[Bagian 1] Program Kepemimpinan Beasiswa Presiden Republik Indonesia (PK-BPRI) 1

7 Oktober 2014

Selepas pengumuman kelulusan STA tanggal 6 Oktober 2014 tengah malam, kami yang lolos pagi harinya harus sudah berkumpul dan menjalani PK (Program Kepemimpinan) hari pertama. Dalam rangkaian PK inilah perlengkapan yang wajib kami bawa, seperti kemeja putih, kemeja biru, batik, serta baju olahraga benar – benar digunakan. PK ini dijadwalkan berlangsung dari tanggal 7-15 Oktober 2014. Lama juga yah, hati merasa senang tapi kadang pikiran masih tidak bisa lepas memikirkan my lovely Rhapsody. PK hari pertama diisi dengan kegiatan indoor alias dalam ruangan, seperti seminar dan pembekalan materi, juga diskusi kelompok.

Malam harinya, kami berkumpul di auditorium untuk membahas mengenai tugas angkatan. Tugas yang sudah diberikan adalah:

  • Aku untuk Indonesia

Merupakan tugas kelompok (satu kelompok 10-11 orang, komposisi sipil dan militer), semacam refleksi mengenai kontribusi dan harapan apa bagi kami masing – masing untuk Indonesia di masa depan. Disajikan dalam bentuk video dalam durasi max.5 menit.

  • Implementasi program Leadership Project (LP)

yang harus dikerjakan 11 Oktober 2014. Dalam 1 hari kita diberi waktu untuk melaksanakan program LP yang sudah kita rancang di 3 desa Parung Panjang.

  • Persembahan angkatan

semacam pentas seni, dibagi atas 4 kategori besar: musik, drama, puisi, tari.

  •  LiveTweet

untuk setiap materi yang diberikan tiap harinya saat PK minimal 10 tweets/hari.

  •  Menulis diari di jurnal

bukunya dibagikan saat hari pertama, dengan kaos dan merchandise lain seperti pin, tas, dsb).

  • Ikrar BPRI 1
  • Mars BPRI 1

Nah, dua tugas terakhir ini yang harus jadi dan dibawakan esok pagi. Ikrar dan mars BPRI 1 rencananya harus selesai dan selalu dinyanyikan/baca setelah lagu Indonesia raya tiap harinya, saat pembicara masuk ke dalam auditorium atau saat materi dimulai. Aku bergabung dalam tim pembuat Mars. Sebenarnya aku sudah bikin sebagian melodi dan lirik buat Mars. Tapi sepertinya tidak bagus, heheh…. lagipula ada yang lebih ahli, yaitu Klaus – yang memang lulusan jurusan musik NUS. Jadi, serahkan saja padanya dalam mencipta melodi. Dalam waktu semalaman suntuk, melodi Mars pun sudah tertoreh dengan baik olehnya. Aku, kak Sutarsa, dan Ara tinggal menyelesaikan masalah lirik. Keesokan paginya, saat sarapan, lirik Mars pun jadi:

GARUDA KE UJUNG SEMESTA

Derap langkah panji bangsa

Mengusung semangat Indonesia

Bersinergi demi kesempurnaan

Mengabdi penuh integritas

Tumbuhkan jiwa professional

Dalam melayani masyarakat

Lebarkan cakrawala

Menuju Indonesia Jaya

Reff:

Bangkitkanlah pemimpin masa depan

Membangun negeri tercinta

Dengan beasiswa presiden Indonesia

Terbangkan garuda ke ujung semesta

Pemimpin muda Indonesia

Raihlah mimpi dan citamu

Kita torehkan prasasti

Garuda Emas Indonesia

Ini dia Mars BPRI 1, yang berjudul “Garuda ke Ujung Semesta” . Anyway, lagu yang ku upload ini adalah versi Mars setelah ku aransemen ulang musiknya dan record + mixing (1 bulan setelahnya). Semoga bisa merasakan ke-‘epik’-an kita selama PK di IPSC, hehehe… Enjoy!🙂

8 Oktober 2014

Materi pertama adalah sesi Inspiraing leader dari bidang teknologi, yaitu Prof.Dr. Nurul taufiqurrohman. Beliau adalah seorang ahli nano-teknologi Indonesia, pemilik 15 paten, ketua masyarakat nano Indonesia dan direktur Center of Innovation – LIPI.  Jujur, aku sangat suka dengan sepak terjang beliau dalam ilmu dan bisnis. Intinya, memang ilmuwan dan peneliti harus bisa berbisnis! Mengapa? Karena jika mau ilmu hasil penelitian kita teraplikasikan dan membawa lebih banyak manfaat bagi masyarakat, ya salah satu jalannya adalah dengan bisnis. Manfaatnya lebih terasa. Beliau pulang dari Jepang selama 14 tahun memulai karir sebagai peneliti di LIPI dari bawah. Sampai sekarang Pak Nurul memiliki perusahaan – perusahaan yang berbasis penelitian nano-teknologi, antara lain di bidang kosmetik, printer, produk minuman/makanan, dsb.

Satu quote yang menarik adalah: “Lebih baik menjadi PAHLAWAN di negeri sendiri, daripada bekerja sebagai karyawan di negeri orang.”

Well, sedikit banyak setuju deh… Untuk bidang ilmu yang jarang, jika kita menjadi pioneer di Indonesia untuk mengenalkan dan ahli disana, bisa jadi pahlawan bukan? Tapi kayaknya bekerja sementara di negeri orang tak apa juga kali yah, untuk mencuri ilmu, menjalin relasi, dan ‘menabung’, hihihi…. :p . Dari semua pembicara materi selama PK, aku rasa yang paling cocok dan klop dengan pandanganku sih Prof.Nurul ini. Latar belakang dari peneliti yang sukses, tapi sukses juga di bisnis. Inspiring!

Sesi kedua di sore hari adalah sesi Inspiring leader dari relawan kemanusiaan Parung Panjang, yang bernama bu Uun. Beliau banyak bercerita mengenai perjuangannya melawan kasus balita – balita bergizi buruk di desa Parung Panjang. Jika melihat foto, maupun mendengar ceritanya, haduh… Astagfirullah, miris sekali. Berkali – kali aku terenyuh, terharu, juga meringis melihatnya. Ternyata, di Indonesia, di tempat yang sebenarnya relatif dekat dekat ibukota, masih ada ya kasus seperti itu. Di sebuah desa pelosok yang tak ada air, tak ada MCK, mayoritas penduduknya hanya lulus SD, tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan, dan tingkat penganggurannya tinggi sebab lahan yang kering.

Bu Uun terus berupaya untuk membantu dan mendatangi secara aktif  ke warga desa yang membutuhkan. Sayang, aksi beliau ditentang banyak orang, seperti camat, kepala Puskesmas, dsb, yang ingin agar kasus buruk Kab.Bogor ini tidak terdengar ke umum. Namun, Bu Uun tidak gentar dan terus membela rakyat miskin dengan advokasi dan pendekatan – pendekatan lewat media. “Jika bukan  kita, siapa lagi yang mau peduli,” begitu katanya.

9 Oktober 2014

 Sesi Inspiring leader hari ini berasal dari pihak Pemerintah, yaitu Prof. Firmanzah, PhD. Beilau adalah dekan termuda di Indonesia (FE-UI saat 32 tahun, lalu menjadi guru besar termudah saat umur 34 tahun) dan sekarang menjadi staff kepresidenan RI. Anyway, karena perbedaan latar belakang yang membuatku kurang nyambung dengan apa yang diomongin (mayoritas berbicara soal perkembangan ekonomi dunia, GDP, PDB, bla3…), intinya yah untuk menuju Indonesia Gemilang 2045, sebenarnya sangatlah mungkin. Hayok lah…

Sesi kedua adalah Inspiring leader yang berasal dari kubu berbeda, yaitu non-pemerintah atau NGO (Non-government Organization), yaitu Bapak Zainal Abidin dari Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Beliau juga dikenal dengan @jayteroris. Diantara 95 buku yang sudah ia tulis, satu buku anyarnya adalah “Monyet aja Bisa Nyari Duit”. Dalam sesi yang dibawakan dengan sangat ngocol dan membuat semua peserta penuh tawa, Pak Jay berhasil menyebarkan virus semangat kewirausahaannya, bahwa kita harus selalu menaikkan cita – cita dan mandiri/tangan di atas. Di penghujung sesinya, ada pembagian buku gratis karyanya yang berjudul “Motivactor” – memberi semangat kami untuk terus maju.

Depan baliho PK-BPRI, IPSC

Depan baliho PK-BPRI, IPSC

10 Oktober 2014

Sesi pertama di auditorium adalah sesi internal LPDP mengenai mekanisme pencairan beasiswa. Tentu inilah sesi yang bermanfaat untuk kelanjutan studi kami kelak, hehe…

Sesi selanjutnya adalah Inspiring Leader dari bidang Hukum, yaitu Prof. Jimly al-Shidiqi. Beliau adalah dewan kehormatan KPU, ketua tim reformasi bidang hukum, dan dua kali menjabat sebagai ketua MK tapi mengundurkan diri. Dari semua pembicara, mungkin beliaulah satu-satunya pemateri yang tidak menggunakan slide sama sekali. Waw, tapi benar – benar memikat. Untukku yang benar – benar awam hukum, kalimat – kalimat yang disampaikan sangat berbobot tapi tidak bikin ngantuk karena apa ya… mengena dan kharismatik.

Quotes menarik dari beliau:

Kapan negara bisa beres?

–> “Jika semua tahu hak dan kewajiban masing – masing” (dari Umar bin Khattab)

     “Ambillah hak tidak lebih dari semestinya, dan beri kewajibanmu tidak kurang dari semestinya.”

“Di negara beradab, hukum mengapung di samudra etika”.

–> maksudnya tidak akan sampai ke pulau keadilan jika airnya kering alias etika dan akhlak tidak berfungsi.

Apa resep jika ingin jadi pemimpin

–> “Harus rajin membaca. Membaca buku (referensi) dan kehidupan (praktek).

Ada 5 syarat hakim agar dapat memberi keadilan, ia harus 5 DINGIN: Kepala Dingin – Tangan dingin – Wajah dingin – Hati dingin – Darah dingin. (kalau aku seringnya kedinginan terus nih, makannya gak cocok jadi hakin, hahah…).

11 Oktober 2014

Inilah hari Leadership Project (LP) kami di eksekusi. Pukul 01.00 dini hari, bus sudah bertolak dari IPSC dan perjalanan itu terulang kembali, naik pick up menuju desa Batok. Masing – masing peserta bertugas sesuai tanggung jawabnya. Untuk Desa Batok, kami mengadakan beberapa program di SDN Batok, yaitu:

– Perbaikan infrastrukur (perbaikan perpustakaan, gedung sekolah, pengecatan)

– Penyuluhan orang tua murid

– Kelas Inspirasi bagi seluruh murid SD

– Pelayanan kesehatan

Selain itu, di luar SD ada program penyuluhan entrepreneurship bagi pemberdayaan warga lokal dan pengadaan air bersih. Aku disini berada di kelas penyuluhan orang tua murid dan membantu Dokter Ica memeriksa para pasien secara gratis. Wew, ternyata jadi (asisten) dokter tuh melelahkan juga ya, hehe…

Dalam kelas penyuluhan orang tua murid, aku menemui bahwa bahkan sebenarnya orang tua murid itu sendiri tidak mendukung (baca: tidak percaya kemampuan anaknya) untuk bersekolah lebih tinggi. Apalagi jika anak perempuan, yaudahlah sudah lulus SD ya di rumah saja. Atau ada juga yang takut masuk sekolah negeri, lebih memilih ke Madrasah karena di sekolah negeri (SMP) pernah ada yang ‘kebobolan’ akibat pergaulan. Para orang tua murid ini saat ditanya apa cita – cita untuk anak mereka juga sebagian besar tidak tahu. Setelah didesak – desak akhirnya terucap bahwa ingin anak – anaknya jadi guru. Ya, mayoritas mereka menjawab: guru. Kenapa ya, bukan jadi pengusaha, insinyur, dokter, atau presiden gitu?  Tugas saya disini hanya memberi motivasi dan membuka pikiran mereka saja agar lebih mendukung anak – anaknya untuk terus menuntut ilmu.

Secara keseluruhan, eksekusi program – program LP di kelompok desa Batok ini Alhamdulillah berlangsung dengan lancar. Tengah hari, kami makan siang bersama warga setempat lalu beranjak pulang. Semoga saja ada yang membekas di hati mereka ya… Paling tidak, secara fisik bangunan sudah lebih enak dilihat dan beberapa plafon yang jebol telah diperbaiki.

Nah, inilah video lengkap liputan ala Citizen Journalism mengenai program LP desa Batok. Anyway, ini video aku edit hanya kurang dari 1 jam. Dapat raw video baru subuh dan buru2 ngedit sebelum jam 7 pagi dikumpulkan (dipotong mandi, sarapan, dsb). Jadi, maaf maaf hasilnya kepotong-potong gak karuan karena gak sempat di cek lagi, apalagi ditambah-tambah caption, efek, dsb… kilat soalnya.. xD . Salut untuk Gatya, yang menjadi host di video tersebut (yang empunya video) dan bikin voice-over yang super-kece, awesome!!🙂