itu adalah ‘International Cookbook’, resep masakan dari seluruh dunia yang dikumpulkan para senior ibu – ibu int’l.  Alhamdulillah… Senangnyo. Great! I think I cannot stop cooking..😀