Pilihan Karir setelah PhD?

Lagi – lagi menggalau mengenai karir setelah PhD? Setelah minggu lalu diekspos oleh diskusi antara PhD dan beberapa alumni yang sudah bekerja di industri big companies (C), kali ini saatnya mendengarkan forum dari para pakar yang akhirnya berkecimpung di jalur riset dan karir pilihan akademisi (A). Hmm… Tapi sebelumnya, tak lupa datang dulu dong ke acara Imperial Launchpad Day, dimana banyak incubator ataupun accelerator yang akan membantu para graduates untuk mewujudukan dan memajukan StartUp mereka.

Ini dia sebagian list startup accelelator/incubator di Launchpad Day yang mungkin akan berguna nanti, kalau memang mau pilih kategori karir B (Business):

  • Startup bootcamp
  • Imperial HUb
  • Oxygen Accelerator
  • Innovate UK
  • Entrepreneur First (EF)
  • Startup Direct
  • Seedcamp
  • Techstars
  • Innovify
  • Level39
  • SVC2UK (Silicon Valley Capital to UK)
  • CoCreate

Intinya sih kampus sangat – sangat menunjang pertumbuhan startup bagi alumni dan students-nya. Iklimnya mendukung, tinggal kitanya aja yang harus pintar – pintar memilah-milih jalur yang akan ditempuh nantinya.

Mari kita beralih ke tema karir akademisi (A), yang mungkin jika dibandingkan dengan pilihan karir B (business) dan C (Company) adalah pilihan yang tidak terlalu popular sebab tentu saja dari segi materi relatif tidak setinggi pilihan yang lain, juga dari sisi prestis mungkin?  Forum kemarin menghadirkan empat narasumber dari sisi yang berbeda dan mereka share mengenai pengalaman mereka. Mari kita bedah agar lebih jelas sebenarnya arah kita mau kemana?

Narasumber 1: Dari akademisi (pure)

Setelah bekerja di BBC beberapa tahun, ia memutuskan untuk kembali ke kampus menjadi akademisi dan peneliti. Apa alasannya? Lebih pada karakteristik pribadi. Coba dilihat lagi ke dalam diri kita, kalau kita orangnya individualis, lebih suka kebebasan dan kretivitas (tidak mau terkekang pada jam kantor, ingin bebas di luar ruangan, gak mau diatur – atur sama bos, gak mau terlalu sering bekerja dalam tim, dsb.), mungkin kita lebih cocok di dunia akademis.

Dunia akademis bisa menawarkan kebebasan yang lebih luas dibanding dengan di company, sebab kamu sebagai kamu sendiri, bukan bagian dari tim. Juga, bisa sambil nulis buku, bikin company kecil – kecilan, ngajar, riset juga kita yang ngatur, lebih bebas lah… Sounds suit your style?

Kalau iya, perlu dipertimbangkan juga bahwa masa kini ada yang namanya paper citation. Jadi, gak bisa seenaknya menang sendiri tanpa ada kriteria penilaian riset. There are lots of struggling scientists that beg for their papers/research to be cited. Life is hard, anyway..:p. Penilaian akademisi/peneliti sekarang adalah seberapa sering research nya di cited? Misalnya ditaruh di jurnal yang standar kualitasnya tinggi seperti ‘Nature’ akan meningkatkan kredibilitas.

Narasumber 2: Dari akademisi – company

Pembicara kedua adalah yang ‘membelot’ dari dunia akademisi. Setelah lulus dari PhD dan sempat menjalani dunia riset (PostDoc) selama beberapa tahun, ia tidak kuat dan banting setir bekerja di industri, pada kasusnya adalah bank besar Barclay. Apa sebabnya? Lagi – lagi masalah dari karakter diri sendiri. Ia tidak tahan dengan dunia riset yang sangat minim interaksi (karena sebagian besar individal – mengerjakan semuanya sendiri) dan lonely experience. Ya, lonely experience yang berkepanjangan pastinya kalau melakukan bidang riset yang hanya sedikit orang di dunia yang melakukannya (hiks, sedih).

Apalagi dalam dunia akademis (di luar negeri, biasanya) ada jalur – jalur khusus yang harus ditempuh sebelum mendapatkan posisi sebagai Faculty Member di suatu universitas (yang bagus research qualitynya), seperti 5 – 10 years period of Post-Doc. OMG, siapa yang tahan berjuang dengan lonely experience dalam waktu selama itu?

Alasan lain yang mendasarinya pindah dari dunia akademisi adalah kalau di industri, solusi yang kita ciptakan bisa langsung dipakai. Sementara di dunia riset, harus bikin paper dulu, publish ke conference ini, publish ke jurnal ini, meyakinkan mereka dulu, ke bagian patent, baru di refine lagi lewat universitas, lalu baru bisa digunakan. Hmm.. panjang ya!

Jadi, balik lagi ke diri kita sendiri? Apa sih yang mau dicapai dalam 5 – 10 tahun ke depan?

Kalau masih mau post-doc di riset dalam jangka waktu itu, ya mungkin silahkan kejar dunia akademisi… xD

Narasumber 3: Dari akademisi – startup – company

Narasumber yang satu ini kini bekerja di Google. Kok bisa? Padaha awalnya ia adalah peneliti juga. Jadi ceritanya setelah lulus PhD, ia juga merupakan President di Imperial College Union dan menjadbat sebagai chair di alumni association beberapa lama. Tak disangka, ia dengan 2 orang temannya membentuk satu startup bernama spider.io yang menurutku keren banget, tentang fraud detection. Karena perkembangan startup nya pesat dan teknologi yang ditawarkan juga Ok, maka Google membeli startup mereka pada tahun 2014. Jadilah ia bekerja di Google sekarang😀

Ada banyak pelajaran mengenai perbedaan bekerja di Startup dan big company.

Startup: PhD experience sangat dibutuhkan disini, karena harus fast self-starter learner, selalu menciptakan brand new ideas, bahkan work done until late nights (sangat sering tidak ada pemisahan jam kerja, setiap waktu bisa jadi bekerja). Tapi lebih bebas, bergerak cepat, benar – benar harus develop from scratch mulai dari infrastructure, dsb dan mengerikannya…. kalau you did wrong –> DIES. Kalau salah langkah, meski kecil aja, startup bisa langsung mati!

Big company: there are huge resources dan large impact, maksudnya kalau kamu develop something di Google pasti kan seluruh dunia langsung bisa merasakannya tanpa harus woro-wiri promosi sana-sini mengenalkan produk baru seperti di startup. Tapi susahnya adalah karena ada banyak teknologi di Google, maka integrasi antara satu bagian dengan bagian lainnya jika kita menbuat sesuatu juga lebih ribet. Perbedaannya, lebih stabil. setidaknya kalau satu orang buat salah, perusahaan gak langsung mati seperti di startup.

So, which one you choose?

Narasumber 4: Outlier

Ini narasumber benar – benar aneh bin ajaib. Lahir dari orang tua yang keduanya adalah professor, ia sudah tahu bahwa minimal ia akan dapat PhD. Setelah lulus dari Computer science dan bekerja lama dan enak di McKinsey, tiba – tiba ia tidak enjoy dengan hidup gemerlap dunia management consulting dimana ia bisa keliling dunia giving talk and presentation. Ia ingin belajar sesuatu yang berbeda, maka jadilah ia ambil PhD lagi di Cambridge di bidang Biology. Benar – benar dari nol. Disana ia akhirnya belajar banyak soal biology sampai lulus dan riset. Ternyata bosan… karena metodenya tidak bisa langsung digunakan (harus riset- publish di conference – tunggu di cited, dll).

Maka, ia ambil lagi PhD di bidang Finance. Setelah lulus dari sana, ia bekerja di bank, mengaplikasikan metode – metode numerikal yang tentu langsung terpakai di bank, in the same day! Senangkah ia? Tidak. Ia lagi – lagi bosan dan meninggalkan bank untuk melakukan PostDoc di bidang machine learning di neuro technology.Dan sekarang akhirnya ia bekerja di Imperial, balik ke akademisi… hmm… panjang ya? berapa PhD tuh diambil? =,=

Jadi, ringkasannya?

A (akademisi): harus enjoy teaching (not every professor is a good teacher, even he/she is a good researcher).

Teaching keeps academics young!

Karena ketika kita mengajar, otak kita selalu dipicu dan tentu itu akan meningkatkan efektivitas sebegai peneliti. Asik ya, jadi pengen ngajar lagi nih biar awet muda.. ^_^

Kalau kamu masu terjun di bidang ini juga harus siap mental untuk berkutat di riset lagi selama 5-10 tahun ke depan sebagai PostDoc, karena biasanya PostDoc fellowship hanya ditawarkan bagi orang – orang yang baru lulus PhD (ada batasan waktunya, maksimal sampai berapa tahun setelah PhD).

B (Business): Kalau tahan banting, siap mental untuk jatuh, siap untuk bekerja non-stop karena semua kinerja dan pencapaian perusahaan awalnya pasti harus bergantung pada kerja keras kita (gak bisa ngandalin orang lain kalau tim cuma berdua atau bertiga, semua punya tugas masing – masing). Kalau high-risk high-gain personality, mungkin cocok pilih ini?

C (Company): bagi yang mau cari aman dan kemapanan hidup, serta struktur yang pasti, tentu big company akan cocok karena lebih stabil. Jangan salah, disini company juga ada teaching-nya, ada mentoring untuk tim meski informal. Juga, publish journal. Company yang punya R&D pasti aktif sekali melakukan riset (bukan cuma akademisi/peniliti saja) dan aktif publish papers mereka. Tapi perlu ditekankan bahwa pilihan C tidak cocok untuk orang yang individualis, tidak suka terlalu  dikekang, tidak suka bekerja dalam tim, dan menginginkan kebebasan. Jadi bagi yang suka riset, tapi gak suka ngajar, dan takut untuk memulai start-up (karena terlalu bikin sport jantung). Mungkin pilihan C ini bisa diambil🙂

Intinya:

Patient before the next choice and take your time to choose

Sekarang pikir – pikir dulu, timbang – timbang, dan tentu saja, selesaikan PhD dulu!!
Oia, ada lagi quote dari mereka yang mungkin bisa membantu kita untuk menentukan pilihan. Jika kalian ditanya, apa yang kalian ingin lakukan di dunia ini, jika anggaplah tanpa memikirkan duit, uang, atau waktu… What would you do when you are free? Itulah sebenarnya passion kamu… Jika kamu melakukan dengan senang tanpa mikir materi (Yah, pak.. kalau saya ditanya gitu, jawabannya sih dari hati yang paling dalam: saya cuma mau nulis lag/bikin musik, nyanyi, dan nulis buku aja….. terus berharap banyak yang suka😀 –> jadi gak membantu pilihan A-B-C di atas deh).

Do what you fancy doing for free!