Revolusi 1G sampai 5G

Kamis lalu ada distinguish lecture dari Prof Paulraj dari Stanford yang ternyata merupakan penemu kunci inti dari lahirnya teknologi 4G. Weww….  Keren yah! Sehari – hari kita semua memakai penemuannya, bahkan susah lepas kalau gak ada mobile wireless, rasanya gimanaaa…gitu. Dengan hampir 8 billions pengguna mobile wireless di dunia, kontribusinya benar – benar membawa revolusi.

Sebenarnya topik telecom dan wireless benar – benar bukan wilayahku, this really my husband’s. Tapi mendengarkan lecture si Prof jadi membuka wawasanku mengenai apa sih sebenarnya yang telah berevolusi dari 1G sampai 4G.

Semua ini dimulai dari para ilmuwan terdahulu. Masih ingat nama – nama seperti Bose, Maxwell, Hertz, Lodge, Bell, atau Marconi? Yep, kalau mereka masih hidup sekarang, mungkin mereka sudah jadi selebriti di riset dengan impact factor yang tak terhingga. Dimulai dengan Maxwell – yang ternyata merupakan professor di King’s College London pada masanya, yang merumuskan banyak landasan teori mengenai teori elektromagnetik. Dilanjutkan dengan Hertz, yang bermain – main dengan teori gelombang dan frekuensi elektromagnetik. Jadi ingat zaman – zaman pas kuliah medan S1 mengutak – utik persamaan Maxwell dan Hertz, dibantuin mas juga #love :”)

Menarik, elektromagnetik seperti hantu…. tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, tapi eksis dan selalu mengintai… hihihihi… #tawaseram

Tapi yang merupakan titik tonggak teknologi wireless adalah Marconi. Berbeda dengan Maxwell dan nama-nama ilmuwan di atas, Marconi bukan dari golongan akademisi/ilmuwan, melainkan seorang enterpreneur! Marconi adalah seorang enterpreneur dan insinyur yang jenius. Tuh kan, lagi – lagi, enterpreneur lah yang bisa membawa segala teori menjadi kenyataan. Pada tahun 1902, Marconi membangun wireless transmission di London, yang sanggup mentransmit sinyal sejauh 1,500 miles. Sebuah terobosan baru bagi masyarakat di awal abad 20 xD

Teknologi telekomunikasi seperti radio dan telepon (biasa) terus berkembang selama abad 20, sampai pada akhirnya manusia mulai memikirkan komunikasi nirkabel (bahasa Indonesia nya wireless, bo..). Perangkat yang mewujudkan ini muncul pada tahun 1980, yang mengawali teknologi 1G. Mari kita telusuri jejaknya…

1G

Teknologi yang muncul pada tahun 1980-an ini memakai teknik FDMA (Frequency Division Multiple Access). Jangan tanya soal ini apa ya, aku juga gak ngerti (tanya suami aja, heheh..) dengan salah satu standarnya AMPS (Advanced Mobile Phone System). Industri yang menggawangi 1G ada Bell lab, NTT, dan Erricson. Pada tahun 1983, Motorola menciptakan mobile phone pertama (tadinya dimulai dari telephone yang attached di mobil dan besar. Jadi orang – orang kaya kalau naik mobil bisa bawa telepon, yang biasanya cuma bisa di rumah *wah, keren* – kata orang dulu). Mobile phone yang namanya DynaTak ini sangat bulky dan dulu orang – orang masih menganaktirikan teknologi wireless (dan lebih switch fokus ke optical system) karena dianggap  tidak ada masa depannya. Well, look at now, poeple, wireless is the lifestyle!😀

DynaTAC - mirror.co.uk

DynaTAC – mirror.co.uk

2G

Tahun 1990-an teknologi 2G lahir, yang standard paling terkenalnya adalah GSM (Global System for Mobile Communication). Teknologi di baliknya bukan lagi FDMA tapi TDMA (Time division multiple access) yang memungkinkan adanya frequency hopping sehingga meminimalisir terjadinya fluktuasi. Pemeran industri di 2G beberapa adalah Ericcson, Alcatel, dan ETSI. Yeah, I think I started to use mobile phone in this era (in 1998 when I first used ‘handphone’)

3G

Dekade berikutnya, tahun 2000-an adalah era-nya teknologi 3G. CDMA  (Code division multiple access) merupakan standar dalam 3G yang menekankan pada spread spectrum. Qualcomm, NTT Docomo, dan 3GPP merupakan beberapa pelaku industri dalam 3G.

4G

Inilah zaman sekarang, tahun 2010-an, dimana semuanya sudah beralih ke 4G. Sebenarnya ada dua standar dalam 4G, yaitu LTE (long term evolution) dan WiMAX. Tapi seiring berjalannya waktu, WiMAX hilang entah kemana, saya juga tak tahu. Dua teknologi inti dalam 4G adalah MIMO dan OFDM (frequency-division multiplexing).

MIMO antena inilah yang membawa Prof. Paulraj mendapatkan banyak penghargaan dan paten (OMG, bisa bayangkan kan berapa paten yang menghasilkan billion-dollar industry!! xD) dalam wireless communication. Pada tahun 1992, teknologi MIMO-nya Prof. Paulraj dicetuskan, yang memberi solusi mengenai spatial multiplexing dan multiplly spectrum. Temuannya ini dimanfaatkan dalam semua sistem wireless. Keren sekaliii, pak..🙂 #terharu . Sementara OFDMA – yang ternyata digagas oleh teman baiknya Prof.Paulraj, membahas mengenai teknologi signaling. OFDMA dan MIMO bersama membentuk packet switch.

Industri yang berperan dalam 4G banyak. Dalam infrastruktur, sebut saja Alcatel, Erricson, dan Huawei. Sedangkan dalam semiconductor, ada Mediatek, Intel, Qualcomm. Kecepatan 4G sendiri bisa mencapai paling tinggi sekitar 100Mbps. Hmm.. bagaimana dengan internet di tempatmu sekarang? :p

5G

The next generation mungkin akan tampil pada tahun 2020-an. Diharapkan bisa mencapai kecepatan 5-50 Gbps (yeah.. we need more and more speed). Coverage juga semakin meluas dengan sinyal yang uniform. Prediksi beliau adalah teknologi 5G bakal mengaplikasikan large MIMO, dengan lebih banyak multiply spectra pada 28-90 GHz mm band. Pheww… we’ll see what happen next ^_^

Dalam jangka waktu 20 tahun, dari 1984 – 2004, teknologi wireless meningkat pesat dengan 1-juta-kali-lipat coverage, kecepatan, dan pelanggan.

Fantastis!

Disadur dari kuliah Prof. Paulraj: http://www.commsp.ee.ic.ac.uk/~icore/Paulraj.html