Wejangan Andrea Hirata

Hal pertama saat menanggapi penulis adalah JANGAN mudah PERCAYA…

Jangan mudah percaya dengan apa yang ditulis. Kira – kira begitulah yang kata bang Andrea Hirata. Mengapa? Pikir sendiri deh…

Sosok yang penuh inspirasi ini Nyo jumpai minggu lalu (24/07/15), saat ia menyempatkan diri mampir ke London untuk sharing. Kehadiran Andrea Hirata di UK utamanya untuk menerima penghargaan anugrah Doktor HC dari University of Warwick dalam bidang sastra. Wow, amazing sekali….!! Sudah sepatutnya lah Andrea Hirata menerima gelar itu tanpa harus melalui PhD 4 tahun disini, wong karyanya sudah mendunia dan diterbitkan ke dalam 34 bahasa! Benar – benar bikin bangga Indonesia🙂

Bersama anak – anak PPI London, Nyo ikutan sharing dan mendengarkan wejangan bermanfaat dalam bidang kepenulisan dari sang ahli. Tapi ujung-ujungnya, Nyo malah jadi curhat… Terutama curhat soal buku – buku *fiksi* Nyo yang selalu berujung pada penolakan redaksi.

“Sabar… Nikmati saja proses menulisnya,” begitu ujarnya. Yah, memang, saya harus terbiasa menikmati proses jatuh dan insyaAllah akan ada saatnya untuk bangkit. Untuk penulis pemula dengan kepekaan sosial level jelata macam saya ini, kata-kata Andrea Hirata sudah sangat membangkitkan semangat. Sudah 4 tahun saya berkelana mengirimkan naskah dari penerbit satu ke penerbit lain, mungkin memang perlu re-write. Menurut Andrea Hirata memang seperti itu prosesnya.

Beruntunglah ia terlahir dengan darah Melayu, dimana budaya story-telling sangat melekat sehingga gaya bercerita dalam bukunya sangatlah mengalir. Tak heran, draft novel Laskar Pelangi (yang sebelumnya ditujukan cuma untuk dikirim ke Bu Muslimah) bisa selesai 600 halaman dalam 3 minggu saja! Waaw… kemarin Nyo coba bikin novel dalam 1 bulan cuman jadi 150 halaman, hahah, jauh banget… udah gitu novel Nyo langsung ditolak, cupu ah.. xD

Cerita demi cerita yang penuh ilmu, lancar mengalir dari seorang Doktor Andrea Hirata. Kerendahan hatinya membuat kami jadi tak sungkan bertanya macam – macam (sampai lama banget) padanya. Jujur, ia lah orang yang menginspirasi ku untuk datang ke Eropa ini.

Tahun 2005, seperti biasanya, Nyo sering mampir ke toko buku belakang Salman, sekadar membeli buku-buku cerita/bacaan mingguan. Cover buku Laskar Pelangi langsung menyita perhatianku dan langsung Nyo baca tanpa terputus. He is so brilliant! *_*

Tahun depannya, 2006, Nyo bertemu dengan si pengarang Laskar Pelangi di CC ITB namun tak sempat bertegur sapa ataupun bertanya panjang lebar. Tapi, buku Tetralogi-nya, terutama Edensor, benar – benar menarik Nyo untuk sampai di Eropa (keterusan bahkan dari 2009 di Eropa terus). Nyo juga ikut-ikutan ambil beasiswa Uni Eropa untuk Master biar seperti bang Andrea Hirata, bisa sekolah ke Inggris dan Prancis (Nyo nambah ke Spanyol juga tapi).

Alhamdulillah…. Semoga menjadi amal bang Andrea Hirata sudah membuka alam-alam pikiran kami yang dulu masih sempit ini.

Mulailah dari permulaan

Nampaknya ia sudah hafal betul akan pertanyaan klasik dari audiens di tiap sesi sharing, “Saya mau nulis, tapi gak tau harus mulai dari mana?”

Sebelum ada yang mengajukan pertanyaan, Andrea Hirata menekankan, “Ya, mulailah dari permulaan..”

Tak masalah meskipun novelmu dimulai dengan kalimat pembuka ala tugas karangan anak SD, ‘Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang pohon filicium tua yang rindang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD.’

Itu adalah cuplikan paragraf pembuka buku fenomenal Andrea Hirata ‘Laskar Pelangi’. Terlihat sederhana, tapi sangat mengena. Indah… He’s so talented!  o__o

Sambil menikmati hidangan khas Indonesia di Nusa Dua, Andrea Hirata berbagi mengenai 10 tips kepenulisan. Mari kita bahas disini:

1. Karakter

Penerbit selalu memperhatikan betul karakter. Mereka suka buku dengan karakter – karakter yang kuat (yah beberapa bukuku end-up dikoreksi redaksi katanya karakter tokoh-tokoh kurang kuat, well… mungkin aku harus bikin lebih kuat lagi tapi masih belum tau caranya).

Sebisa mungkin 80% karakter yang memberi arwah bukumu keluar dalam 10 halaman utama. Pantas, beberapa redaksi meminta hanya 10 halaman pertama karena bagian ini sangatlah menentukan! Menentukan apakah pembaca bakal lanjut membuka halaman ke-11 atau menutup buku dan mengembalikannya ke rak.

Blimey!

Coba deh, kalian masih ingat kan karakter ke-10 anak Laskar Pelangi, atau bapaknya Ikal yang pendiam? Juga karakter sahabat Harry Potter, seperti Ron dan Hermione? Semua itu melekat di ingatan karena karakter mereka sangat kuat.

2. Writing devices

Writing devices, yaitu tempat dan karakter berperan bukan hanya untuk penunjang, tapi merekalah yang bercerita.

3. Kutukan 3 Bab pertama

Selain 10 halaman pertama, ternyata kutukan lain juga muncul di 3 bab pertama. Jika dalam 3 Bab pertama penulis cuma the-man-himself yang bercerita, itu sudah membosankan. Gunakanlah writing devices di atas, jangan hanya ‘aku’.

Misal, kamu membuat buku travelling tapi cuma bercerita tentang aku ke sini, terus aku kesana dong, lihat ini, lihat itu… boring gak sih? Malah terkesan riya nantinya. Jadi, biarlah tempat yang kamu kunjungi dalam buku travelling-mu yang bercerita.

4. Marjinal

Ini problem bukan hanya bagi penulis. Namun, bila penulis memarjinalkan dirinya sendiri, bisa gak jadi – jadi tulisannya. Misal, baru nulis satu halaman langsung mikir, ‘Duh, kenapa tulisanku gak mirip tulisan Dee ya? Jelek deh…’

Atau, si penulis berusaha mengikuti gaya menulis Tere Liye padahal terkesan memaksakan. Well, just write.. Nanti kamu akan menemukan gaya bahasa berceritamu sendiri.

5. Unsur fiksi

Bagi pemula lebih disarankan untuk menulis fiksi (selain buku How To: How to dapat jodoh, How to use Microsoft Word, How to be a rich man, How to cook in 30 minutes, hehehe….cem-macem How to?). Karena apa? Karena dalam menulis fiksi kamu tidak perlu menjadi sosok yang terlalu menginspirasi, seperti para tokoh di buku biografi.

To be a good person is much more better than to be a good author…

Yup, itu mah perjalanan sepanjang hidup, to be a better person. Perjalanan to be a better person inilah yang tercermin dalam buku-buku dan lagu-lagu yang kita tuangkan.

Unsir fiksi umumnya ada tiga, yaitu intelektual, emosional, dan spiritual.

Problem bagi kita para akademisi, biasanya kalau menulis novel, sisi emosionalnya rendah sekali. Namun, dari sisi riset, sangatlah mendetail. Kebalikan dengan buku yang hanya menyajikan sisi emosional tapi tidak di riset dulu mengenai latar belakang atau sisi historis writing devices yang ia tulis, malah bisa jadi bahan tertawaan. To write a better novel, ketiga unsur itu harus menyatu.

Sharing bersama Andrea Hirata - London

Sharing bersama Andrea Hirata – London

6. Dinamika

Dynamic is the basic human perception of beauty

Layaknya sebuah lagu, sebuah novel juga perlu dinamika, ada pp, mp, mf, f.. yah dinamika. Jika dalam lagu, ada intro, reff, bridge, dan interlude, dinamika seperti itu juga harus bisa dirasakan dan didefiniskan dalam bab-bab dan paragraf novel. Dengan begitu, sebuah novel akan mengalun indah.

7. Soul

Yang dimaksud soul disini adalah tema sebuah buku. Bagaimana kamu mendefinisikan bukumu itu, tentang apa? Kalau ditanya, apa sih tema atau soul dari Laskar Pelangi? Ternyata, menurut Andrea Hirata, Laskar Pelangi bukan tentang sepuluh anak – anak yang senang belajar dengan Bu Muslimah dan bermain di pantai Belitung. Bukan… Bukan itu.

Tema dari novel tersebut adalah: Painful ironing, ungkap Andrea Hirata.

Ironis dan menyedihkan, anak – anak dari pulau penghasil timah kedua terbesar di dunia kala itu, yang seharusnya kaya dan berpendidikan, malah seperti terjajah di tanah sendiri. Seperti tikus mati di lumbung padi. Mereka tidak bisa sekolah dengan baik dan kemiskinan terus mengintai.

Jadi, tentukan dulu apa soul dari novelmu. Mungkin menurut saya, soul itu seperti dua kata kunci jika pembaca ditanya, apa kesannya setelah membaca novel ini?

8. Visual

Masyarakat Indonesia terbiasa dengan interupsi dan paparan visual, mereka lebih terbiasa menonton film dibandingkan membaca buku. Itulah sebabnya, jika ingin novelmu laku di pasaran Indonesia, buatlah deskripsi yang kuat akan tempat dan karakter. Buatlah seakan saat mereka membaca novelmu, pembaca melihat gambar yang jelas.

9. Respon

You don’t tell what readers can see, you don’t see what readers can read

Berlatihlah untuk efisien merespon kalimat satu tokoh dengan respon lain. Jangan bikin respon yang alay dan gak penting buat pembaca. Misal, “Hari ini panas ya…,” keluhnya seraya mengikat rambutnya ke atas. “Iya, panas ya, mataharinya terik, suhunya 35 derajat, dan bajuku basah penuh keringat.”. He?

Yang perlu diperhatikan lagi adalah common sense. Dalam plot cerita, harus ada logika juga akan suatu karakter. Misal, seorang penjudi, tapi dia rajin ibadah, silaturahmi, mencuci, menabung, dan menyetrika. Hmm… agak aneh? Bisa sih, tapi common sense di masyrakat akan karakter itu  bukan begitu. Kecuali pencitraan yah, sekarang banyak deh yang jago :p

Menyambung soal respon, bahkan jika tidak ada respon itu juga OK. Contoh lagi, banyak adegan dalam film yang hanya menampilkan scenes tanpa dialog. Namun, terkadang adegan tanpa dialog tersebutlah yang ‘dalam’ dan bisa memberikan sentuhan tersendiri bagi yang menonton. Cobalah kalau tidak perlu kalimat respon, gambarkanlah dengan baik emosi agar menyentuh hati pembaca. Tanpa bertele-tele!

10. Konteks

Meletakkan ide dalam konteks, meletakkan konteks dalam perspektif

Ide –> konteks –> perspektif, jika diletakkan dengan baik dalam alur cerita novel akan mengangkat keunggulan bukunya. Perspektif atau sudut pandang bercerita seorang penulis bisa diambil dengan kreatif. Bukan hanya dari sudut pandang orang pertama, ketiga, tapi bisa juga menyajikan alur cerita dengan sudut pandang paralel antara ruang dan waktu.

Buat sekreatif mungkin tapi harus jelas ide apa yang akan disampaikan oleh novelmu. Disinilah tantangannya😀

Itulah ke-10 inti tips kepenulisan dari Andrea Hirata…..

Alhamdulillah…. wejangan pak Doktor Andrea Hirata benar-benar memotivasi diriku yang tadinya sudah patah arang menulis fiksi, jadi semangat lagi. Terimakasih atas sharing-nya yang sangat berharga… Semoga ilmunya selalu berkah, novel-novelnya selalu sukses, dan menebar lebih banyak lagi inspirasi.

Doakan semoga Nyo bisa juga menerbitkan buku yang menginspirasi dan dibaca banyak orang seperti Andrea Hirata… Yah, kalau gak kesampaian, setidaknya bisa jadi penulis buku PhD Thesis sendiri deh, hahah, terus di publish di journal :P

Di ujung pertemuan, kita semua PPI London malah nyanyi karaokean Laskar Pelangi bersama sang penulis, hihhi… Senaaannggg……..😀

Sesi karaokean Laskar Pelangi dgn bang Andrea Hirata 😅

A video posted by Vanya2v (@vanya_2v) on Jul 23, 2015 at 4:07pm PDT