Seleksi Tahap Akhir Beasiswa Presiden RI (STA – BPRI)

Sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai pengalaman saya dalam STA – BPRI, ada baiknya kita mengenal dulu, apa sih BPRI itu? BPRI atau Beasiswa Presiden Republik Indonesia – dalam bahasa Inggrisnya: Indonesian Presidential Scholarship (IPS) adalah salah satu produk dari beasiswa LPDP yang merupakan unggulannya, sebab hanya diberikan 1 tahun sekali dan untuk membiayai perkuliahan S2 dan S3 di universitas top 50 besar dunia. Untuk lebih jelasnya, silahkan dilihat di link ini: http://www.lpdp.depkeu.go.id/beasiswa/presidential-scholarship/

Secara umum, ada 3 tahapan seleksi BPRI ini:

Tahap 1:  Seleksi Administrasi

Proses pertama yang harus kalian lalui adalah mendaftar secara online di website LPDP sebelum batas akhir pendaftaran. Semua dokumen harus lengkap diunggah, termasuk juga membuat 4 buah essay. Syarat lengkapnya, silahkan baca di laman web di atas.

 

Tahap  2: Seleksi Wawancara

Setelah lolos seleksi administrasi, proses seleksi dilanjutkan dengan seleksi wawancara. Waktu itu dilaksanakan 1-3 September 2014 di Dept.Keuangan. Namun, sebelum masuk ke tahap wawancara, pada pagi harinya diuji dulu dengan tes essay selama 30 menit. Jadi, diberikan 2 tema (seperti potongan artikel koran dengan permasalahan bangsa terkini), masing – masing diberi waktu 15 menit untuk kita menuliskan pendapat, saran, dan solusi. Pegal juga deh, menulis banyak dalam waktu sesingkat itu.

Oh iya, pada tahap ini, saya baru tahu kalau peserta BPRI itu ternyata bukan hanya dari sipil, tapi juga dari TNI-Polri. Dasar memang katro, tidak pernah ‘dekat’ dengan yang namanya militer. Jadi, waktu melihat ada mobil TNI dan banyak orang berseragam TNI di luar dan dalam ruang seleksi, jadi parno sendiri. Rasanya takut aja gitu (padahal ditatap juga gak).

Lalu satu – satu dipanggil masuk ke dalam ruangan wawancara (di dalam ruangan itu ada 5  peserta yang di wawancara paralel, tapi tenang saja, tidak bakal bentrok satu sama lain kok karena ruangan sangat besar dan tersebar merata). Satu peserta diwawancara oleh 3 interviewer.

Menurut penuturan peserta sebelumnya, ada yang ditanya mengenai jawabannya atas essay yang ditulis pagi harinya, semacam meminta penjelasan lebih dalam. Ada juga yang sampai mau menangis ditanya mengenai hal yang sulit dan menyentuh hati. Tapi berdasarkan pengalaman saya, wawancara ini berlangsung sangat santai. Yah, hanya ditanya hal – hal berikut:

– Mau kuliah dimana? kenapa disana? ada LOA?

– Dulu kuliah ambil apa? Apa korelasi dengan ilmu yang nanti diambil?

– Topik riset tentang apa? Apa manfaat untuk Indonesia?

– Pernah mengalami hal – hal yang paling sulit gak, yang paling membuat Anda terpuruk?

– Rencana Anda ke depan bagaimana? Apa yang ingin diperbuat untuk kemajuan Indonesia?

– Keluarga bagaimana? Mendukung?

– Apa kegiatan ke-masyarakatan atau sosial yang pernah Anda ikuti dan apa dampaknya bagi masyarakat? 

Begitulah…. bisa lah, tidak usah tegang, pelajari aja semua mengenai rencana riset, jurusan, universitas dan mengenai aktivitas Anda sendiri yang bisa ditonjolkan . Sayang satu pertanyaan yang paling saya harapkan justru tidak muncul, yaitu: “Bisa anda nyanyikan salah satu lagu nasional?”. Hahahah…. Yasudahlah, ini kan wawancara, bukan konser, Nyo.. :p

 

STA

STA

Tahap 3: Seleksi Tahap Akhir (Psikotes, Medical Check-up, Leadership Project)

Seleksi tahap akhir dilaksanakan tanggal 1-5 Oktober 2014 di IPSC (Indonesian Peace and Security Center) yang berlokasi di Sentul. Beberapa hari sebelumnya sempat survey ke lokasi yang ternyata gak jauh – jauh juga dari Jakarta dan tempatnya baru diresmikan oleh Presiden SBY awal tahun 2014. IPSC ini merupakan kawasan Peace Center terBESAR di dunia! Memang ketika saya berada disana dan mengenal pelosok – pelosok kawasannya, benar – benar looooasss…dan sangat komplit fasilitasnya, mulai dari pusat bahasa, olahraga, auditorium, barak-barak, rumah ibadah untuk 5 agama, badan intelejen, badan logistik, dan banyak lagi. Indonesia patut berbangga punya IPSC.

Untuk seorang ibu, menjalani STA, harus menginap dan berpisah jauh untuk pertama kalinya merupakan hal yang sangat berat. Selama ini, Rhapsody tidak pernah lepas dari maminyo, apalagi masih ASI. Awalnya sempat maju-mundur, apakah lanjut atau tidak yah ke STA ini mengingat kendala tersebut. Tapi, Bismillah… kalau memang Allah SWT sudah memberikan keputusan lolos ke STA ya berarti harus dijalani: maju terus pantang mundur!

Alhasil, 1 Oktober 2014, datanglah saya dengan membawa koper merah besar memasuki kawasan Stand-by-Force, lokasi STA.

Depan gedung Stand-by-Force -- IPSC

Depan gedung Stand-by-Force — IPSC

Hari 1: Medical Check-up

Hari ini hanya diisi dengan medical check-up oleh Prodia. Yang di tes meliputi: tes darah, tes urine, tes penglihatan jarak dekat dan jauh, temperatur, tinggi berat badan, EKG, rotgen, dan juga pemeriksaan general oleh dokter.

Setelah medical check-up, kami menuju ke camp masing – masing. Camp yang dimaksud disini adalah barak. Jadi, untuk putri ada 2 barak dan putra ada 4 barak. Bagaimana sih rupa barak itu? Well, lihat disini yah…. Pokoknya berasa macho banget deh, serasa jadi tentara. Pengaturan tempat tidur, ukuran meja, lemari, dan juga fasilitas toilet, semuanya sudah standar Internasional. Jadi barak – barak di IPSC ini biasa difungsikan sebagai tempat sementara pasukan Indonesia bermukim dan berlatih, sebelum nantinya diterbangkan untuk dinas sebagai pasukan internasional, tentunya dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia.

 

Barak Putri

Barak Putri

Hari 2: PAT (Profiling Assessment Test)

Kami dibagi menjadi 3 gelombang. Tes ini mirip seperti tes Psikotes, namun yang diujikan ada mengenai kepribadian kita, soal – soal macam GRE/GMAT bahasa Indonesia (seperti analisis grafik – hitungan – ekonomi, dsb), numerik – verbal.

Pulang ke barak lagi, saat yang lain sudah tertidur, aku masih harus memompa ASI tiap malam dalam gelap. Yah, namanya emak – emak.. bedalah. Rasanya jiper juga melihat yang lain masih bersemangat muda dan berenergi tinggi, baru fresh lulus S1, kok kadang aku suka gak nyambung…. Mungkin faktor-U yah (umur, hahaha…).

 

Hari 3: Leadership Project (LP)

Pukul 02.00 : kami sudah bertolak dari IPSC menuju Parung Panjang, lokasi yang akan kami tinjau untuk LP ini. Kami dibagai menjadi belasan kelompok dan tiap – tiap kelompok terdiri dari 4 orang. Di grup kami, kelompok 14 terdiri dari 2 orang sipil (keduanya program S3) dan 2 militer (keduanya TNI-AD). Alhamdulillah, bekerja dengan mereka sangat menyenangkan, terutama dari sisi militer yang bergeraknya super cepat dan efisien. Sepertinya sudah lihai yah menerapkan AMD (ABRI Masuk Desa), jaringannya dimana – mana.

Mulai saat itu, bertolak belakang dengan pandangan awalku mengenai militer yang serba menyeramkan (pada saat tahap wawancara), ternyata perlahan mulai berbalik. Aku mulai menyadari bahwa abang – abang TNI ternyata asik – asik dan kooperatif. Perjalanan memakan waktu lama karena selain terpotong waktu subuh (dan waktu huru-hara mencari toilet sebab konon di desa tujuan tidak ada MCK dan tidak ada air jadi harus ‘dibereskan’ dulu urusan itu sebelum sampai), juga terpotong waktu sarapan.

Pukul 06.30: Bus kami sampai di lapangan dan kami turun menggunakan masker (karena ampun – ampunan berdebunya jalanan sepanjang parung Panjang yang penuh truk pengangkut bahan bangunan tiada henti) menuju ke pick-up ke desa masing – masing. Yeup, benar, naik pick-up, sodara-sodara!

BATOK, adalah desa tujuan grup kami. Selama kurang lebih 1 jam, kami harus menahan panas duduk di atas pick-up terbuka melalui jalanan terjal nan berbatu, melewati jalur – jalur kereta api tak berpalang, dan udara yang berdebu. Kami berkumpul di SDN 03 Batok untuk melakukan survey. Fokus ku sendiri adalah pendidikan, sehingga aku bisa secara leluasa melakukan survey di SDN. Kami pun meninjau dari sisi bangunan, SDM, murid – murid, juga fasilitas sekolah.

Leadership Project - SDN Batok

Leadership Project – SDN Batok

Pukul 13.30 – kami menyudahi LP dari Parung Panjang dan bus bergegas kembali ke IPSC. Kami semua di dalam bus super tepar, hanya terdengar suara dengkuran dan deru mesin sore itu.

Pukul 18.00 – tiba di IPSC, kami harus melanjutkan dengan diskusi kelompok sebab besok dijadwalkan untuk presentasi LP. Alhamdulillah, grup kami tidak terlalu menemukan banyak masalah. Slide dan semuanya beres pukul 21.30, langsung dikumpulkan sehingga kami bisa tidur dengan nyenyak untuk mempersiapkan jadwal esok pagi.

 

Hari 4: Presentasi LP

Presentasi LP dilakukan di ruang kecil yang berlokasi di daerah atas IPSC, yang harus kami lalui dengan menggunakan kendaraan lokal IPSC (baca: tronton = well, ini lebih baik sih dibanding dengan harus berjalan kaki). Grup kami kebagian jadwal agak sore untuk presentasi. Satu grup akan dinilai oleh tim reviewer yang terdiri dari 3 orang (2 orang dari lembaga sosial mungkin dan 1 dari pihak TNI). Satu – satu akan dipanggil ke dalam ruangan untuk diwawancarai lagi mengenai kontribusi dan rencana apa yang akan dilakukan untuk LP nanti di desa tersebut, apakah programnya realistis dan feasible untuk dilakukan?

Setelah satu – satu dari anggota grup dipanggil, lalu semua anggota grup masuk ke dalam untuk presentasi slide LP dan proses tanya jawab. Alhamdulillah ketiga reviewer, semuanya baik dan objektif, bertanya hanya pada hal – hal yang perlu ditanyakan dan tidak ada drama sama sekali (berbeda dengan kelompok sebelah yang konon katanya reviewer-nya agak – agak melodrama dan penuh sandiwara yang mengobrak – abrik emosi maupun mental peserta, hehehe…). Kunci disini adalah: tetap jaga keutuhan, kekompakan, dan kepercayaan dalam grup! Jangan saling menjatuhkan atau saling melemahkan.

Semua tahap telah dilalui dan saatnya pengumuman yang lolos proses STA. Dari 134 peserta STA, yang lolos adalah 109 orang (komposisi: 68 sipil – 41 militer. S2: 88 orang, S3: 21 orang). Saat disebutkan, satu persatu nama diumumkan menurut abjad, mulai dari S2 dulu. Bisa dibayangkan ‘kan betapa dag-dig-dug-nya jantungku, karena harus menunggu sampai program S3 dan abjad urutan terakhir pula ‘V’. At last, Alhamdulillah ketika namaku disebut, rasanya legaaaa….banget! ^_^

Silahkan lihat disini video-nya, menegangkan bukan? Kala itu, pengumumannya malam hari dan baru selesai tengah malam. Jadi, bisa dibayangkan betapa emosi kami campur aduk di auditorium IPSC. Enjoy!😀