Memulai Startup ala EF.

EF kok startup? Bukan EF yang les bahasa inggris itu, tapi EF = Enterpreneur First (http://www.joinef.com/)

EF disini mengadakan 6 bulan program intensif untuk menyokong para founders menghadapi 100 hari pertama kehidupan startup mereka. 3 bulan diberi stipend, 3 bulan sisanya: grow. EF yang digawangi alumni Imperial (makanya tadi foundernya bicara di kampus), Cambridge, dan Oxford berdiri 4 tahun lalu, telah membesarkan 40 startups, dengan funding yang didapat sudah lebih dari $40 milions.

Tadi siang, founder EF, yaitu Matthew Clifford memaparkan pada kami, para mahasiswa yang masih ‘galau’ mengenai should or should not start a startup?

Ada 3 kriteria utama yang menjadi bahan pemikiran untuk menjawabnya:

1. SCALE

Ini yang terpenting dalam startup: Scale. Scale itu semacam goal of ambition. Nggak mungkin dong pengen bikin startups yang sangat tidak mungkin untuk scale. Ambisinya harus besar untuk terus grow. Pertanyaan awal kalau mau join EF, pasti ditanya apakah kamu ingin menciptakan that doesn’t exist but you want that to be exist and spread it all over the world? Tentu pasti yang bisa memberi high-impact pada peradaban manusia (ciehh..). Kalau jawabannya iya, mungkin jalur startups memang cocok bagimu.

Ada 3 contoh startups dari alumni Imperial keluaran EF yang telah sukses:

– Permutive: machine learning dan algoritma untuk optimisasi add/campaign di web

-Tractable: aplikasi C-NN untuk automasi inspeksi visual for the automation of any visual inspection task.

– Magic Pony Technology (http://www.magicpony.technology/): kompresi video dengan machine learning dan computer vision. Nah, ini nih yang lagi HOT banget. Soalnya mereka selama 6 bulan awal di EF benar – benar dari nol, belum ada hasil tiba-tiba keluarlah satu solusi kompresi video yang super-cool. Langsung begitu pitch, investor berebutan berlomba-lomba invest. Sekarang mereka mendapat funding yang *undisclosed* dan hiring like crazy. Asiknya lagi, foundernya alumni dari research group ku, wew… jadi semakin semangaaatt!!🙂 . Satu kolega tetangga meja di lab juga besok sudah mulai kerja di startup ini, dan teman seberang mejaku di lab juga seorang founder startups wearable techn yang menurutku keren banget –> http://www.chooseblocks.com/  . OMG, aku gak ngerti gimana cara dia bagi waktu antara PhD dan company-nya! x___x

Anw, kita semua satu lab dan ngerjain projects di bidang yang sama kok, medical image analysis which is sepertinya unsexy jika dilihat dari sisi investor startups. Tapi buktinya mereka bisa merambah bidang lain kan? xD

Ketiga contoh startups sukses tersebut dimulai benar – benar dari nol. Mereka datang ke EF secara individu, belum saling kenal, lewat penyaringan dari 25 negara dan banyaknya kandidat, hanya dipilih sekitar 50 orang. Disana menjadi semacam komunitas founder dan ajang bertemu dengan co-founder, membentuk tim (biasanya ber-2 per startups) dan scale!

So, scale is the ultimate test!

It is not impossible karena mereka aja mampu,…jadi

scale is possible!

dan yang datang cowo semua =,= .maklum,dept. computing..

dan yang datang cowo semua =,= .maklum,dept. computing..

2. FEAR

Nah, ini.. Ini dia kata-kata pamungkas nih buat menemukan dimana jati diri mu, apakah cocok untuk startup atau di company besar yang aman saja? Well, gak ada yang salah kali dimana pun pilihannya.. Bekerja di startup gak selalu cool (I think..), ada beberapa aspek tujuan hidup dan kepribadian yang juga harus dipertimbangkan. So, fear? Kalau kamu terlalu banyak khawatir soal downside, thinking of failing (most probably if you think about think then it happen so don’t!), dan gak mau kerja keras –> Jangan pilih startups!

Karena startups bukan soal kehidupan glamour, malah sebaliknya harus siap menghadapi endlessly long-day, working MORE than anybody else dan unfortunately to say: success rate is LOW. Banyak kan startups bermunculan, tapi yang benar – benar sukses, hmm… it’s hard karena nggak ada medium result.

Medium performance = zero

Kalau kamu mau di medium performa yang mediocre2 aja, please Don’t think about startup!

Fear is rationale. There are bad and good fear.

Bagaimana kalau menghadapi tiba-tiba account company sudah nol. Habis bis… sementara masih harus menggaji, dsb. Ada salah satu startups binaan EF juga yang menghadapi kondisi itu. Selama 6 bulan si founder nya tidur di couch di ground aja, sambil terus mengerjakan produk berikutnya untuk diluncurkan dan menghasilkan uang lagi. Wew…

Belum lagi setelah lulus, pasti para ‘founder’ ini dicap seperti “oh jadi sekarang kamu unemployed?”, sementara teman-teman yang lain sudah bekerja di manajemen consultancy yang TOP dengan gaji yang bikin ngiler-ngiler. Dan para ‘unemployed’ founder ini masih berkutat dengan mimpi-mimpi dan ambisi gila mereka. Well… it’s a choice :p

Mungkin pada poin 1 aku masih semangat soal building something that will have big-impact, tapi mulai poin 2 jadi mikir lagi. Hmm… kayaknya aku suka main aman deh, hehe.. #lowriskbanget #penakut huhuhu…. xp . Terus nyadar lagi, eh, di dunia gak ada yang certain ya, full of uncertainty, semuanya terserah Allah SWT deh.

3. EDGE

Apa tuh Edge? Edge ini menurut Book 0-1 adalah competitive advantage. Yaitu, kalau kata mas Ippho sih pembeda abadi, heheh.. Meski dari penjelasan si founder EF artinya, sesuatu yang belum ada dan you can do better than others! Di EF, dari sekian banyak founders juga mereka akhirnya mencocokkan antara founder dan ide, mana yang pas. Seperti Larry pada Google, atau Mark Z pada FB, semua mengenai kecocokan antara ide dan founders.

Tips utama:

Go Find your edge!

Temukan keahlianmu, harus expert di satu bidang, dan harus deep-technical edge. Outstanding founder skills and good personality: fit for startups! di EF, mereka gak melihat ide, tapi melihat dari personal skills dan edge tersebut.

You don’t need big-idea to start a startup!

Even you don’t need a business plan for your startup! Plis deh… Kalau mau buat supermarket baru, baru tinggal pakai bis.plan dari supermarket Tesco misalnya, dari buat aja 10% better than that, mungkin sudah bisa sukses. Tapi kalau startup yang benar – benar baru, gak bisa belum apa-apa bikin business plan karena too many unknown parameters. Jadi apa dulu? Pertama: Produk. Kedua: Users. Setelah itu baru deh… Biz.model.

Bagaimana caranya mendapatkan Edge?

Kalau merasa terlalu sulit, bisa dicari edge yang belum terlalu digunakan di industri atau yang lagi ‘in’ seperti VR, ML, cyber security, gitu deh. Atau cari aplikasi teknologi di area yang belum terlalu dirambah oleh tech, misal aglikultur/pertanian. Coba ke desa/pertanian 3 bulan aja, balik-balik sudah bawa banyak masalah teknologi (dan solusi mungkin). Lagi terangkat banget akhir-akhir ini tech di bidang pertanian, sebut saja dari Indonesia ada http://www.efishery.com/, http://igrow.asia/, dan Blumbang Reksa. Semuanya berbasis cloud dan teknik pertanian/perikanan. Ok kan?🙂

Itulah ketiga poin penting jika kalian mau memulai startup, menurut EF.

Terus di EF bakal dibagi tim jadi technical dan business people nggak? Nope! Sorry, business people… Tapi EF disini bertindak sebagai temporary biz guy yang menempa para technical people ini jadi CEO. Mereka meng-amplify startups dan membantu menemukan startups dengan investor serta costumers yang lebih besar. Benar juga sih, saat Mark Z atau Larry P pertama bikin FB/Google atau Steve Jobs pada awal-awalnya, who’s the business guy? No, they don’t need…  They will learn. The technical people will also be the business people! Yeay…. tiba-tiba semangat lagi ^_^

Dua hari ini benar – benar diombang-ambing, kemarin Industry Day ke company2 raksasa, hari ini dipicu kegilaan idealisme mengubah dunia sama EF.

^_^;