Pertamax Student-mom

I’ve been a full-time (at-home) mom…

I’ve been a working-mom..

and now, a student-mom…

Pertama kali jadi student-mom rasanya, seperti up-side-down. Mungkin bagi kebanyakan ibu-ibu yang sudah duluan jadi student-mom sudah biasa menjalani aktivitas kampus dengan rumah tangga dengan sejalan. Jadi mahasiswa ‘single’ selama 4 bulan kemarin memang asik dan seru. Saat mereka berdua datang, hmm… tambah ‘seru’ deh.

Lliburan summer untuk adaptasi si kecil supaya tidak jetlag (dan Alhamdulillah gak terlalu jetlag sih setelah 2 minggu) menyenangkan. Kami pelesir ke Edensor, negeri dongeng ala Laskar Pelangi di Inggris yang layaknya desa sendiri karena sepiiii… Di dekat sana, ada farmland di Chatsworth House. Cocok sekali buat anak – anak kecil, bisa bermain dengan hewan-hewan ternak yang lucu, seperti guinea pig, kelinci, kuda poni, domba, aneka jenis ayam, dan sapi. Lalu, mampir ke Oxford dan Bicester Village, desa belanja barang bermerk (tapi pulang dari sana gak nentang satu tas pun, nganter aja :p).

Edensor

Edensor

Oxford

Oxford

Disini, sepertinya jarang yang masih student udah punya anak. Nekat, mungkin itu pikir mereka. Maklum saja, beasiswa atau penghasilan student berapa sih? Biaya sewa di London berapa sih? (bisa lebih besar dari beasiswa sendiri) Biaya daycare/nursery anak berapa sih? (paling murah £1,000/month)… belum bill lain-lain dan groceries, apalagi transport. Nekat bawa keluarga? Iya.

Disini, rata-rata orang lokal (or EU) baru punya anak umur 35-40 tahun. Supervisor ku aja anaknya baru umur 1 tahun, wew, saya jadi merasa tua. Wajar sih, mereka sangat perhitungan. Kalau karir sudah oke, baru mereka berani untuk raise children. Mereka ingin yang terbaik buat keluarganya setelah settled.

Saat ini justru aku yang masih beradaptasi jadi student-mom, karena tiba – tiba me-time yang lowong dulu jadi nyaris gak ada. Baru bisa nulis dan update lagi sekarang, tapi belum sempat baca banyak buku-buku lagi. But at least now I can prepare 3-meals a day for them…

PhD disini memang seperti ‘ngantor’ tapi lebih fleksible. Jadi, kegiatan sehari-hari, dari Senin-Jumat (weekdays), pagi -pagi setelah si kecil bangun, langsung ku mandiin. Tak lupa, selalu ada balada sebelum mandi: mewek-mewek ogah mandi karena hawa sudah mulai dingin, autumn. Habis mandi, nyiapin dan nyuapin susu plus sarapan si kecil. Kalau sudah selesai, baru berangkat ke office sekitar jam 8 pagi. Biasanya lagi-lagi ada melodrama: merengek mau ikut ke kampus. Akhirnya, kalau gak dingin, dia ikut nganter naik otoped.

Di office, ya doing experiment atau belajar baca-baca atau attend talk, etc. Jam 12an udah balik lagi ke rumah, buat masak dan nyiapin lunch semua, serta makan bareng. Habis zuhur, jam 1 an kembali lagi ke office, nerusin kerja sampai jam5an. Sampai di rumah biasanya jam 6, langsung masak buat dinner. Setelah itu, abis sholat langsung tidur, rasanya sudah teler banget dan cuma pengen istirahat. Maklum, kadang as a woman, suka pengen ngerjain semua household work sendiri, gak mau share… tapi ternyata gak sanggup, heheh… xD . Jadi bayangin ntar kalau suami uda mulai work/study tahun depan InsyaAllah, gimana ya, mudah-mudahan gak terlalu burden kerjaan rumahnya.

Sampai sekarang gak pernah sih bawa – bawa kerjaan kampus ke rumah (semoga jangan deh). Kalau sudah di rumah, fokusnya sama yang di rumah. Meskipun masak cuman ala kadarnya, yang penting my two boys bisa makan dan bergizi. Meskipun, my parenting skill and social life yang lacking juga, tapi ya at least I try… =,=;

More important to get it done, rather than have it perfect (from book Lean In)

Yang bikin kecewa justru dari sisi berat badan. Sudah makannya lebih sedikit, bolak-balik kampus-rumah terus, tapi malah naik. Itu gimana…ya? Mungkin karena sudah ibu-ibu (lagi sadar). Seperti alasan klasik dari ibu-ibu menanggapinya, “Ah, udah ibu-ibu mah susah… Makan angin aja langsung jadi lemak..” =,=;

Setelah baca buku Lean In, yang membahas soal wanita, keluarga, dan karir. Disana, pada poin terakhir yang aku ingat, ada kalimat bahwa wanita harus lebih ambisius dalam karir dan pria harus lebih ambisius untuk urusan rumah. Untuk poin itu, aku lebih setuju jika kedua makhluk dari ‘planet’ berbeda saling membantu dalam kedua ‘teritori’ tersebut. Karena, meskipun tulang rusuk bisa menjadi tulang punggung tapi… lama-kelamaan akan rapuh. Sebab fungsi tulang rusuk dan tulang punggung memang berbeda saat diciptakan.

So far, I enjoy both worlds..

Mungkin, yang lebih jadi tantangan sekarang adalah perkembangan PhD ku. Maaf jadi curhat.. :p . Berhubung ini proyek baru, kolaborasi dengan beberapa institusi dan universitas di Inggris mengenai abdominal MRI jadi arahnya masih belum jelas. Sementara waktu berjalan terus, penilaian dan ujian 9 bulan sudah semakin dekat, tapi supervisor masih belum menentukan arah. Memang sih setiap hari dan setiap weekly meeting selalu saja ada metode baru yang coba ditelaah atau di run. Tapi… tujuannya, belum tau #galau

Kegalauan mulai saat kolega di office yang sesama 1st year student sudah mau publish paper ke-2 nya. Glek! Perasaan aku belum ‘apa-apa’ kok dia sudah ke-2 aja? Amazing! (sambil melotot). Oh ternyata dia mujur dan beruntung, karena dapat project ‘limpahan’ paper dari post-doc sebelumnya. Memang di grup ku, untuk menjaga nama baik kampus, mereka hanya publish paper saat benar – benar layak (biasanya rata-rata pas 3rd year PhD) dan hanya ke jurnal2/conference tertentu. Jadi, gak bisa ‘ngasal’.

Jika ingin meneruskan karir di akademia fantasi indos**r , sepertinya persoalan publikasi dan citation menjadi isu penting. Salah-salah atau lupa men-cite sang suhu yang mencanangkan suatu metode menjadi  isu sensitif. Misal, pas publish di conference, sang suhu datang menonton dan kamu gak men-cite beliau, bisa dibunuh bakal diungsikan deh ke antah berantah dunia research.

Solusinya: rajin baca. Rajin menelaah literatur, nih sumbernya dari mana sih pertama kali. Rajin baca blog-blog orang yang membahas topik research mu biar tahu perkembangan ter-update. You have to know what’s going on out there

Balik lagi ke student-mom. Untuk yang mau ke UK, sayangnya disini peraturan gak membolehkan a mom bawa masuk anaknya tanpa partner or suaminya jika masih ada (belum cerai atau wafat). Jadi, kalau mau bawa anak, harus bawa bapaknya juga ya… Yang pasti, setelah my two boys disini, meskipun capek+repotnya dobel tapi senengnya juga dobel, Alhamdulillah…🙂