Tulisan POP Ilmiah di Media

Minggu lalu ikut workshop mengenai menulis artikel ilmiah di media. Narasumbernya merupakan lulusan doktor Oxford, yang juga senior reporter/editor di jurnal Nature dan majalah New Scientists – sekarang punya gawe sendiri di bidang kepenulisan ilmiah. Sebenarnya cakupannya bukan mengenai menulis saja, tapi bagaimana mengkomunikasikan karya ilmiah ke media – tentu dari sisi jurnalistik.

If scientists do not communicate it, no one would do it (Carl Sagan)

Ya, setuju dengan quote Carl Sagan (thanks to him, I never get bored reading his sci-fi but real Cosmos book)… Kalau bukan kita yang mengkomunikasikan hasil riset, siapa lagi? Orang lain? Lah, yang ngerjain riset situ kok, emang orang lain ngerti? Nah, cara agar orang lain memahami apa yang kita lakukan lah yang butuh ‘perjuangan’ menjelaskannya.

Pernah gak sih kalau sedang kongkow bareng teman-teman (awam) ditanya, “Sekarang PhD-nya lagi ngerjain apa?”

Hmm… bingung kan jelasin dari mana? Hahaha…. lalu tertunduk dan terdiam lama, “Ehemm… anu… ngerjain.. mmm.. ya itu…”. Pusing sendiri. Nyo sendiri kalau ditanya harus jelasin dalam waktu 30 detik mungkin agak ribet ya. Coba Nyo jawab begini, “Ya, lagi ngerjain abdominal MRI analysis pakai random forest dan convolutional neural network.”. I know, kalau kalian dari geek side pasti ngeh, tapi kalau ditanya sama let say, nenek mu… jawab opo toh? Yang ada bakal mikir gini, “Forest? Hutan apa sih, kok dimasukin ke dalam tubuh/abdomen tuh gimana caranya?”. Krik.. krik.. krik… Bukan si nenek yang salah, tapi itu namanya kitanya gak bisa jelasin :p

Jujur, baru pertama kali di kuliah itu saya menyentuh versi cetak Nature dan New Scientist. Perawakannya seperti majalah biasa, yah seperti majalah Gadis, Femina, AyahBunda gitu, tapi kalau dibuka dan dibaca…. Wuzzz… isinya beraaatt. Meskipun yang disampaikan adalah hasil-hasil riset terkini, tapi mereka memastikan bahwa semua orang (dewasa) dengan background apa pun harus bisa mengerti. Tuh, hebatnya….

Popular science writing berbeda dengan menulis abstract di conference, misal. Di kuliah itu, kami menelaah bagaimana mentransfer abstrak menjadi artikel pop ilmiah. Ini rumusannya:

Paper to pop-sci

Paper to pop-sci

Cerita untuk di artikel tentu beda dengan struktur di paper, kalau di paper dimulai dengan Introduction-Method-result, dsb, maka kita ‘balik’ jadi inverted triangle (gambar di atas) rumusannya. Inverted triangle yang disusun untuk artikel pop-ilmiah menaruh key-point atau inti dari temuannya dan poin “so what?”(mengapa pembaca peduli akan itu) di bagian awal. Jika pembaca tahu apa poin pentingnya dan mengapa mereka harus tertarik, baru kita bisa menulis detail lebih lanjutnya.

Kebayang gak sih kalau editor dan jurnalis Nature/New Scientist tiap minggunya harus bekerja cepat dan keras mengekstrak paper jadi 200-kata artikel ilmiah pop (di bagian News Brief, mis). Kalau gak ngerti isi papernya bisa bikin salah paham. Kebanyakan yang bekerja sebagai jurnalis pop-ilmiah disana adalah lulusan phd, jadi maklum lah kalau mereka sudah terbiasa baca paper banyak.

Prinsip popular science writing adalah:

  1. Mind reading

You must know your audience. Asumsi target pembaca yang bakal membaca artikel tersebut. Kalau New Scientist, asumsi mereka menargetkan pembaca adalah remaja 17 tahun yang cerdas. Seharusnya tahu, apa knowledge yang mereka sudah punya, anggaplah basic science, math, sudah punya, jadi bisa memasukkan istilah-istilah ilmiah kimia/fisika anak SMA.  Lalu, pressures and questions they will be asking ketika mereka membaca artikel tsb. Harus grasp the audiences dengan interes yang berbeda. Informasi harus terstruktur dan can be flowly read.

   2. Realistic

Artikel Pop ilmiah ini bukan buku teks. Fungsi artikel pop ilmiah hanya untuk inform people, not to turn people into experts to that subject. This article is just to inform people about our (of the scientists’) work and why matters, NOT to provide education.

   3. Sell story

Selain realistic  on audience, artikel tentu saja harus menjual (ya kalau gak, gak laku dong majalahnya..). People care on issues that relate to us, such as problems in everyday life, our world and how it affect us. People mostly respond to something close to them.

Memang sih artikel pop seperti ditemukannya fosil dinosaurus atau planet di galaksi antah berantah menarik. Tapi coba jika disangkutkan dengan efek penemuan tersebut terhadap our nowadays life, pasti bakal lebih ‘berkesan’.

   4. Active voice

Use active voice rather than passive. Avoid ambiguity and convey objectivity.

3 golden rules:

  • Know exactly what you mean
  • Say plainly (short, cut words – jangan bertele-tele)
  • Choose worlds

Yep, choosing the right words! Do not use languages as in research paper yang menggunakan banyak jargon. Juga jangan memilih kata-kata yang memiliki banyak makna. Misalnya, kata ‘agen’. Orang komputer AI akan menyangka, itu adalah agen untuk artificial intelligence, orang kimia berpikir kalau itu adalah agen untuk reaksi kimia, dan para ibu2 akan merasa bahwa itu adalah agen 007. Nyemmm… =,=;

Jadi, gunakanlah kata – kata seperti di artikel ilmiah di koran harian. Jargon diganti dengan kata – kata dengan kalimat yang sama maknanya (deskriptif).

   5. 5W + 1H

Make sure you understand what has happened. Saat menginterview dan menulis kembali, jangan salah – salah menulis 6 komponen utama jurnalistik itu.

Easy reading is hard writing…

Yah quote diataslah yang membuat bukuNyo gak pernah lolos… saat membaca karya teman lain atau karya Andrea hirata, sepertinya satu kata demi satu kata ada rasanya dan dipilih secara khidmat. Aaaah… *stress sendiri* *saya orang random express*

Jika mengirim artikel ilmiah ke media, dari segitu banyaknya artikel, bagaimana sih biar bisa lolos (or setidaknya gak langsung di delete/buang tong sampah) sama editor? So here is how to communicate with journalist.. Secara mereka kerja rodi menyortir artikel, yang pertama kali dilihat adalah:

  • What is it about?
  • Why it matters? So what? (why should the audience care)
  • Is it news?
  • Interesting to readers?

Bukan hanya tulisan sih, umumnya media. Saya kagum bagaimana beberapa kerabat media jurnalis bisa menyulap sesuatu yang biasa saja, eh tiba-tiba bisa jadi ‘sesuatu’ dan jadi berita. Tak jarang sih misal di TV indo, kadang terlalu banyak sesuatu yang biasa saja/gak penting diangkat jadi berita, sementara sesuatu yang penting gak disorot. Well, politics play its role in media… Tentu, dimana-mana😀

Balik lagi ke berita ilmiah…

So how science hits headline? Memang jarang tapi bisa kok, misal dikaitkan dengan cerita gosip, berita press release terkini, dsb. Mengapa suatu riset bisa jadi berita? Bisa disangkutpautkan dengan suatu publikasi, presentasi, penemuan mutakhir yang berimpact besar, atau terkait dengan proyek negara.

Bagi science journalist: Objectivity is the 1st loyality to their audience. Dari berita yang disampaikan harus jelas dari researchers nya, mana yang penemuan baru, mana yang masih hipotesis? Harus objektif..

Ada tendensi dari journalistik online dimana mereka dapat pemasukan dari banyaknya Hit ke websitenya (sebut saja: Da*ly Ma** atau d**ik.com). Kalau gak buru-buru menulis ya gagal dapat berita baru. Jadi terkadang awal ditulisnya berita, 5W+1H itu masih simpang siur. Secara bertahap seiringnya waktu (dan interview ke lapangan) baru di refine lagi beritanya, diperbaiki. Tentu sistem begini gak cocok buat artikel ilmiah ya :p

Absolute risk  VS  Relative risk

Mana dari kalimat di bawah ini yang dipilih untuk menulis artikel pop ilmiah?

“..this may affect the 70% of the white-matter area in neuro-cortex.” –> absolute risk

or

“… this will increase the risk of brain cancer”  –> relative risk

Yep, artikel pop ilmiah musti mengkomunikasikan dengan relative risk. Absolute risk terkesan tidak terlalu menakutkan sementara relative risk terdengar makjleb di hati (increase of awareness).

Menurut narasumber setelah lewat majalah editor, saat mereka memilih judul headline, ada lagi orang yang bertugas memberi judul tersebu – sudah terpercaya dan tak bisa dialihkan ke orang lain. Jadi mikir, mungkin memang ada orang-orang berbakat dalam merangkai kata sehingga orang tertarik mengambil / membaca majalan tersebut. Jurnalis dengan kemampuan melempar sensasi ke publik xD *aseeek*

Selain tentang popular science writing, kita juga dibekali dengan ilmu oral communication. Sekarang zamannya podcast dimana orang bisa mendengar berita sambil melakukan hal lain. Kalau kita mengkomunikasikan pop ilmiah dengan cara ini, yang paling penting lagi-lagi adalah grasp the audience. Buat mereka bisa mengerti meski sambil melakukan hal lain…

Caranya adalah:

  1. Keep it simple
  2. Use Visual Language –> descriptive language, explicit and visualize it (use similes/metafores). Buat pendengar bisa membayangkan secara visual sehingga mereka bisa dapat gambaran jelas mengenai riset kita tanpa melihat.

Sumber: sciconnect.co.uk pada kuliah “Communicate science to media”