GHC/1 London (reportase versi bahasa Indonesia)

GHC (Grace Hopper Celebration)   merupakan acara Women in computing terbesar di dunia. Tahun lalu, 2015, GHC di USA sukses menarik antusias 12.000 pengunjung, yang antara lain menghadirkan  top women in tech leaders, seperti Sheryl Sandberg (COO – Facebook) dan Susan Wojcicki (CEO-YouTube). Di GHC, para wanita yang bekerja dan berkecimpung di dunia teknologi (computer science khususnya) bisa saling berbagi, belajar, menginspirasi, dan juga menjalin kerja sama ke depannya.

ABI local London pada Rabu, 23 Juni 2016 menggelar GHC/1 London, yang  merupakan GHC pertama international yang diselenggarakan di luar US. Alhamdulillah, Nyo lolos seleksi untuk dapat tiket scholarship, jadinya gratis (kalau gak gratis, ya gak datang deh #gakmodal). Pada event ini, 10 penerima tiket scholarship juga dapat seat paling depan dan diberikan wejangan khusus oleh keynote (Katharine Zaleski president dari  Power To Fly).

Malam sebelumnya ada reception party di kantor Google London. Waw, ternyata selama ini yang aku suka lalu lalang di depannya itu kantor Google. Karena jujur tidak ada label apa pun yang mendandakan bahwa google ada disana. Bahkan, kita jadi gak bisa foto-foto di dalam karena tidak ada logo Google. Satu-satunya yang aku temui logo Google cuman ini, di depan toilet (ya gak banget foto disini).

google

gak mungkin juga foto disini kan

Reception party penuh dengan makanan-makanan sehat ala Google. Yeah, the best thing to work in google that: Free food!😀 . Dessert cemilan sehat (ala2 oat), macaron (sehat gak ya?), dan kacang-kacangan. Airnya juga air lemon dan jahe. Untuk makanan utamanya nyo gak ambil karena semuanya pake wine/alkohol masaknya (ingredient selalu dicantumkan di atas menunya). Di reception party ini kita bisa bertemua wanita-wanita dari berbagai level karir yang bekerja di tech companies, juga students (sedikit sih, jadi berasa ‘muda’ meskipun tua).

google1

Reception party at Google London office

Keesokan harinya, 1-day conference of GHC dimulai, berlokasi di Queen Elizabeth II Conference Center, lokasi yang paling bagus melihat London view, mulai dari Big Ben sampai London Eye dari atas. Biasanya datang ke acara tech, didominasi oleh kaum pria, tapi kali ini Nyo benar-benar menemukan suasana yang sangat berbeda. Sejauh mata memandang, all women! Wew… cool! Disinilah women nerdy berkuasa.. dimana perempuan dengan tanpa make up, perempuan dengan kaca mata tebal, perempuan dengan kaos-jeans, perempuan dengan gaya cuek, tampil menjadi speakers dan role models atas kecerdasan mereka, juga posisi mereka dalam karir tech yang menyamai/melampaui pria.

So, who said tech is only for men? No way, dude… You should see these ladies and their achievement.

GHC / 1 London dibuka oleh Rosario Robinson, Direktur komunitas ABI (datang langsung dari pusatnya di US) yang bangga menjelaskan tentang misi ABI dan menyatakan, “Ini adalah GHC / 1 adalah yang pertama GHC diadakan di luar US. Kami juga mengharapkan untuk menarik 15.000 perempuan technologists di GHC Houston, AS, pada GHC tahun ini. “

Talk dari keynote pertama adalah dari Sarah Wilkinson, CTO, UK Home Office. Sebagai seorang profesional senior, ia mengusulkan tiga tips bagi perempuan mencapai karir di daerah ini, “Satu, percaya pada diri sendiri. Perempuan cenderung memiliki ambisi yang lebih rendah dan kurang percaya diri dalam mengejar karir daripada pria. Oleh karena itu, ketika pintu terbuka, langsung saja sikat! Jangan kebanyakan mikir di depan ‘pintu peluang’, langsung maju!”


Sarah, yang juga salah satu dari 50 wanita paling berpengaruh di Inggris IT 2015, memberi tips kedua, “Jangan takut gagal. Jika Anda belum gagal maka Anda belum hidup.”. Untuk tips terakhir, wanita yang telah membuat akses digital pada sistem  kepemerintahan Inggris,mengatakan, “Bekerja untuk orang-orang yang percaya pada Anda! Ketika Anda bertemu bos baru, beri mereka 3 bulan, jika mereka tidak terkesan oleh Anda, pindah kerja saja“. Ya, sekarang zaman sudah berubah, jika dulu kita dituntut oleh loyal pada satu perusahaan. Sekarang? Anak-anak muda kutu loncat semua. Jadi, ya mungkin saja tips itu benar: Find the right boss!

ghc

GHC/1 – Our time to lead

Kemudian, sesi selanjutnya terbagi menjadi tiga tracks: sesi teknis, sesi kewirausahaan, dan kepemimpinan. Ketiganya dilakukan secara paralel. Untuk sesi pertama, Nyo ambil sesi entrepreneuship dari EF. Truly inspiring! Nyo juga berdiskusi mengenai peluang join EF nanti dengan Alice Bentick. She’s very nice to talk… dan kebetulan alulmni dan teman di lab yang start-up nya di build oleh EF baru dibeli Twitter sebesar $150million. Teknologi mereka emang keren, dan pengen juga dong bisa meneruskan kesuksesan mereka setelah lulus dari lab ini (setelah company yang lain dari dept.ini juga dibeli facebook). Aamiin…🙂

Sesi berikutnya, Nyo ambil sesi teknikal, yang dibawakan oleh Google. Si ibu yang juga manager developer ini gayanya cuek sekali, celana dan kemeja, tanpa make-up dan rambut cepak. Diamemberi tips lesson learned dari perjalanan dia membangun google Chrome selama bekerja di Google.

Lesson 1: The best UI is no UI at all. Yes, karena semakin banyak fitur ditambahakan akan semakin intruisive. Simpel lebih baik, seperti Google Chrome (yang diambil dari proyek Chromium – open source project google), yang simpel pada tampilan luar tapi kompleks dibalik layarnya.

Lesson 2:Talk less, try more

Lesson 3: Removing features is harder then adding features. Ya, karena saat users sudah ketergantungan makai fitur itu, saat dihilangkan, mereka akan banyak komplain. Jadi harus bebal dan muka tembok kalau mau hapus fitur.

Lesson 4: Speed is the best feature.  No one will complain if you add this feature. Speed is no.1.

Waktu ia ditanya oleh peserta, “Role apa yang selama ini Anda rasakan paling sulit?”

Dijawabnya, “Role sebagai ibu. Karena menghadapi coding di layar lebih mudah dibandingkan harus menghadapi irrational young person.”. Couldn’t agree more! xD


Saat lunch break, ada juga kontes programming. CodeCon, yang disponsori oleh Bloomberg, adalah kontes pemrograman pada pemecahan masalah platform berbasis browser. Tentu saja yang menang adalah tim wanita. keren… Nyo gak ikutan (malas bawa laptop).

Selain itu, sebuah pameran karir diselenggarakan selama hari dengan perusahaan top di teknologi (dan kita bisa mendapatkan banyak suvenir-suvenir kece dari perusahaan. sampai-sampai tas Nyo penuh dan berat ngambil-ngambilinnya), seperti Google, Facebook, Microsoft, Bloomberg, ThoughWorks, JP Morgan, Raja, Palantir, Accenture, dll Ini menunjukkan bahwa para  industri mendukung keberagaman untuk membawa lebih banyak perempuan technologist ke dalam perusahaan mereka.

Memang, isu wanita dalam pekerjaan isu yang tidak pernah habis dibicarakan dan dibahas. Untuk keynote terakhir, Katharine Zaleski, Co-Founder dan Presiden, PowerToFly – mengupas habis semua isu-isu dari pemberdayaan perempuan dalam teknologi.


“Mari kita mendidik anak perempuan dan memberikan kesempatan  kepada perempuan,” tambahnya. Daripada berinvestasi di kursi mewah yang mahal di kantor, mengapa tidak berinvestasi pada mempertahankan wanita yang berbakat di perusahaan, memberi mereka lebih banyak waktu cuit melahirkan sampai siap untuk kembali ke kantor. Zaleski juga membahas masalah kantor ramah-ibu, “Jika Anda memiliki ruang untuk ping-pong tabel tetapi tidak ada ruang menyusui, Anda perlu meninjau prioritas dan gender-bias.”. Ya, ia juga menilik bahwa orang (di US) lebih concern dengan masalah policy bring your dog-to-work ketimbang childcare at work. Hmmm….

JPSS5085

GHC/1 – scholarship ticket and amazing speakers

Tidak heran dia benar-benar tahu semua masalah pada wanita di ranah industri teknologi, karena perusahaannya, PowerToFly melayani untuk hiring process women tech-talent. Memang, sebagai seorang ibu, kadang ingin bekerja, tapi kami tidak ingin meninggalkan anak-anak kita dan kehilangan melihat masa-masa kecil mereka. Nyo juga kadang mikir, kadang melihat senyuman si balita saat tidur itu lebih indah dari posisi CEO/Presdir apa pun di dunia ini. Bahagia rasanya…

IT /software merupakan adalah pekerjaan yang paling mungkin untuk wanita bekerja secara remote. Dan dengan PowerToFly, kita bisa menemukan perempuan2 hebat dalam teknologi, yang meskipun mereka tidak bisa datang ke kantor, mereka bisa kok menyelesaikan semua tugasnya dengan baik.  Sebagai keynote penutupan GHC / 1 London, dia juga mengatakan bahwa, “Dengan merangkul masalah yang dihadapi perempuan, Anda dapat memberdayakannya untuk membangun perusahaan yang  kuat.”

Inspiring… Semoga kelak juga bisa membuat company yang women-and-mom-friendly, tapi tetap efektif   :p