Kondisi London pascateror

Kala Ramadhan, biasanya kalau weekend kami buka puasa bersama di luar. Minggu lalu di KBRI, dan sekarang giliran kami menyambangi Ramadhan Tent. Suasana memang agak gak enak, tadinya sempat ragu saat mau pergi karena kok hatinya ngerasa ada yang ‘ganjal’ aja – perasaan takut ada apa-apa nih.

Tapi sekali lagi meyakinkan suami apa mau pergi, ternyata di iya-kan, yasudah. Akhirnya, kami menghadiri Open Iftar Ramadhan Tent di Pusat kota London. Acara selesai sekitar jam 10-an. Turun dari bus menjelang jam 11 malam, kami di stop oleh seorang nenek Inggris. Ia bicara dengan suami, aku pikir mungkin mau nanya jalan atau tempat. Tapi lihat dari raut wajahnya seperti panik dan agak kesal (sentimen mungkin?). Aku penasaran dan mendengar si nenek bilang, “Ada bom di London bridge!”

Langsung jantung berdegup karena kami belum sampai di rumah dan bawa anak pula, takut kenapa-kenapa (meski iya London bridge jauuh gitu dari lokasi saya tapi hawanya sudah gak enak), “Kapan?”

“Just now,” sahut si nenek dengan tampang masih jutek. Langsung buru-buru kami pulang.

Sampai di rumah langsung rusuh baca berita dan ternyata benar… Bukan bom, tapi terjadi penabrakan van dan penusukan masal di daerah London Bridge yang menewaskan 7 orang. Miris dalam hati bacanya, lagi Ramadhan begini…

Terrorism has no faith! Di artikel ini kemarin 130 imam masjid di Inggris menolak untuk mensholatkan para suspects teror London bridge karena mereka telah mencermarkan nama Islam.

Dikarenakan insiden tadi malam (3 Juni 2017) di London Bridge dan Borough Market, stasiun yang berhenti di dua wilayah turis tersebut masih ditutup hari ini. Borough Market merupakan pasar tua yang bisa kita jumpai setelah melintasi London Bridge. Di Hari Minggu, biasanya Borough Market ini tutup. Di antara stasiun underground Borough dan London Bridge, serta sekitar Borough Market berjejer banyak restoran serta pub/cafe, yang ternyata menjadi target serangan teror semalam – disaat kebanyakan orang sedang menikmati malam minggu.
Sadiq Khan, walikota London menyatakan bahwa pemerintah akan meningkat jumlah pasukan polisi bersenjata di kota London, terutama di area yang ramai turis/warga.

Level ancaman dan terorisme di Inggris sangatlah tinggi, dalam beberapa bulan terakhir telah terjadi serangan teroris beruntun (Westminster attack, bom Manchester dan insiden London Bridge). Tingginya level terorisme ini meningkat menjelang pemilihan umum yang akan diadakan tanggal 8 Juni 2017. Video selengkapnya:

http://netcj.co.id/moment/video/191333/pascateror-kemanan-kota-london-diperketat

Tujuh orang tewas dan setidaknya 48 terluka setelah teroris mengendarai sebuah van ke kerumunan di London Bridge. Polisi mengatakan orang-orang tersebut, yang melakukan serangan pada sekitar jam 10 malam pada hari Sabtu malam, mengenakan rompi bom palsu. Bendera setengah tiang dipasang di depan Downing Street sebagai belasungkawa dan penghormatan bagi korban insiden kemarin.

Inggris memang ‘kecolongan’ menurunkan level ancaman teorisme negara dari ‘critical’ (level 5) menjadi ‘severe’ (level 4) semenjak bom Manchester. Di saat ‘lengah’, London kembali diserang. Kali ini, Theresa May dan Sadiq Khan tak mau mengalah takut pada teroris. Pemilihan umum akan tetap berlangung Kamis ini (8 Juni 2017). Namun, mereka langsung meningkatkan kewaspadaan dengan mengerahkan jumlah pasukan bersenjata di jalanan. Ambulans juga tampak berjaga di beberapa titik.

Pembatas besi di jalan pedestrian:
Ada hal berbeda saat saya keluar sehari setelah insiden. Saya melihat adanya pagar besi pembatas antara jalan dan trotoar. Setelah penabrakan brutal mobil van semalam, mungkin hal ini adalah salah satu yang bisa dilakukan untuk melindungi para pedestrian dari kejadian seperti itu.

http://sg.netcj.co.id/moment/video/191333/pascateror-kemanan-kota-london-diperketat

 

 

Advertisements