Puasa Terpanjang dalam 33 tahun & Big Iftar

Puasa Terpanjang dalam 33 tahun? Begitu judul headline yang kubaca di berita. Ya, muslim di UK tahun ini harus menjalani puasa terpanjang dalam 33 tahun terakhir, karena bulan suci ini bertepatan dengan ‘summer solstice’: yaitu hari terpanjang di musim panas. Untuk di London sendiri, puasanya hampir 19 jam. Magrib pukul setengah 10 dan subuh sekitar setengah 3 pagi.

Alhamdulillah… Ini kali ke 6 berpuasa Ramadhan di Eropa. Saat tahun 2009 datang ke UK, kala itu Ramadhan masih bulan September, masih sejuk musim gugur dan pukul 8 malam sudah bisa menyantap hidangan buka puasa. Saat di Belanda, 2 tahun menikmati ‘keringanan’ tak berpuasa di musim panas karena melahirkan dan menyusui. Lalu, tahun berganti, kalender Ramadhan semakin mundur hingga mencapai puncak terpanjangnya di tahun ini.

Tahun lalu, saat masih sendiri dan keluarga belum datang, lebih fleksibel dengan jadwal selama Ramadhan (dan gak harus masak-masak juga, hehe..). Berhubung bapaknya harus ke kantor pagi-pagi, Rhapsody harus ke sekolah pagi-pagi, Nyo juga ke kampus pagi-pagi, jadinya pulang kampus dan sekolah sudah tepar. Menjelang berbuka puasa, baru bangun lagi buat nyiapin Iftar.

Kerasa benar gak sempat makan macam-macamnya. Untuk sehari-hari juga gak bisa heboh kayak di Indonesia, masak macam-macam, ada takjil segala, dsb, karena sudah habis energi di kampus. Saat buka, setelah makan kurma dan makan besar (pasta/wrap/yang simpel), terus sudah deh… Kalau weekend saja, yang sempat bikin takjil, karena kabita lihat posting-an teman-teman di Indonesia, ada kolak, sop buah, dsb :p

Nah, beruntungnya di London, selain Mayor of London alias gubernurnya seorang Muslim, kalender Ramdahan selalu ramai. Ada banyak event yang diselenggarakan. Tahun lalu, Nyo sempat datang ke Ramadhan Tent. Lalu, tahun ini berkesempatan untuk berbuka puasa di sinagog, dalam acara The Big Royal Iftar.

Acara Big Iftar kali ini diadakan di West London Synagogue, tempat beribadah dari the British Jews yang telah berdiri semenjak 175 tahun yang lalu.Jadi, Big Iftar merupakan rangkaian acara buka puasa di penjuru UK, yang menggandeng berbagai kalangan dan komunitas untuk merayakan Ramadhan secara damai. Tak hanya di sinagog, Big Iftar juga dilaksanakan di masjid, gereja, sambil nonton Euro cup, sekolah, dan lainnya. Intinya mengajak semua untuk mengenal Islam dan Ramadhan.

Tahun lalu, Sadiq Khan (yang sekarang menjadi Mayor of London) lah yang juga berperan serta mengadakan Big Iftar interfaith di sinagog. Ini Tweet Mayor of London: Only in London can people of Muslim & Jewish faiths come together to break fast in a synagogue

Hmm.. benar juga ya. Sampai saat ini pun rasanya di hati masih agak gimanaaa…gitu (you know lah..). Bukan kali pertama sih Nyo duduk makan bersama dan belajar bersama para Yahudi. Pertama kali saat belajar di Girona (Spain), kota yang  lekat kaitannya dengan sejarah Yahudi. Jadi teringat akan cerita-cerita selama di Girona dan Spanyol (Andalusia) kala umat 3 agama selama ratusan tahun bisa hidup bertetangga secara damai. Mungkin kalau untuk konteks sekarang, bisa dilihat di event seperti ini. Meski tetap, kalau lihat di luar komunitas lokal (di dunia nyata), kenyataan tidak seperti itu.
Acara di London ini bertepatan dengan peringatan ulang tahun Ratu Inggris yang ke-90,
(11 Juni 2016) sehingga bertajuk The Big Royal Iftar. Pada Big Iftar di sinagog ini, kaum
Muslim, Yahudi, dan Kristiani berkumpul untuk merayakan keberagaman dan berbuka puasa bersama, untuk membawa hal positif pada komunitas dan masyarakat.

Ketika adzan dikumandangkan (ya, di dalam sinagog adzan dong…), para muslim berbuka puasa (yumm.. kurma madjool nya MashaAllah besar banget dan yummy!) dan melaksanakan sholat berjamaah.  Lalu, acara dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun Ratu Inggris yang ke-90. Kue dan  dekorasi bertemakan bendera Inggris, menggambarkan keberagaman yang satu di Inggris #unityinEngland. Really love the cupcakes, they’re so cute…❤

DVCB1826Buka puasa di sinagog

Hidangan berbuka pun disajikan dan semua peserta bisa menikmatinya sambil berdiskusi lintas agama pada tiap meja bundar yang disediakan. Makanan yang dihidangkan sangat kental rasa Timur Tengah-nya: Halal dan Kosher (tapi vegetarian, biar semua bisa makan), sangat asing bagi lidah Nyo. Jadi Nyo banyakan ambil baklava2-an dan kue-kue aja…

Para Rabbi yang mengenakan kippah (seperti kopiah kecil di atas kepala mereka) turut membaur dengan Muslim dan umat Kristiani yang hadir. Tak lupa, ceramah tentang Ramadhan juga dibawakan Pak Ustadz dengan santai seraya kita menikmati hidangan.

Sebagai bagian dari acara, West London Synagogue mengajak semua untuk tur ke dalam sinagog yang sudah berdiri di London sejak tahun 1840. Sinagog ini menyimpan banyak sejarah, salah satunya  adalah menyimpan kitab Taurat yang sudah berusia lebih dari 400 dan selamat dari tragedi Holocaust  (dibawa dari Praha, Ceko ke London). Sinagog dari British Jews ini juga memiliki gaya interior  yang unik, yang merupakan gabungan dari Neo-Bizantine dan modern.

Acara diakhiri dengan pembacaan kitab suci dari tiga agama: Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dialog antar agama dan diskusi juga dilakukan dengan cara yang santun, serta saling menghormati satu sama lain. Hal ini bertujuan untuk membangun kepercayaan dan kerukunan antar agama dalam komunitas.

For you is your religion, and for me is my religion (109: 6)