Hari-hari Haji

Setibanya di Jeddah Airport, kami sholat subuh dulu lalu bertolak ke imigrasi. Sudah deg-deg-an aja katanya imigrasi Haji di Jeddah lama banget bisa 10-12 jam menunggu, eh ternyata kosong… song! Antrian hanya 4-5 baris di depan, mungkin karena jamaah sudah pada tiba, kami ‘ketinggalan’ baru datang. Alhamdulillah begitu keluar imigrasi langsung ke luggage belt dan menunggu bus angkut di luar aiport. Suasana luar bandata Jeddah terasa sepi, tidak ada toko yang buka apalagi penjual minum (haus sekali rasanya disambut hawa panas).

Alhamdulillah… setiap bus berhenti, kami selalu diberi kotak makanan ‘HADIYAH’ , untuk jamaah haji….

IMG_0093

Isinya ada minuman, snacks, kurma, kacang, dsb

Bus lalu membawa kami menuju Hotel di Azizia. Ya, memang 2 hari sebelum dan 2 hari setelah haji, kami menginap di Hotel Azizia. Masalah muncul ketika pembagian kamar hotel yang diisi oleh 4 orang/kamar, namaku ditukar dan alhasil ‘tidak diterima’ di satu pun kamar! Setelah melapor ke group leader akhirnya satu kamar menerima aku juga.

Ternyata, belum berakhir disitu, satu kamar 3 orang wanita lain (2 Pakistan dan 1 Bangladesh) sudah berumur dan cuman satu yang bisa ngomong bahasa Inggris. “Speak Urdu,” salah satunya bertanya padaku dan aku menggeleng. Dalam hati, wah gawat nih jangan-jangan… benar lah, semuanya asik ngomong sendiri bahasa Urdu. Yasudahlah, begini memang lebih baik, aku jadi tidak usah banyak ngobrol.

Setelah cukup beristirahat, malamnya kami melaksanakan umroh. Perjalanan dari Azizia ke Masjidil Haram memakan waktu 1 jam karena harus memutar jauh. Kami baru memulai umroh jam 12 malam dan Alhamdulillah selesai menjelang Subuh, lalu jam 7 semua kembali ke hotel.

Kami pun ‘tepar’ sepulang umroh dan langsung tidur di hotel. Tapi semua itu tidak berlangsung lama karena leader bilang,”Nanti tengah malam kita mulai mobilisasi ke Mina!”

Ha? Tanggal berapa ini?! Ah iya sudah 7 Dzulhijah, mungkin mulai dari malam sudah bertahap pindah ke Mina. Walah, belum packing! Dengan tangan yang masih pegal, aku pun memasukkan perlengkapan untuk mabit di Mina 5 hari (nafar awal).

Ke Mina, kita hanya dibolehkan membawa 1 tas kecil (kalau bisa tas kabin yang ada roda dan tidak terlalu besar): isinya pakaian secukupnya, peralatan mandi (sabun/sampo/daycream yang ‘aman’ alias non-perfume untuk ihrom), gunting untuk tahalul, obat2an, tas ransel untuk ke Arafah (isi: buku doa, qur’an, spray/fan kecil, payung), dan matras/sleeping bag/tikar untuk di Muzdalifah.

Setelah Isya kami sudah tidur dengan pakaian lengkap (pakaian ihram) jadi kalau tiba-tiba diketok langsung bangun dan pergi. Tidurki benar-benar tidak bisa tenang, setiap 1-2 jam kebangun, memastikan apakah bus sudah datang atau belum, lalu ke WC (untuk menghabiskan cairan tubuh biar di Mina nanti tidak ke WC terus). Namun, sampai pagi leeat subuh, Bus tak kunjung datang padahal grup travel lain sudah pergi menuju Mina semenjak malam.

Hati agak khawatir saat hotel terasa lengang, hanya grup kami di lantai 4 dan 6 yang belum terangkut. Akhirnya sekitar jam 9an, pintu diketok,”Coach is coming in about 10 minutes.”. Langsung kami sibuk bergantian ke WC, lalu mengucapkan niat Haji sebelum berangkat ke Mina.

Ternyata dari hotel, sampai ke Mina hanya dalam beberapa menit saja: dekat. Tapi masalahnya karena kami grup terakhir yang datang, tenda Mina sudah penuh! Kami sekamar (4 wanita) tidak bisa gabung di tenda yang sama dengan satu grup travel kami. Hiks…. akhirnya kami dimasukkan ke tenda yang ada tempat kosong, di travel lain tapi masih dari UK. Untung masih ada tempat meskipun aku harus ‘nerimo’ kebagian tempat di paling pojok, dan sebenarnya itu ‘extra’ sofabed karena letaknua di luar perbatasan dengan tenda grup lain (sepertinya dari Prancis). Yasudah lah, dapat tempat dalam tenda dan ada sofabed juga Alhamdulillah… karena ada orang-orang yang harus duduk di tenda darurat Mina; mereka tidak dapat tempat.

IMG_0529

Tenda Mina.. begini kotak yang dapat untuk sarapan, isinya sereal, croissant, susu, selai, butter, yummy.. 🙂

Aku merebahkan tubuhku meski tempatnya sempit karena paling pojok, sisters pada naruh barang-barangnya disana semua. Alhamdulillah lagi, badanku kecil mungil jadi tidak terlalu masalah nyempil begini. Benar kata grup leader,”In Mina, there will be basic facilities, basic toilets, basic tents, and you will be packed like sardines: literarly like sardines!” . Yes, it is so true…

Di dalam tenda, semua pada kepanasan jadi para sisters membuka jilbabnya. Untung tenda kami semi permanen dari dinding dan pintu kokoh jadi harus ketuk dulu kalau mau masuk. Pantas panas, ternyata AC nya rusak. Setelah dibenerin, AC nya malah nyemprot banget ke arahku. Alhasil, saat orang-orang kepanasan di Mina, aku malah kedinginan malah waktu malam pakai selimut, brrr… saking nyemprotnya, jadi masuk angin di hari terakhir Mina bolak-balik toilet. Oh no!! Tahu sendiri kan bagaimana awalnya Nyo pengen banget menghindari ‘ke belakang’ di Mina, ternyata… harus berhadapan dengan realita. Rasanya, saat masuk angin dan para ibu-ibu gak sabaran gedor-gedor pintu toilet dan antri panjang itu…. tiba-tiba selangnya rusak dan air menyembur deras dari kran, hiks…😭. Berjuta rasanya…tak terlupakan. Alhamdulillah habis minum beberapa tablet Biodiar mampet juga.

Makanan di Mina: menyenangkan saat sarapan, kami diberi kotak isinya biasanya croissant, selai, susu, cereal, madu, dsb. Tapi saat makan siang dan dinner: porsinya porsi 3 orang!! Menunya juga kadang membuat Nyo gak selera makan, beberapa kali cuman minta ibu di sebelah 3-5 sendok saja. Menu kari, biryani, dan sejenisnya kadang terlalu berat dan membuat perutku tidak enak. Tapi waktu habis lempar jumroh aqabah, langsung habis satu porsi (yang sebenarnya 3 porsi).

8 Dzulhijah: Hari Tarwiyah

Hari ini sunnahnya para jamaah berada di Mina. Katanya hari tarwiyah artinya hari mempersiapkan air sebagai bekal untuk dibawa berwukuf di Arafah. Jadi, nikmati saja hari ini di Mina untuk makan, minum dan istirahat banyak-banyak menyimpan energi untuk puncaknya besok.

Dalam tenda isinya etnis macam-macam gabungan dari 3 travel agen dari UK. Kebanyakan dominan Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, etc, sisanya ada Persia, Malaysia, Mesir, dan Indonesia (aku). Meskipun tampang mereka bukan bule tapi kebanyakan lahir dan besar di UK. Makanya, agak lucu aja lihat mereka gak pernah lihat dan gak ngerti cara toilet jongkok, “Do you know where should we face when we use that local toilet?”🙂 hehe… bingung mereka menghadap mana kalau pakai toilet jongkok. Kadang bersyukur juga yah di Indonesia gak semuanya berfasitas hotel 5*.

IMG_0218

Tenda Mina kawasan Eropa-Afrika

Nenek di sampingku tapi mengeluh lagi, “Why we should be here? Why not come back to our hotel?”. Aku jadi teringat saat seminar, grup leader sudah menceritakan dulu juga ada kasus serupa, jamaah yang mengeluh padanya,”I don’t wanna be here… why we should be here.. I wanna come back to the UK.”. Lalu, grup leader menjelaskan lagi sirah Nabi Ibrahim AS. Haji itu semestinya meneladani ‘pengorbanan’ dan ketaqwaan mereka. Saat anak satu-satunya, Nabi Ismail AS yang mereka cintai, sudah menjelang dewasa (tubuh tegal,kuat,pemuda yang sanggup menopang orang tuanya yang sudah tua), malah diperintahkan Allah SWT untuk dikorbankan. Nabi Ibrahim AS bukannya tak cinta anaknya, he is a very loving father… tapi mereka bertakwa pada Allah SWT, Nabi Ismail AS juga rela atas apa yang diperintah-Nya. Maka bapak dan anak ini pun pergi ke Mina, untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Beginilah harusnya kondisi di Mina, hati khusyuk untuk menaati perintah-Nya.

 

9 Dzulhijah: hari Arafah

الْحَجُّ عَرَفَةُ

Haji itu adalah Arafah. [HR. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasâ’i no. 3016,Ibnu Mâjah no. 3015]

Inilah hari puncak haji, hari yang ditunggu-tunggu…
Sekitar pukul 9, bus membawa kami ke Arafah. Sepanjang jalan, jangan lupa untuk memperbanyak bertalbiyah…  Dari Mina, kami membawa tas ransel kecil (isi buku doa/quran/spray/fan kecil/obat) dan matras untuk di Muzdalifah. Jaraknya ternyata dekat dan Alhamdulillah tidak macet.

Tahun ini adalah tahun pertama dicoba tenda ber-AC di semua tenda Arafah karena masa Haji mulai tahun ini jatuh pada musim panas. Kami sudah senang saja tapi ternyata AC di tenda kami mati 😭 jadi kami lebih ‘menghayati’ suasana Arafah.

Suami sudah mewanti, “Jangan ikutan orang di tenda Eropa ya kalau mereka santai-santai dan leyeh-leyeh…”. Benar saja… Awalnya kupikir suasana Arafah bakal khusyuk dan semua orang konsen fokus doa/dzikr, namun ternyata… selepas sholat zuhur-ashar dan khutbah, kita disuguhi meal Al-Baik (yak satu orang dapat 6 potong ayam spicy plus chips and buns). Kukira habis makan pada konsen semua karena inilah waktu paling mustajab, paling sakral antara habis sholat ashar sampai magrib. Ternyata, suasana belum kondusif juga meski leader sudah memerintahkan, “Please make use of Arafah day.. just in this period, please try to ‘fasting’ to talk or chat with others.”

IMG_0292

Rombongan jamaah Indonesia yang ‘nyempil’ di tengah rombongan ‘meneketehe’ alias kebanyakan orang British-Asia Selatan, hehehe…

Masih terdengar suara ngobrol dan dengkuran beberapa sisters, sisanya mencoba untuk membaca quran dan berdoa. Karena cuaca yang panas, dua sisters masuk membawa kardus, “Would you like some ice cream?”. Nyo yang baru mencoba khusyuk jadi terdistraksi, pengen tapi takut sakit tenggorokan dan sayang juga waktu Arafah yang sempit dipakai untuk makan lagi, “hmm… No, thanks.. jzklh.”

Kami orang Indonesia (berempat cewek) sengaja memisahkan diri saat Arafah biar bisa lebih konsen, ada yang di pojok, di luar, dan aku sendiri milih dalam tenda paling depan meski panas-panas. Lama-kelamaan suasana kondusif dan waktu tak terasa sudah menjelang Magrib.

Sebelum ke Muzdalifah, menjelang magrib akhirnya Nyo beranjak juga untuk ke toilet. Lagi-lagi antri, tapi katanya lebih baik selesaikan urusan WC disini karena di Muzdalifah fasilitas toiletnya kurang nyaman. Balik-balik ke tenda di penghujung waktu, ternyata lagi ada doa bersama yang dipimpin Syekh, eh tapi bahasa Pakistan campur Arab. Walah… gak ikutan deh, doa sendiri aja.. daripada saya meng-amin-kan doa bahasa Urdu yang aku tangkap cuma,”Meneketehe do jado sate he.. kiya karo sate jahe he..” 😅🤗

Pemandangan luar tenda saat langit mulai kemerahan di hari Arafah sangat mengharukan. Para jamaah berdoa khusyuk menengadahkan tangan mereka sambil berdiri, sambil duduk, semua menghadap kiblat dan syahdu. Allahu Akbar… sangat bersyukur kami bisa melewati hari Arafah disini. magrib pun telah lewat dan kami menunggu bus mengangkut kami ke Muzdalifah.

IMG_0261

Suasana Arafah

Sebelum naik bus, leader membagikan kami kotak makan untuk sarapan (tapi nyatanya kami sudah makan saat dinner sebelum ke muzdalifah). Melewati Muzdalifah kami melihat lokasi jamaah haji Indonesia. Konon tahun ini mereka dibuatkan tenda biru dengan permadani untuk bermalam di Muzdalifah.

Sedangkan kami? Begitu turun di Muzdalifah, yang aku lihat hanya hamparan pasir, tebing batu, ada toilet2, dan disamping parkiran bus. Tidak ada tenda seperti di lokasi jamaah Indonesia? Belum lagi saat kami sampai, sudah penuh sehingga grup kami terpisah-pisah. Setelah menggelar sleeping bag/tikar, kami melaksanakan sholat magrib-isya jamaah lalu (berusaha untuk) tidur.

Aku merebahkan tubuhku di self inflatable mattrass juga bantal leher yang sangat membantu. Awalnya kukira aku bisa langsung tidur di Muzdalifah. Memang awal-awal nyenyak… tapi itu hanya 1 jam an awal. Setelah itu, orang-orang terus mengisi tempat yang ada, terus tidur dimana pun sampai squeezed up disana, tidak ada tempat untuk bergerak pun selain matras kita, samping-samping depan belakang sudah muka-kaki orang.

Sebenarnya itu gak terlalu masalah untuk ku tapi yang paling ‘menyiksa’ adalah asap buangan entah dari bus atau mobil aspal yang benar-benar bikin sesak napas dan pusing: karbon monoksida! Sesak sekali, lalu abis itu malah mimisan banyak 😞

Aku mencoba untuk tidur lagi tapi baru terlelap, tiba-tiba terasa ada yang menendang pasir ke atas wajahku. Aku bergumam dalam hati, “mungkin ini rasanya tidur jadi homeless.” Hiks… Langsung aku terbatuk dan terbangun… kembali menghirup udara CO dan akhirnya memilih duduk bareng suami ‘menikmati’ pemandangan Muzdalifah: menatap sekeliling hamparan jamaah berkain ihrom putih tanpa ada celah berhimpitan di bawah langit malam.

IMG_0320

Pemandangan Muzdalifah di sekitar kami.. tidak ada celah selain tempat kita berbaring

Subhanallah… rasanya ingin mengeluh dan hampir saja lupa akan keutamaan bermalam di Muzdalifah kalau leader tidak mengingatkan kami, “When people kept coming and squeezed your place in Muzdalifah, it reminds me of qubr. If you are lucky when you die, you will be cover with kafan and you only left place like this 1×2 meter. This is the only space you have in this world. The ONLY space left for you…”… yeah and that made me realized.

Kami menunggu sampai Subuh, karena sunnahnya sholat Subuh dulu di Muzdalifah. Selepas sholat Subuh berjamaah, kami mulai berjalan kembali ke tenda Mina. Tubuh rasanya sudah mau rontok karena tidak bisa tidur dan kelelahan, apakah kuat menyambung Jumrah Aqabah hari ini?

 

10 Dzulhijah: it’s Eid day

Kami belum tahu kapan grup kami berangkat jumroh aqabah. Tapi begitu sampai tenda Mina, langsung pelor: alias molor. Ya Allah… tenda Mina yang awalnya kita underestimate, sekarang terasa mewah sekali dibandingkan dengan Muzdalifah! Alhamdulillah… empuk sekali sofabed nya, segar sekali udara dingin dari AC tenda Mina 😊

Zuhur baru bangun dan dikabari bahwa kami akan berangkat lempar jumroh aqabah setelah Lunch. Lokasi tenda Eropa lumayan jauh dari jamarat, sekitar 45-60 menit jalan kaki. Aku sudah siap mental dan fisik, kalau nanti bakal lama dan desak-desakan seperti di berita-berita itu. Kami pun mengikuti rombongan, berjalan beriringan, melewati tenda-tenda Mina lalu terowongan Mina. Sayang, berhubung cuaca sangat terik dan panas menyengat, langkahku semakin melambat, sementara rombongan sudah jauh di depan.

Tidak seperti rombongan jamaah haji Indonesia yang kompak berjalan dan saling menunggui, jangan harap seperti itu, dari awal sudah diberitahu,”We will not wait.. we will walk not too fast not too slow.. But if you get lost, just follow the road back to camp road 69.” . Okay… dan mas pun akhirnya menemaniku yang jalannya emang level jamaah Indonesia, alon alon asal kelakon. Kita pun ikutan bergerak bareng jamaah Indonesia, pakai eskalator, sebentar-sebentar istirahat karena mukaku sudah seperti kepiting rebus.

IMG_0393

Bergerak di terowongan Mina

Akhirnya, terlihat juga jembatan gedung jamarat lantai 3. Yak, dari Mina ini jalurnya tembus ke lantai 3, dan memang ramai tapi semua bergerak dengan teratur. Bahkan sampai agak heran apakah benar ini jamarat yang biasa terlihat ramai dan penuh? Karena saat itu sepi.. lowong! Mungkin gara-gara persis setelah tengah hari ya? Panas… jadi Alhamdulillah, Nyo bisa mepet tembok jamarat untuk lempar jumroh biar yakin kalau lemparannya ‘masuk’, kalau gak mepet gak kelihatan soalnya meski jinjit juga 😅

Alhamdulillah… 7 kerikil sudah kami lempar ke Jumrah Aqabah. Kami pun berjalan pulang ke tenda Mina. Di tengah jalan/di sekitar gedung jamarat bisa refill ulang minuman di water tap yang tersedia, aku sendiri selama perjalanan menghabiskan 5 botol air! Saking panasnya gak akan ke ‘belakang’ karena habis sendiri oleh keringat. Karena kami terpisah dari rombongan, aku dan suami akhirnya ikut saja jamaah Indonesia balik ke Mina. Eh tapi…. kok salah, kami malah nyasar berakhir di tenda Indonesia! Hehehe… ternyata kami masih harus menyusuri beberapa terowongan Mina dan jalan berkelok lagi untuk sampai ke tenda Eropa.

Sesampainya di tenda Mina, tak berapa lama kami dapat kabar bahwa kurban kami sudah dipotong semua. Mas langsung minta tahalul digundul oleh temannya yang sudah tahalul duluan.

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, rahmatilah orang yang menggunduli kepalanya (dalam haji).” Sebagian sahabat bertanya, “Bagaimana dengan mereka yang hanya mencukur sebagian rambutnya, ya Rasulallah?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya Allah, rahmatilah orang yang menggunduli kepalanya (dalam haji).” Sebagian sahabat bertanya lagi, “Bagaimana dengan mereka yang hanya mencukur sebagian rambutnya, ya Rasulallah?” Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, rahmatilah orang yang mencukur sebagian rambutnya.” (HR Bukhari)

Baru setelah mas gundul, aku minta potongkan rambutku. Tentu kalau perempuan, gak gundul dong, hanya sekitar 1 inci, jadinya cepat dipotong di sebelah toilet cewe, biar gak kelihatan. Alhamdulillah… sudah tahalul awal.

Kami tinggal menunggu tawaf ifadah yang katanya bakal bareng-bareng esok dini hari. Syukurlah ada waktu untuk istirahat. Aku melihat para sisters dari tur lain di tendaku belum balik-balik dari tadi malam, karena mereka nyambung dari Muzdalifah, istirahat sebentar lalu langsung Jumroh Aqabah dan langsung berjalan lagi untuk Tawaf Ifadah tanpa istirahat. Konon Tawaf Ifadah hari ini adalah yang terpadat, aku tidak bisa bayangkan betapa lelahnya. Bisa sih kalau memang semangat dan ingin segera beres…

 

11 Dzulhijah: Hari Tasyrik

 

Menjelang Subuh, kami dibangunkan, grup kami harus berangkat untuk tawaf Ifadah. Kami berkumpul di luar tenda, sudah siap kalau mau jalan kaki ke Haram. ternyata grup leader malah membawa kami jalan kaki ke Hotel Azizia yang hanya 45 menit an berjalan dari tenda Mina. “You can rest here and we will go for Tawaf Ifadah after 7 am.” Alhamdulillah…. rasanya masuk kamar hotel ‘sesuatu’ banget ya, meski cuman sekitar 2 jam an.

Pukul 7 Alhamdulillah ke Haram naik coach transport Haji yang dari luar seperti angkot tapi dalamnya baguuuusss dan dingin (don’t judge the car by its cover). Kami sampai jam 8 pagi, dan grup leader bilang bahwa coach akan berangkat dari sini pukul 10 untuk kembali ke hotel. What? Dua jam untuk Tawaf Ifadah dan Sa’i? Emangnya cukup??!! Kami gak mau lihat jam saat melakukan itu, yah kalau ditinggal yah terserah deh… Eh, tapi saat selesai semuanya, ternyata baru jam 10.15 Alhamdulillah… Kami coba keluar apakah sudah ditinggal rombongan? Ternyata belum… 😀

Alhamdulillah… selesai Tawaf Ifadah, sudah bisa lepas dari seluruh larangan Ihram. Sorenya setelah cukup istirahat di hotel, kami pun bergegas untuk lempar ketiga jumroh, tapi bedanya kali ini berangkat dari arah Azizia. Ternyata dari hotel (naik coach karena sebagian besar jamaah pada gak kuat jalan, sudah tua), ke wilayah Sisha, dan tembusnya ke jamarat lantai 2. Nah, karena sore cuaca sudah tidak panas, maka jamaah-nya membludak. Saat itu, aku merasakan lempar jumroh terpadat dan ramai. Tapi Alhamdulillah, dapat juga yang mempet tembok lempar jumroh (biar memastikan batunya masuk). Kami rombongan bergerak beriringan dengan bendera grup di depan. Kembali ke tenda Mina yang memakan waktu 1 jam berjalan.

IMG_0495

Dari Jamarat, berjalan ke Mina, menjelang Magrib

 

Meskipun padat, tapi para askar (security) selalu mengatur agar flow lancar, “Ya Haji.. tariqh… tariqh…”. Begitu yang kudengar, kupikir itu bahasa Indonesia, “tarik.. tarik..”, ternyata artinya, “please, make way..”.

 

12 Dzulhijah: Nafar Awal

Hari ini defaultnya, semua grup di tour kami meninggalkan Mina. Hmm… tidak terasa, rasanya baru kemarin sampai di tenda Mina, sekarang sudah harus pergi toh? Hari ini, melempar jumroh terakhir. Agar bisa selesai sebelum Magrib di Mina, aku dan suami jadi pergi duluan untuk lempar jumroh, terpisah dari rombongan.

Grup leader sebenarnya dari awal sudah mewanti, “Jangan seperti tragedi Mina tahun 2015. Mereka buru-buru ingin segera selesai lempar jumroh dan meninggalkan Mina. Akhirnya, semua orang terdesak dan it was one of the scariest things in my life (selama  memandu haji)… No one could recognize the bodies, they were flatten..,” semua karena apa? Karena tidak sabar ingin segera selesai dan kembali ke hotel.

Hatiku agak takut juga, awalnya kami sempat ragu apakah jalan kami ini benar? Melihat orang-orang di sekitar kok sepi jamaah yang berjalan? Ternyata mereka naik bus jamarat, yang disediakan dari SAPTCO gratis dari kawasan Azizia menuju Jamarat lantai 2! Walah….

IMG_0656

Bus jamarat, memudahkan jamaah melempar jumroh

Tapi akhirnya, Alhamdulillah setelah 45 menit berjalan menanjak, kami pun sampai di lokasi Jamarat. Semua lelah pun hilang…. Setelah lempar jumroh ‘ula, dan jumroh wustha, jangan lupa untuk berdo’a banyak-banyak, terutama mengenai hal-hal/sifat buruk yang ingin kita ‘buang’ setelah ini.

Alhamdulillah selama berjalan, kami juga suka dapat minuman-minuman gratis yang dibagikan para dermawan untuk jamaah haji. Subhanallah… semuanya berlomba-lomba untuk bersedekah.

IMG_0422

Gedung jamarat dan tenda Mina

Alhamdulillah…. seluruh rangkaian ritual hari Haji pun sudah kami lewati.

Kami pun kembali ke hotel Azizia, dengan ‘rutinitas’ menu yang sama, 3x sehari makanannya sama semua model ala Asia Selatan, kari dan roti. Lama-lama emang eneg sih, tapi gimana lagi ya… disyukuri saja.

IMG_0734

Menu yang sama di hotel…. ala-ala pakistan/india begini

Meski setelah hari haji, mereka berbaik hati menyediakan nasi kebuli kambing yang enaaak sekali Alhamdulillah… dan aku pun tepar istirahat seharian di hotel setelah hari haji. Alhamdulillah wa syukurillah… selama hari haji gak sakit dan diberikan kekuatan sama Allah SWT untuk melalui semua….

IMG_0732

nasi kebuli dengan kambing besar-besar

Advertisements