Plus-minus Sekolah Anak (nursery) di Inggris

Sudah  mau 2 term my Rhapsody sekolah di nursery di Primary School (yang dapat gratis dari pemerintah untuk anak > 3tahun 15 jam/minggu) selama Senin-Rabu/minggu. Sementara Kamis-Jumat di nursery kampus yang berbayar, untuk menyiasati agar MakNyo bisa tetap kerja ke kampus setiap hari.

Perkembangannya Alhamdulillah… di sekolah untuk belajar, mereka menekankan untuk cinta baca. Jadi setiap anak dikasih Book Bag, yang isinya beda terpisah dengan tas biasa, isi Book Bag sesuai namanya yaitu buku saja. Setiap hari dikasih buku cerita yang berbea untuk dibaca dibawa pulang, sehingga pulang sekolah selalu ada buku cerita baru, senangnya… Lalu setiap Rabu dikasih satu buku ekstra untuk belajar membaca (contohnya di buku kedua di video di bawah) yang memang sengaja dimudahkan kosakatanya. Orang tua harus mengisi bagaimana perkembangan membaca anak di buku ‘tugas’ Reading Journal dan dikumpulakn setiap Senin minggu berikutnya.

/Reading/  I know that some other kids can read better than my Rhapsody (if compared to my childhood, I could read at 3 y.o, now he's around 3.5 y.o). But, he learns much more than me at this age, esp. in social life (he's very chatty, lively, determined, resilient). Misalnya, di sekolah tetap gak tergoda- makan yang halal aja, gak ikut-ikutan nyanyi lagu natal saat festive season kemarin (katanya ke guru: aku orang islam, gak nyanyi itu), gak ikut-ikutan teman makan pakai tangan kiri, terus baca do'a dalam hati sebelum makan (katanya temannya gak ada yang baca do'a), tapi tetap main dan sayang sama semuanya. Mungkin kalau aku seumur belum tentu se-'kuat' dia.. xD It's not just about how to learn reading words, 'reading' in real-life is much more complicated. Read the situation. Read the facial expression. Read someone's feeling. Read the body language. Read the code (?). Read the signs. Read the intuition. Read the trend.

A post shared by Vanya2v (@vanya_2v) on

Di video itu my Rhapsody masih baca kata per kata, kadang masih sulit untuk dia membaca langsung. Dulu aku kata mama sudah lancar baca umur 3 tahun, setidaknya bisa baca papan reklame besar atau baca tulisan di koran yang besar, misalnya judulnya. Tapi my Rhapsody sudah mau umur 4 tahun belum bisa se-lancar itu. Mungkin karena faktor bahasa ya, disini aku ngajari hanya baca bahasa Inggris dan itu agak tricky – karena sistem bacanya berbeda. Ya, bukan dengan pengejaan dan persuku-kata seperti bahasa Indonesia, tetapi dengan sistem phoenic. MakNyo aja masih belajar dan bingung sebenarnya (gimana mau ngajarin?). Jadi ya latihannya dengan main game, belajar nulis, dan banyak-banyak baca… Gak harus baca buku, tapi majalah, tulisan di depan toko, tulisan di papan pengumuman, tulisan di baju, dsb. Semuanya jadi sarana belajar….

Yang paling penting sebenarnya agar my Rhapsody selalu semangat dan terus curious. Meskipun hitungannya belum se-lancar anak lain bacanya, tapi dia selalu penasaran, itu tulisan apa, gimana bacanya, saat lihat tulisan di truk, misalnya. He’s very chatty and likes to ask questions. Ini yang aku suka, Alhamdulillah… Karena kalau dia lost curiosity dan hanya ‘nerima’ aja, sepertinya malah jadi gak seru ya ^_^

Meski kata mas, “Gak penting baca cepat-cepat. Kamu (yang bisa baca umur 3 tahun) dan aku (yang baru bisa baca umur 7 tahun) ujung-ujungnya sama juga disini, satu rumah, hahaha…”. Hmmm…. iya juga sih. Tapi menurut aku, otak anak perlu dilatih dari kecil (halah..). At least, meskipun dia gak bisa baca secepat aku dulu, tapi he’s always curious dan yang paling penting, karakteristiknya.

Ada beberapa cerita kegalauan emak-emak saat anak masuk sekolah sebagai ‘minoritas’. Maklum, sekolah Islam sangat jauh dari rumah.. meskipun di sekolah ini ada banyak orang Islam, makanan Halal, dan teman sekelasnya juga lumayan (7 orang) yang muslim, tapi ini tetaplah sekolah umum. Kegoncangan sempat terjadi saat festive season lalu, dimana semua merayakan natal (di nursery sekolah dan di kampus). Semua, maksudnya, semua diajari lagu-lagu natal, menampilkan drama natal (kelahiran Jesus/nativitiy), dan mengenal tentang konteks natal.

Satu hari, saya gak tahu diundang nursery (kampus) untuk menyaksikan “The Play” anak-anak pada tanggal 13 Desember. Saya pikir drama biasa… Eh ternyata, drama nativity alias tentang natal tersebut. Kaget langsung, kalau gitu gak usah hadir… Tapi bagaimana sudah terlanjur hadir dan duduk di tengah drama?! My Rhapsody yang gak ngerti apa-apa bengong aja lihat teman-temannya drama bilang, “We love you baby Jesus.”

Deg! dan dia suka, mengulangi phrase yang diucapkan teman-temannya itu. Aku ketar-ketir…!!! Pulangnya, “Tadi teman-teman drama cerita apa? Oh, cerita kelahiran Nabi Isa as ya… dalam Islam, namanya Jesus itu Nabi Isa as. Kita juga love.. cinta Nabi Isa as. Yang tadi teman Rhapsody jadi Maria, itu ibunya Nabi Isa as namanya Maryam. Yang menciptakan Nabi Isa as itu Allah SWT, semuanya yang nyiptain Allah… Allah is our god, the one and only…”

Haduh… lemas sekali rasanya ya kalau akidah dan ketauhidan minim sekali diperoleh di lingkungan sekolah, malah di’interupsi’. Haduh… cemas dan langsung banyak-banyak doa, semoga anak ini kuat.. semoga akunya kuat, selalu dibimbing Allah SWT kuat dalam ke-Islam-an saat dia menjadi satu-satunya orang Islam di kelas (nursery kampus)nya.

Susah sekali memang menghindarinya. Sering anak kedapatan nyanyi-nyanyi lagu natal di rumah, dan kadang kalau dikasihtau malah semakin menjadi. Ada gurunya yang pakai jilbab di kelasnya, dia tidak ikut menyanyi lagu natal tapi diam saja. Pada satu ketika, my Rhapsody sepertinya mencerna perkataanku kalau kita tidak ikut-ikutan nyanyi, seperti guru itu. Lalu, dengan beraninya dia bilang ke guru yang lain, “Aku orang Islam, aku gak nyanyi lagu-lagu natal.”

Ooops… itu pengakuan dia. Wow, I didn’t mean to ask him to say that to his teacher! But? Berani banget dia, aku kalau seumur Rhapsody mah kayaknya ngikut aja, daripada beda sendiri xD (-> gak punya pendirian). Dan pas hari itu aku jemput, gurunya kok sempat kayak agak dongkol sama saya (dikira saya nyuruh bilang itu mungkin). Jadi gak enak, haduh… Tapi setelah itu mereka jadi ‘mengerti’, kartu bergambar pohon natal di dalamnya tidak ditulisi ‘Merry Xmas’ seperti yang lain tapi dikosongkan, dsuruh isi sendiri katanya 😀 :p

Yah.. begitulah. Rasanya pengen masukin ke sekolah Islam, tapi gak bisa karena borough nya berbeda (jauh banget pula), ada yang private tapi lebih jauh lagi lokasinya… Gak memungkinkan rasanya kalau harus ke kampus dan antar anak setiap hari. Semoga aja Allah SWT selalu melindungi akidah anak, ketauhidan, mengkarunia kekuatan iman, dan dekat dengan teman-teman yang sholeh di sekolahnya. Aamiin….

There’s lots of things he have to learn, rather than reading and writing…I admit he has much better social life than me, my sholih boy… 🙂

Advertisements