Inspired by ACM-W Inspire

Masih dalam perayaan ‘Women in Computing’, lagi-lagi diadakan event di UK untuk menyahut Grace Hopper Celebration 2 minggu silam di US. Kali ini, acara bertajuk Inspire diselenggarakan oleh ACM-W (ACM-Women) cabang UK, di kampus Nyo dan tentu di departemen Nyo. Seru..

Nyo juga turut berpartisipasi dengan presentasi poster. Meskipun baru initial work hasilnya, tapi pembimbing membolehkan untuk ikutan, jadi… inilah hasil poster yang dibuat cukup dadakan (emang random sih, tiba-tiba 1 hari sebelum deadline pengen ikutan, heheh…).

Poster nyo

Poster nyo

Beruntung, President ACM adalah salah satu profesor computing di Imperial dan beliau memberikan sambutan yang menarik di acara ini. Dua minggu lalu, beliau baru saja diundang ke US untuk membuka Grace Hopper Celebration yang menarik lebih dari 12.000 women in computing (OMG gak kebanyak seruangan cewek perkasa semua, apa beliau merasa ‘terintimidasi’ ya sebagai cowok di ruangan itu? hehehe…).

Nama ACM sebagai organisasi volunteer di bidang computing-machinery. Note this: volunteer. Ya, jadi ternyata posisi sebagai presiden pun tidak dibayar oleh ACM. Kontribusi ke ACM semua dilakukan para anggota secara sukarela. Wow… salut. Tahun lalu saja ACM telah menerbitkan lebih dari 444 conference proceeding, 45 transaction/journal di digital library, dan lebih dari 37 SIG (Special Interest Group) yang juga melingkupi local chapters and councils. Uniknya, lebih banyak anggota dari ACM bukan dari akademisi, 60% adalah practitions.

Setelah event dibuka oleh sang Presiden, maka mulailah rangkaian keynote speech dari para wanita hebat menginspirasi. Pertama, ada si ibu dari Intel (atau lebih tepatnya nenek, karena cucunya sudah gede-gede, paling besar usia 10 tahun). Perjuangannya untuk meningkatkan jumlah wanita yang bekerja di sektor electronic/HPC (High Performance Computing) melahirkan inisiasi untuk melakukan kegiatan diluar lingkup kerjanya.

Mulai tahun lalu, ia aktif mengajarkan elektronik ke sekolah-sekolah (usia SD/SMP) secara seru. Ini karena ia percaya kalau semakin dini perempuan dilibatkan dalam aktivitas (or knowledge) yang berbau elektronik, nantinya akan semakin meningkatkan ketertarikan mereka terhadap dunia ini. Ia sudah mengajar (secara sukarela juga) ke Jerman, UK, sampai ke Afrika, tentu dengan sponsor Intel. Tools yang digunakan adalah Adruino – Little Bits dan Galileo.

Impact the numbers of women in computing through mentoring, women visibility, and increase numbers of women to apply for a position in computing.

Berikutnya adalah seorang akademisi wanita yang sangat bersemangat dalam memotivasi. Lingkup research di HCI (Human Computer Interaction) membuatnya selalu membawa pulang ‘mainan’ seperti game atau robot-robot keren untuk dicoba ke anaknya pertama kali sebelum dites ke orang lain. Anak laki-lakinya dulu senang sekali (namanya juga anak cowok, pasti hobi main game) menunggu ibunya pulang dari kampus. Sampai suatu hari, sang guru di sekolah anaknya bertanya pada si anak, “Kalau sudah besar mau jadi apa?”

“I wanna be like my mom…”

Sang guru kaget dan langsung menyanggah, kamu kan laki-laki kenapa ingin seperti ibu2? Si anak menjawab, “Kamu gak tau ‘kan yang dikerjakan ibuku? My mom is super-cool…”. Yeah… Tentu selanjutnya sang guru yang dibuat terperangah. I think it is cool, too… Keren juga kalau bisa bikin anak laki-laki bilang seperti itu, “I wanna be like my mom” (not like my dad?) :p

Seperti yang dialami oleh  kebanyakan working women in engineering, biasanya fenomena yang umum adalah, semakin bertambah usia, semakin ‘hilang’ teman-teman wanita yang bekerja. Biasanya sampai usia tertentu, akhirnya memutuskan untuk keluar dan lebih fokus di keluarga. Bagi yang masih bertahan, jangan merasa isolated atau gundah…🙂

Jangan juga terjebak pada unconscious bias dan stereotype. Unconscious bias, bukan hanya terjadi pada wanita, tapi juga pada ras, suku, dsb. Misal, kalau penilai ujian melihat dari nama seseorang, jika nama cowo biasanya mereka akan lebih ‘high-expectation’ terhadapnya. Tapi misalnya nama cewe, mungkin dalam hati, ‘Ah, santae lah… maklum lah cewek, jawabannya bertele-tele’, misal…

Kadang Nyo juga terjebak dalam unconscious bias ini. Suka kepikiran, biarin lah research-nya gak terlalu heboh atau gak muluk-muluk maunya atau progress-nya lambat… ‘kan Nyo udah ibu-ibu, dibandingin Phd yg lain masih sendiri / bukan ibu2 (iya, kebanyakan cowo). Maklum dong… Seringkali bikin excuse terhadap diri sendiri yang malah ‘merendahkan’ kemampuan wanita dong. Heheh…

ACM-W Council

ACM-W Council

Ibu-ibu kemarin membuat Nyo malu. Mereka udah bisa melewati semuanya dengan excellent, jalan semua, anak sampai cucu, masih semangat dalam tech meskipun udah nenek-nenek, masih mau berbagi dan masih mobile. Salut… Intinya, jangan men-stereotype. Jika memang sebagai ibu, mengurus rumah tangga adalah primary responsibility, take it as an adult responsibility – biar gak terlalu terbebani.

Jangan terlalu dibatasi dengan stereotype. Dalam pencapaian, harusnya wanita-pria sama kok. Misal, mau jadi professor, harus lewatin tahapan2-nya. Para lelaki juga struggle, kita juga struggle… sama. Sama-sama pusing :p. Dalam hal ini, untuk menentukan apa yang akan kita lakukan ke depannya kita harus: think like men – resilient!

Keynote terakhir lebih mengedepankan women in IT.  Banyak yang malas untuk meng-hire women bekerja karena women work less (?). Apalagi kalau dia hamil, melahirkan, punya anak.. Pasti jam kerjanya lebih sedikit daripada men (jemput anak nursery/sekolah sore-sore, maternity leave, etc). Gimana? Masalah lagi bagi women, jika mereka ingin come back for work after doing her family things (I experienced this, 2+ years stay-at-home mom before come outside to see the world again)… mereka dapat rate yang lebih rendah karena lebih memilih kerja yang fleksibel. Yah, gak masalah juga sih  (dapat duit aja udah untung ya?) karena kan cari kerja main responsibility pria *another excuse* xD

Ada fakta menarik dimana ternyata negara – negara di Asia lebih baik dalam meng-hire women in IT. Sebut saja Singapore yang memiliki half-half proportion of women-men in IT division. Mungkin ini karena peran pemerintah juga dan kuota yang diberikan oleh perusahaan. Lain halnya dengan negara Barat, dimana ternyata kaum pria masih mendominasi dunia kerja IT.

Di UK sendiri, hanya 11% dan 16% wanita yang berkecimpung masing-masing di bidang security dan IT-Telecoms. Tampaknya ada semacam leaky pipeline, dari sekolah ke industri. Lagi-lagi unconscious bias, udah deh cewek mah gak usah belajar STEM yang susah-susah, mending kursus masak atau childcare aja di rumah, ujung-ujungnya juga di rumah. Hmm?

Lalu mikir, heyy… bukannya Khadijah RA business-woman yang handal ya? Baca disini. Jadi, gak ada excuse lagi dong buat women kalau memang suka, mau, dan mampu.. untuk go and get over it!!🙂

Tapi next question lagi-lagi, women-nya mau gak? Terkadang udah pusing duluan karena mikir kebanyakan sebelum jalanin. Ada hal unik.. untuk menarik peminat student wanita, Univ.Berkeley mengubah nama mata kuliah dari “Introduction to Symbolic Program” menjadi “Beauty and the Joy of Computing”. Hasilnya? Student perempuan yang enroll meningkat 50%! Hahaha…. memang merayu wanita butuh segala cara, juga dengan judul, biar gak parno duluan.

When a woman is successful, both gender like her less (Sheryl Sandberg)

Kutipan di atas memang makjleb, but (mostly) it is true. Kebanyakan, kalau lihat ada wanita yang berada di puncak kepemimpinan, misal.. lumrah sih yang wanita lain cari-cari sisi negatifnya, dan yang pria memandang si wanita itu terlalu bossy/ibu galak, terlalu mendominasi, dsb. Well, manusiawi sih…. tak bisa dihindarkan mau dimana pun dari masa apa pun juga :p

Sayangnya lagi, (mostly) wanita yang sudah di atas awan/puncak kepemimpinan ini biasanya pull the ladder. Diharapkan dia akan menjadi katalis lain yang memicu lebih banyak wanita untuk berada di posisinya, tapi yang dilakukan malah pull the ladder… alias bukan memberikan ‘tangga’ untuk membantu naik ke posisinya, tapi menarik ‘tangga’ biar gak bisa ke atas. Istilahnya, gile lu gue udah capek2 sampai ke atas sini, lo enak-enakan aja naik tangga gue! Sana cari sendiri, rasain susahnya perjuangan ku dulu, hahaha.. *evil laugh*

Padahal, women butuh lebih banyak role model, terutama di dunia yang memang miskin wanita, seperti di engineering misal. So let’s create more ‘role models’…

Diskusi semakin menarik… Inilah perbedaan kalau event untuk women doang. Jika di conference, kita hanya bisa dapat ilmu teknis, tapi disini di council semacam ini… selain dapat ilmu teknis dalam computing, kita juga bisa berbagi hal personil. Hal di balik pencapaian research/tech-career mereka, yaitu tips serta inspirasi dari sesama wanita, agar keluarga, karir, dan semuanya bisa berjalan sukses. Belum lagi, suasana cair.. Secara semua cewek, jadi lebih banyak senyum2 dan grin… kalau cowok kan biasanya kalau ada meeting/conference suasana terlalu ‘serius’/jarang senyum/jaim xD

Sesuai judulnya, Nyo merasa Inspired dengan suntikan motivasi mereka. Walaupun suntikan makanan juga sangat membantu (bikin gendut) karena soo..yummy, apalagi banyak cakes aneka rupa (sweet.. :g).

Semoga bisa berbagi inspirasi ^_^