On-air dan Situasi London Pasca Brexit

Hari ini (24 Juni 2016) adalah sejarah bagi UK dan EU, yaitu Brexit (BRitan-EXIT)! Setelah hasil voting pada 23 Juni 2016 malam memutuskan UK untuk Leave EU (51,9%), dari 72% pemilih (30 juta suara).

Sehabisa sahur, pukul 4 pagi, Nyo live on-air di NET 10 dengan hangouts untuk pertama kalinya. Sempat deg-degan karena saat itu wifi kantor NET jakarta agak masalah dan sound audio/mic Nyo juga masalah (akhirnya pakai mic kondensor buat home recording) jadinya suaranya bergema.

Tapi akhirnyaaa…. setelah setting ini-itu hampir 1 jam, tibalah saat wawancara live on-air. Meski tetap ada kendala saat hangouts Nyo hanya bisa mendengar suara presenternya, tidak bisa nyala camera nya. Alhasil sempat kagok, bingung, ini sudah enak untuk berhenti ngomong atau lanjut ya? Alhamdulillah semuanya akhirnya lancar! Pheww… my first on-air on TV (norak, biarlah). Semoga ke depannya semakin banyak ya Nyo on-air di TV, sebagai narasumber tapi.. atau diwawancara mengenai album dan single2 terbarunya, haha (masih obesesi jadi artis).. hehe, insya Allah semoga Allah izinkan untuk berkarya/berprestasi yang lebih manfaat untuk ummat dan bisa lebih sering share deh..🙂

Bagi yang kelewat nonton, ini ada rekamannya! Abaikan ngomong Nyo yang belepotan yaaa.. :p

Lalu pagi-paginya, masih agak mengantuk sampai di office, lihat email. Eh, mas produser ternyata minta liputan untuk situasi London pasca Brexit. daripada pusing mikirin regressi Gaussian Process dan random forest regression dan cross-validation yang gak bener-bener, langsunglah Nyo meluncur ke TKP.

Lokasi 1: House of Parliament.

Patung Winston Churchill tampak menghadap ke arah Big Ben. Pada hari ini, Churchill mungkin merasa terkhianati yang pada masa perang 1946 selalu mendukung perkembangan EU, mendukung perdamaian dengan EU, dan mencegah konfik dengan
negara EU.

Inilah kota London, satu kota yang unik karena sangat kuat mendukung UK untuk ‘Remain’ di EU. Namun, suara voter hanya 69.7% sebab pada hari voting, London diguyur hujan deras sehingga beberapa Polling stations harus ditutup karena banjir. Meskipun England dan Wales mayoritas memilih Leave (sedangkan Northen Ireland dan Scotland di kubu Remain), tapi London yang merupakan bagian England – berbeda. London memilih untuk Remain!!

Hal ini membuat walikota London, Sadiq Khan harus menyusun strategi agar London bisa terus menjadi kota yang sejalan dengan pemerintah tapi juga tetap baik untuk investasi
dan bisnis.

Sayang, pada hari ini, kondisi Poundsterling terus melemah dan jatuh. Bahkan nilai tukar
GBP-USD, berada pada kondisi terendah dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Kondisi perekonomian dan kebijakan publik (seperti NHS – fasilitas kesehatan warga UK, potongan pajak, dan harga properti/pasar) masih belum ditentukan (diambang kegamangan) pasca Brexit. Semua tampak belum siap! Semua institusi (terutama yang bekerja sama lekat dengan Eropa) kebingungan dan tak tentu arah.

Disinilah House of Parlemen Inggris, tempat dirumuskannya Referendum Brexit dan lokasi para anggota parlemen menyusun langkah-langkah ke depan pasca Brexit. Meskipun hari ini diumumkan hasil Brexit, tapi indikasi menyarankan bahwa setidaknya butuh 2 tahun untuk UK menegosiasikan strategi ‘exit’ dari EU. Ini berarti, akan ada waktu bagi para pekerja UK di EU, atau pekerja EU di UK, atau pelajar EU di UK dan sebalikanya, mempertahankan dan menyusun kebijakan yang tidak terlalu merugikan kedua pihak.

Di seberang gedung parlemen, terdapat area yang dikhususkan untuk press. Televisi dan media dari UK, maupun luar memadati area taman parlemen. Tampak beberapa anggota parlemen sedang diwawancarai mengenai isu dan kebijakan ke depannya pasca Brexit.
Hari ini adalah saksi bahwa kubu di Inggris terpecah dua, Leave or Remain, dengan perbedaan yang tipis. Di depan House of Parliament juga, terlihat para partisipan yang memakai topi bercorak bendera UK, yang merupakan adalah kubu ‘Leave’ yang bersuka cita merayakan kemenangan UK menginggalkan Uni Eropa. Mereka merasa independent dan berhasil mengembalikan kejayaan otonomi UK – terlepas dari EU.

Lokasi 2: Downing Street 10

Sementara itu, di Downing Street, area dijaga ketat oleh polisi, bahkan jalanan tampak ditutup untuk kendaraan masuk. Akses ke Downing Street no.10 yang merupakan kantor resmi Perdana Menteri (PM) Inggris, juga terbatas hanya untuk yang berwenang. Pers hanya bisa menunggu di luar pagar Downing St.untuk menunggu keputusan mengenai kelanjutan posisi PM Inggris.

Pagi ini, sesuai janjinya, PM Inggris, James Cameron mundur setelah hasil Brexit dikeluarkan. Akan ada pengunduran diri secara bertahap oleh Cameron dari Downing St 10 dan diharapkan akan terpilih PM Inggris baru pada bulan Oktober nanti.

Kubu Remain, yang juga didukung Cameron, mayoritas adalah anak-anak muda dan tentu saja para mahasiswa dan univeritas. Terlihat dari poster-poster di kampus, mahasiswa/pelajar sangat mendukung untuk tetap di EU demi kekuatan UK.Ya, kaerna sebagain besar faculty member, juga dana riset berasal dari kolaborasi dengan EU. Akan sangat bimbang rasanya jika riset UK harus berjalan sendiri, belum lagi para staff (juga kedua supervisor Nyo adalah orang EU – Jerman). Bahkan, saking ngotot-nya, kampus Nyo mengeluarkan statement bahwa kampus ini tetap kampus EU. Demi mempertahankan talenta2 berbakat EU, dana riset EU, juga demi uang sekolah yang rendah untuk mahasiswa EU.

Sementara kubu Leave mayoritas adalah orang senior, yang menginginkan free trade, demokrasi, dan keamanan dari imigran. Kebanyakan adalah orang ‘desa’ UK atau veteran, yang berharap kembali ke masa kejayaan UK. Mereka yang lebih patriotik, tentu memilih untuk Leave. Meski, langkah ke depannya tidak dipikirkan, yang penting UK ‘bebas imigran’. Tentu mereka yang memilih ‘Leave’ (baca: orang2 sepuh) tidak terlalu akan merasakan dampaknya. Yang terkena imbas lebih lama atas keputusan mereka adalah orang-orang yang memilih ‘Remain’ (baca: anak-anak muda). Kubu ‘Remain’ masih akan terus memperjuangkan suara mereka, dengan menggelar aksi di Trafalfal Square hari ini.

Berikut video liputannya:

Bagi Nyo pribadi… jujur merasa sedih. Meskipun bukan orang UK/EU, tapi setelah 4 tahun di EU (Spain.France.Netherlands), dan 2 tahun di UK, Nyo merasa mereka satu kesatuan. Juga dengan program Erasmus mundus yang Nyo lalui di EU/UK sekaligus, sangat disayangkan jika kerja sama harus ‘terputus’, terlebih dari sisi akademis. Yah, mau gimana lagi, sudah terjadi… Kita lihat saja ke depannya😦