Catatan 2 bulan nursery

Pengalaman pertama kali nursery memang seru, apalagi kalau bahasa dan budayanya beda…

Sudah lebih dari sebulan my Rhapsody di nursery. Alhamdulillah dapat nursery di kampus. Bersyukur banget jadinya dekat dengan kampus dan rumah🙂 . Biasanya waiting list di nursery itu sangat lama, sekitar 14 bulan (jadi kalau yang mau punya bayi, begitu tau hamil harus buru-buru daftar). Alhamdulillah ini dapat tempat (setelah nego2 sih) setelah 10 bulan waiting list, not bad lah…

Di nursery ini, kelas dikelompokkan sesuai usia anak dan perkembangannya. Mulai dari usia 6 bulan bisa diterima disini, lalu kelompok berikutnya usia 1-2 tahun, sedangkan Rhapsody masuk ke kelas anak 2-3 tahun. Di satu kelompok usia juga ada beberapa kelas, masing-masing (kalau untuk kategori anak usia 2-3 tahun) ada 10-12 anak/kelas dengan 3 ‘guru’-nya. Lalu, usia 3-5 tahun ada kelas-kelas lagi, berbeda gedung, karena levelnya sudah pre-school.

Jam nursery disini mulai dari 08.45 – 17.15, jadi pas banget sama jam kerja di kampus (9-5), meski semenjak Rhapsody di nursery jadi gak bisa ikut event kampus yang out-of-office-hour, heuu… soalnya kudu dijemput dan di rumah gak ada orang, bapake baru pulang malam. Di nursery lain, biasanya untuk anak di bawah 3 tahun, masih di kisaran jam 09.30 – 15.00 dan gak full day/week.

Nah, yang bingung  nanti kalau anak sudah masuk usia sekolah, kan pulang jam 3 sore, itu siapa yang jemput dan nunggu di rumah ya kalau bapak-ibunya kerja? Kalau di Indo sih ada neneknya, mbaknya, dsb, rame deh. Kalau gak ada keluarga lain cem kita bagaimana?😦

Alhamdulillah dengan jam nursery yang kayak jam kantoran, Nyo jadi lebih leluasa di kampus, meski tetap aja pulang paling awal (jam 5), dikala yang lain masih bekerja sampai malam, nyehh… I know I have less working hours dibanding teman-teman lain. Heheh.. pulang kudu buru-buru masak >.<

Nah, keuntungan nursery di kampus selain jam-nya yang lumayan panjang, juga dari segi biaya. Dari perbandingan biaya yang Nyo survey di nursery2 sekitar borough, disini paling murah, sebab kalau student dapat diskon. meski ternyata kalau staff, diskon-nya lebih banyak (jatuhnya jadi lebih murah dibanding harga student) karena mereka ada semacam salary sacrifice.  Kalau di nursery private lokal lain full time bisa di atas 1,000 GPB (kalau gak full bisa dapat 700an GPB sih), disini full time dibawah 1,000. Asiknya lagi, di nursery sini dikasih makan (lunch, morning snack, evening snack/tea-time), jadi Nyo gak usah heboh2 masak dan nyiapin bekal, hahaha…. Alhamdulillah.. jadi nyiapin bekal bapaknya doang, tugas berkurang😛

Settling-in

Sebelum masuk nursery, ada beberapa list yang harus disiapkan oleh orang tua (selain persiapan mental tentunya). Ini list barang2 yang diminta oleh pihak nursery: baju/celana/kaos kaki ganti (sediakan 5 masing2, ditaruh di tas di gantungan luar kelas), nappies, wipes, coat, wellington boot (untuk main di garden tiap hari/kalau hujan).

Juga, disuruh bawa tas kain untuk menaruh baju2 dan sepatu cadangan anak, yang digantung di luar kelas (ada foto anak di tiap gantungan jadi gak ketukar). Untuk yang masih pakai pampers, juga harus menyediakan suplai pampers dan wipes-nya.

Kita juga melengkapi isian form mengenai perkembangan anak, alergi, jenis2 makanan yang boleh/gak boleh, dsb. Tadinya Rhapsody minta makanan Halal (untuk ayam, daging, dsb), tapi ternyata nursery gak menyediakan, adanya Vegetarian. Yo wis, akhirnya vegetarian deh menunya.  Alhamdulillah, yang koki masak disana pas kenalan ternyata muslim. Jadinya dia suka ngasih Rhapsody ayam Halal, kambing Halal, ikan, di sela2 menu vegetarian, hehehe…😀

Settling-in adalah periode (minimum 3 hari, 2 jam/hari) adaptasi sebelum anak mulai nursery. Selama periode itu orang tua mendampingi anak di nursery, belum ditinggal. Untuk jadwalnya sendiri, waktu itu 3 hari selama jam setengah 10 sampai jam 12. Selain menemani dan memantau aktivitas anak, kita juga di wawancara sama pihak nursery. Lebih banyak mengenai perkembangan anak, apa yang dia gak suka, kebiasaan, bahasa yang digunakan, dsb.

Pertama kali melihat anak-anak di nursery pada makan snack sendiri, langsung jiper. Apalagi waktu makan snack cuma 15 menit, waktu lunch cuma 30 menit, sementara nih anak di rumah kan di suapin, udah gitu minimal 1 jam, gak habis pula. Sempat  khawatir, gimana ya nanti? bisa-bisa gak makan apa-apa karena kelamaan ngunyah. Tapi kata gurunya, “Tenang aja.. Lama-lama dia bisa ngikutin. Tapi di rumah juga harus dibantu ya makan sendiri.”

Dalam hati, iya deh.. padahal kenyataannya kalau di rumah, masih disuapin (well, mostly) soalnya takut kurang asupan. Hehe.. tapi biasanya dia makan sendiri kalau semua pada makan bareng.

garden

Ternyata di belakang, outdoor garden luas

Perbedaan masakan di nursery dan di rumah juga membuat Rhapsody suka gak selera makan. Masa yogurt gak dimakan😦 . Heuu… sayang, bawa pulang aja coba, bungkus buat mami. Terus makanan seperti couscous, chili con carne, yorkshire pudding, dan world food yang macam-macam namanya itu, menurut gurunya selalu gak dimakan sama dia. Maklum sih, mami nya juga baru dengar dan gak pernah makan masakan macam-macam itu. Tapi giliran lunch di sekolah noodle atau nasi, katanya lahap. Eheh… #ndeso =,=;

Lucunya, sore hari mereka ada afternoon tea. Hmm.. budaya inggris banget yah. Padahal biasanya sore minum susu kalau di rumah. Tapi biasanya afternoon tea juga dengan snack sore, seperti croissant, sandwich, panini, dsb.

Setelah 6 minggu settling period, akan ada meeting dengan orang tua untuk mengevaluasi perkembangan anak selama nursery. Setiap minggu staff juga membuat kurikulum yang disusun sedemikian rupa. Pantas saja nursery ini masuk di daftar outstanding Offsted.

Masing-masing anak di assign ke satu key person. Tugas dari key person setiap hari adalah melaporkan kegiatan anak di hari itu, saat orang tua menjemput.

Pada akhir settling period, biasanya ada kesepakatan antara staff dan parent. Untuk kasus Nyo, kesepakatannya adalah soal toilet training. Berhubung Rhapsody sudah gak pakai pampers kalau di rumah, aku mau dia juga bisa dry di sekolah. Sementara staff bilang, tunggu seminggu  adaptasi dulu (dengan bahasa, lingkungan, dsb), baru pelan-pelan lepas. Aku juga sepakat untuk mengajari bahasa kalau bilang mau ke toilet, dsb gimana. Hasilnya, awal-awal memang banyak bocor (harus nyediain banyak celana dalam+celana cadangan dan sepatu karet macam Crocs), tapi seterusnya sudah bisa lancar.

Selesai periode settiling in, mulailah anak nursery ditinggal orang tua. Bertahap, pertama dijemput habis makan, hari berikutnya jam 3, baru setelahnya normal jam 5. Hefffttt… jangan ditanya gundah gulananya! Hebooohh…. nangis2, udah pasti!! Nangisnya sampai kedengeran ke lantai atas. Sedih banget…😦 T_T . Maklumlah, belum pernah dititipin (kecuali ditipin ke  neneknya). Udah gitu, pakai acara muntah2 juga nangisnya… Kejer banget! Tapi kata gurunya aku suruh pergi aja, jangan terlalu lama ditungguin karena malah lebih susah nanti ninggalinnya.

Seminggu awal perjuangan banget… selanjutnya, sudah mulai lebih bisa beradaptasi, baik Nyo maupun dianya.

Jadwal

Ini adalah jadwal sehari-hari untuk anak usia 2-3 tahun di nursery:

08.45 – 09.30   Masuk dan main-main sambil nunggu semua datang

09.30 – 10.00   Morning snack

10.00 – 11.00     Main activities: bisa melukis, belajar huruf, kreatifitas, main pasir, mengenal benda2 di tema tertentu, dsb

11.00 – 11.45     Outdoor. Main di garden.

12.00 – 12.30    Lunch. Biasanya dapat main course dan dessert. Jenisnya bermacam-macam, dari nasi kari, sampai pasta, dsb.

12.30 – 14.30   Nap. Tidur disesuaikan dengan anak. Ada yang sebentar ada jam sampai 2 jam lebih. Masing-masing anak disediakan seperti matras gulung dan selimut (ada nama jadi gak tertukar). Disana mereka tidur, sendiri… Hmm..awalnya sempat cemas, kasian tidurnya di lantai udah gitu gak dikelonin, hiks…😦  tapi lama-lama biasa.

14.30 – 15.30   Main lagi/main activities, seperti membuat craft, dsb. Mainan yang dikeluarkan tiap harinya berbeda, toolnya juga, tergantung tema (misal haloween, atau autumn, atau tentang elektronik, dsb).

15.30 – 16.00   Afternoon tea. Disuguhkan teh dengan snack sore, seperti biskuit, croissant, sandwich, dsb.

16.00 – 17.15    Main bebas di garden (kalau gak winter/hujan) atau di dalam kelas sambil nunggu dijemput. Dari luar gak kelihatan ada garde, ternyata luas. bahkan ada ‘secret garden’ yaitu lahan hijau luas yang dikunjungi pada saat2 tertentu. Biasanya kalau gak ke garden, mereka mendengarkan dongeng, dibacakan cerita oleh guru sambil duduk melingkar.

Jangan khawatir kalau belum bisa bahasa Inggris karena anak cepat beradaptasi dalam bahasa. Dia yang belum bisa bahasa Inggris, juga tiba-tiba dapat laporan dari gurunya, “Wah sekarang sudah hebat ya Englishnya. di rumah diajarin terus ya?” Nyo bingung, ha? Boro-boro, ngomong bahasa Inggris aja kagak pernah di rumah, bahasa Indonesia terus. Ternyata dia emang menyerap sendiri. Pas Nyo coba ngomong bahasa Inggris di rumah, eh dia bilang, “Di sekolah, Mami..”. Good boy, berarti dia ngerti, kalau di sekolah bahasa Inggris, di rumah yo bahasa Indonesia😀

eyec.jpg

Gantungan tas bernama, toilet, dan di ruang kelas

Untuk pertemuan tiap 6 minggu, baru akan meeting besok. nanti dilanjutin deh kapan-kapan ya ceritanya…😀