Science di dalam Cerita Sci-fi

Hari Jumat kemarin, di kampus diselenggarakan festival dari CDT (Central Doctoral Training) yang bertema ‘Science & Science Fiction’. Dari topiknya, tampaknya menarik, berhubung memang genre film atau buku yang Nyo suka ya sci-fi.

Sesi pertama, Ra Page, founder dari publisher, yang lebih memberi banyak masukan mengenai penulisan fiksi. Biasanya cerita science fiction memiliki karakteristik:

  • Simplified – not complex narative (contohnya seperti computer game) dan no feedback.
  • Linear – linearising empathy
  • Three act structure:Tension (mulainya konflik atau suatu ‘gap’) – Escalation (stakes getting higher or things get worse) – Resolution (permanent change: whether it has happy or sad or tricky ending). Disini bukan 2-act: problem and solution, karena kalau begini no risk/danger, jadinya malah seperti proposal riset.

Fiksi yang menggunakan science:

  • Science sebagai metafora

Metafora bisa berupa teori (time-dilation) atau future-tech (nano-tech/hologram,etc). Ada dua aliran, yaitu populis: dimana science is just a convenient tool dan literary: sci-fi sebagai societal warning atau ketakutan akan perkembangan dunia science di masyarakat.

  • Science sebagai karakter

misalnya ada yang jadi karakter Maverich hero, mad scientist, founding father, atau karakter dimana tidak ada satu orang pun yang mau mendengarkannya (ujung-ujungnya dia jadi hero dan ‘ramalan’nya terbukti).

  • Science sebagai fiksi

Alur cerita sci-fi bisa beagam, antara lain mengangkat eureka myth (mitos setelah ditemukannya satu temuan baru), paradoxial (interpretasi atau pemikiran terhadap eksperimen), ethical scenarios (misal membahas sisi etik dari AI atau robot).

Memang, dalam buku sci-fi bisa menjadi lahan empuk mengembangkan cerita – cerita dan pemikiran terhadap perkembangan science. Narasumber berikutnya lebih bergerak di bidang studi komunikasi dan membahas soal science di Holywood.

Bagaimana scientist on set? Agar benar – benar meyakinkan penonton bahwa di aktor gak malu-maluin dan terlihat nyata sebagai ilmuwan, mereka harus berlatih keras dan menyelami pemikiran scientist. Terkadang, bagi ilmuwan, mereka sangat menikmati hidup dalam science, yaitu dimana semuanya…

experiencing the unknown, always search for the answers of uncertainty.

Beberapa film sci-fi fi Holywood juga bertemakan war games effect, seperti scientific disaster atau political issues yang bisa meningkatkan global awarness nantinya. Bahkan kepentingan institusi teknologi juga sering diagungkan di film sci-fi, sebut saja NASA yang selalu jadi sorotan utama di film-film bertajuk luar angkasa, seperti Tomorrow land atau Martian.

Tujuan dibuat film sci-fi bisa juga untuk pre-product placement and  technology development. Hmm… tentunya ini merupakan strategi marketing yang bagus. Misalnya film Big Hero 6 (2014) yang membuka jalan dikembangkannya produk soft medical robotic. Atau Minority report, yang produk teknologinya segera diwujudukan setelah film sukses.

Sesi berikutnya lebih membahas mengenai etik dari gene editing. Contoh dari manipulasi gen, yaitu modifikasi gen embrio manusia agar imun terhadap penyakit. Dilihat dari sisi etik, ada banyak sekali peraturan dan kesepakatan yang berbeda tiap negara. Nah, topik ini ternyata sudah muncul jauh sebelum ditemukan AI atau heboh gene-editing ini, yaitu dalam sci-fi lawas (mungkin juga awal mula sci-fi), yaitu si Frankestein hasil modifikasi mad-scientist.

Sesi terakhir adalah sesi yang paling menyenangkan, yaitu diskusi panel mengenai AI dalam sci-fi. Selama ini, film-film sci-fi banyak mengangkat sisi dan dampak negatif dari AI yang menyamai/melampaui (bahkan kadang dikutuk karena seperti usaha untuk ‘playing God’) manusia. Lepas dari itu semua, apakah perlu kita meneruskan riset di AI? Apakah tidak takut dengan efek sosial yang muncul seperti di film-film tersebut?

Pada panel diskusi ini, Shane Legg (co-founder Google Deepmind yang lagi hot banget di AI), Prof. Nello C, dan Prof. Andrew Davison yang bergerak di bidang AI serta robotic menyampaikan pandangan mereka.

Intinya, science is science. Yang mereka lakukan dalam AI adalah untuk membantu manusia dan memudahkan pekerjaan manusia (misal robot vacum cleaner).

Fiction is fiction… Terkadang untuk sampai ke level fiksi yang dikhayalkan itu, pasti ada banyak tahap yang harus dilalui, juga kesepakatan etik (etika robot=manusia, etika HCI, dsb).

Memang sih sci-fi bisa menjadi tujuan atau bahkan ide riset ingin berkembang ke arah mana. Tapi, seberapa cerdas AI yang diimpikan dalam sci-fi, ia adalah sistem yang tidak akan sempurna.

Segala kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT🙂