Apa itu Social Enterprise?

Apa yang ada dalam pikiran saat mendengar social enterprise?

Hmm… apanya social media? Atau apa hubungannya dengan charity? Workshop singkat kemarin membuka pikiran Nyo untuk tak sekedar melihat bisnis dari sisi keuntungan saja, tapi juga dari sisi kemanusiaan.

Memang, social enterprise bisa menjadi bias antara charity dan perusahaan pada umumnya. Yang membedakan adalah dari sisi legal dan struktur dari perusahaannya sendiri. Misalnya, perusahaan (PT) bersumber investasi dari shareholders (limited by shares). Maka, keuntungan dari perusahaan tersebut akan kembali menjadi dividend untuk para pemegang sahamnya. Namun, yang membedakan social enterprise disini adalah… pada umumnya mereka tidak ada shareholders, keuntungan yang mereka dapatkan akan dikembalikan untuk masyarakat (donasi/kesejahteraan warga sekitar).

Loh apa bedanya dengan CSR? Beda, kalau CSR kan merupakan program ‘sekali-sekali’ yang diadakan perusahaan sebagai timbal balik ke komunitas. Dalam social enterprise, agenda sosial lah yang men-drive untuk melakukan sebuah bisnis.

Bedanya dengan foundation? Beda juga. Misalnya, Gates Foundation bukan social enterprise karena terpisah dengan microsoft. Gates menyumbangkan uangnya untuk foundation, tapi tidak terintegrasi dengan keuntungan dari operasional perusahaan.

Seperti apa tuh social enterprise?

Contoh: Fifteen. Restoran yang digagas oleh Jamie Oliver di London ini digerakkan oleh satu cause. Satu sebab yang menggugah Jamie Oliver melakukannya karena ia merasa risih melihat orang usia produktif pengangguran. Para anak muda homeless (gembel) atau yang susah dapat kerjaan ini pun di training di restorannya untuk belajar masak dan jadi chef. Setelah punya pegangan duit, mereka bisa cari kerjaan lain lagi… dan gantian seterusnya untuk di train jadi chef, sampai berkuranglah pengangguran di sekitarnya.

Keren kan…🙂

soce

sumber: course

Grafik di atas kira-kira bisa menggambarkan apa itu social enterprise. Berada di antara company dan charity, serta digerakkan untuk mendapatkan tiga hal sekaligus: untuk people, planet, dan profit.

Ternyata Greenpeace, BUPA, dan Amnesty International juga merupakan social enterprise. Karena mereka melakukan bisnis (meskipun tidak ada shareholder, mereka dapat dana dari iuran memberships) untuk satu misi politis dan keuntungan kembali ke lingkungan/members/komunitas.

Menjadi social entrepreneur juga harus punya basic trait yang kuat seperti entrepreneur pada umumnya, tangguh, jago networking, risk-taker, optimistik.. Ditambah, harus ada simpati yang kuat melihat permasalahan sosial di sekitar dan bisa merangkul masyarakat.  Yang paling sulit adalah, melihat kebutuhan di komunitas dan come up with a unique solution yang bisa dijual/dibisniskan.

When they profit, society profit…

Satu keuntungan dari social enterprise adalah saat perusahaan untung, masyarakat juga merasakan keuntungannya. Inilah yang membuat social entrepreneur harus lebih risk-taker, karena jika perusahaan rugi, masyarakat juga bisa kena dampaknya. Hmmm…. #mikir. Urusannya bukan cuma gue & karyawan gue, tapi kebersinambungan misi sosial yang diangkat.

Untuk menjadi social entrepreneur, tidak semua orang cocok. Temukan apa panggilan dan sisi yang paling cocok dengan dirimu: sebagai charity founder kah (galang dana/relawan pendidikan), social entrepreneur kah, atau jadi entrepreneur (lebih ke profit focus/innovative/creative). Tergantung sifat yang dimiliki (dan idealisme).

Untuk Indonesia, sepertinya banyak sekali ya yang membutuhkan social entrepreneurs. Banyak teman-teman juga yang sudah bergerak di sana. Masih banyak orang-orang yang tidak bisa mendapatkan akses hal dasar: kesehatan, air/makanan, edukasi. Tapi, orang-orang yang melakukan bisnis tanpa melihat kesejahteraan masyarakat sekitar juga semakin banyak. Nyawa jadi semakin murah.

Inti dari social enterprise mungkin: jangan serakah

😀

Bagaimana menggali ide untuk social enterprise?

Pertama, temukan cause. Satu hal yang kamu merasa sangat iba atau risih di komunitas. Kamu ingin sekali mengubahnya…. Apakah itu? Misalnya, sedih melihat ibu-ibu miskin gak bisa kerja karena harus merawat anak – anak kecilnya di rumah, sementara suaminya berpenghasilan serabutan…. atau melihat kesenjangan pendidikan pada anak-anak buruh pabrik. Seperti itu…

Kedua, tulis cause itu di tengah kertas besar. Gali ide dan solusi-solusi yang bisa membantu.

Ketiga, mulai dengan biz model. Dari ide-ide tersebut, bisa dirumuskan, siapa client, costumer yang membeli produk kita, dan bagaimana perushaan kita bisa membantu.

Simpel kan?

Idea may come easily, but realizing it can be hard…

So, go to communities… Find their need, spot the right solution and make it happen.