Merayakan ‘Women in Computing’ di Kantor Facebook

Dua minggu ini marak diramaikan Grace Hopper Celebration (GHC) of ‘Women in Computing’. Siapa itu Grace Hopper? Grace Hopper (1906 – 1992) merupakan computer scientist wanita dan salah satu programmer wanita pertama di dunia. Oleh karena itu, namanya digunakan sebagai pemicu event yang mengukuhkan porsi wanita di bidang computer science. Acara utamanya tentu dirayakan di US, tapi London juga tak mau ketinggalan. Beberapa event diselenggarakan oleh ABI (Anita Borg Institute) Local seperti yang Nyo ikuti kemarin, GHC di Facebook (mereka juga mengadakan event di Skype office, ThoughtWorks, dsb).

Begitu masuk reception kantor Facebook langsung disambut oleh penjagaan ketat, ID, barcode, dsb. Peserta yang sudah terdaftar harus sign-in dulu sebelum masuk, caranya tinggal klik di akun FB mu. Dalam hati bingung, eh kok tiba-tiba udah terdeteksi akun FB ku, dari mana taunya ya? (baru inget, ya iya lah tau, wong kantor FB =,=;). Lalu, kita ke lantai 8 dimana event GHC berlangsung.

Sebelum kick-off, networking antara para wanita (ya semua yang datang ya kaum hawa) berlangsung hangat, diselingi dengan kudapan ringan (ternyata disediakan tapas dengan ayam halal juga, dan vegetarian). Beberapa merupakan students, akademisi, juga employees (dari Microsoft, FB, start-ups, dsb). Lucunya, beberapa dari mereka beberapa bulan lalu baru saja ke ruangan yang sama di kantor FB ini, untuk Hackatonn khusus wanita. Waaks… sounds scary and intimidating for me😦 . Heheh… sangar yah, mereka menyelesaikan masalah infectious disease tapi dengan aplikasi FB, jadi bisa di trace dari FB friends siapa yang tertular penyakit tsb. Sounds even scarier…😦

Welcome to FB

Welcome to FB

Pukul 8 malam, saatnya kick-off event yang diinisiasi oleh ABI Local London. Screening GHC dengan keynote speech COO Facebook – Sherly Sandberg. Oh ini toh wanita inspiratif di balik buku ‘Lean In’ yang dulu Nyo pernah baca. Kece… meskipun sudah berumur, tapi masih pakai rok mini untuk bincang-bincang GHC ini, eheh… Meskipun tidak sepenuhnya setuju dengan semua isi buku ‘Lean In’ (karena terlalu feminis?) dan apa yang ia utarakan, tapi Nyo sangat menikmati bagaimana ia begitu semangat untuk kemajuan wanita.

Ada tiga poin utama yang ia sampaikan untuk para wanita di GHC:

  • Be more ambitious

Seperti di bukunya, Sheryl membahas banyak mengenai negosiasi. Bagaimana harusnya wanita jangan takut untuk negosiasi, apalagi untuk naik gaji/promosi. Please, kita berhak untuk itu, apalagi kalau ada perbedaan gaji antara wanita dan pria, jangan mau…

What would you do if you weren’t afraid..  -> seperti tag di sampul bukunya

Jangan malu untuk berambisi, disaat stereotip umum melihat wanita yang terlalu bossy/ambisi masih ‘anti’. Jangan menutupi kepintaranmu, katanya lagi, disaat stereotip umum lebih mementingkan kecantikan fisik wanita. Terkadang memang unconcious bias memandang wanita dengan stereotip2 tersebut. Jangan takut untuk memimpin… Find opportunity to lead! 

Untuk menjadi PD memang tidak mudah. “Confidence and leadership are muscle,” tutur Sheryl. Kedua hal tersebut memang harus dilatih terus dan gak bisa datang tiba-tiba. Kalau tidak dilatih, kita akan kehilangan ‘power’-nya. Learn to use them… 

Kehilangan suami beberapa bulan lalu sempat membuatnya merasa kehilangan confidence. Tapi seorang teman psikolognya memberi saran, coba setiap hari sebelum tidur, write down 3 things you did well… yep, things you did well, not things you feel grateful, not things you like that day, etc. Awal masa-masa kehilangan sulit baginya untuk melakukan, bahkan ia hanya menulis hal simple seperti, made a coffee.. hmm.. Setelah ia coba terus, confidence-nya bangkit kembali.

  • Peer support

Ia telah menbangun ‘Lean In’ circles di 132 negara (konon sudah lebih dari 25,000 circles). Circle merupakan satu grup wanita dimana tiap bulannya diadakan meeting/mentorship untuk saling dukung mencapai goal, saling memotivasi, dsb. Ini merupakan salah satu bentuk dibutuhkannya peer-support bagi wanita untuk berbagi dan menyokong satu sama lain.

Peran men juga penting bagi women. Jadi ingat di bukunya ia sempat membahas mengenai, find a true partner! Maksudnya yang bisa membantu dan gak anti sama wanita yang lebih maju mungkin ya? :p. Sepertinya gak akan mungkin ya Sheryl bisa se-maju dan excell begitu karirnya kalau suaminya masih menganut, “gaji lo gak boleh lebih dari gaji suami..” atau “karir lo gak boleh lebih dari gue dong” atau “udah.. di rumah aja, ngurus rumah, main sama anak, masak-masak aja..” (well, sebenarnya aku menganut yang ini sih, enak banget kalau jadi istri yang ini. Tapi sayang, suami menyuruh sebaliknya hahah…)

GHC by ABI.local

GHC by ABI.local

  • Stay in tech

Ada cerita saat ia sedih mendapati teman wanitanya meninggalkan dunia tech untuk bisnis di bidang lain. Ia sempat mencegah, “Please don’t go.. stay.. stay in tech.” . Menurutnya, inilah industri yang well-paid, high-impact, dan flexible. Ya, setuju, lebih flexible menurutku juga, sebab kita bisa ngerjain dimana saja toh, asal ada komputer dan internet. Fleksibilitas juga lah yang memudahkan kaum ibu untuk bisa lebih bekerja.

Horeee… hidup tech-industry! I will definetely stay in tech-world, Sheryl…😀

Swags..

Swags..

Setelah itu, ada diskusi dan tanya jawab antar peserta. Ada tiga orang karyawan Facebook yang berbagi pengalaman, 2 orang wanita tulen, tapi sang manajer 1 lg itu… Maaf, hakul yaqin ku sih mengatakan bahwa ia bkn dari kaum hawa asli meskipun memiliki ‘barang’ yang sama (buatan), rambut panjang, nama dan gerak2 cwe, tapi tubuh, suara serta mukanya masih cwo, gk bs boong. Mungkin ini adalah salah satu cara FB menghargai kaum L**T.  Sepertinya culture dari company benar – benar kuat… Hmm, dalam hati langsung, “gak cocok.. gak cocok disini.. bahaya..” x_x

Selanjutnya diskusi wanita-wanita tulen tentang karir dan keluarga. Well, tampaknya semua jadi masalah juga disini sebab nursery hanya sampai 5 sore sedangkan kita seperti terbatas harus pulang kantor jam segitu. Masalah pregnancy dan parenting juga dibahas, yang namanya ibu-ibu, di event begini juga tak melulu soal computing, tapi ‘problems behind that’.

Setidaknya acara GHC seperti ini bisa jadi ajang saling memberi semangat bagi wanita yang memilih jalur karir di tech and computing stuff…bahwa you’re not alone, they also have similar problems to face like yours. Support each other..🙂