Menikmati Hari-hari di Haramain setelah Haji

Alhamdulillah itinerary paket yang kami pilih pas sekali, setelah menjalani hari-hari Haji kami bisa lebih santai menikmati kota Mekah dan Madinah.

Selama 3 minggu disana, Nyo ganti HP (memang karena suatu hal) jadinya gak ada apps yang ter-install. Sengaja memang gak ada social media, no emails, no instagram, no WA (cm keluarga saja), no news, etc. Dan Alhamdulillah…. baru kali itu Nyo ngerasa hari berjalan lebih lambat, seperti saat masih kecil. Konsentrasi kita bisa fokus untuk ibadah, berdoa, ngaji, dan…. makan (hehe, yang terakhir mah hiburan banget buat Nyo).

Rasanya pengen juga ya bisa seperti itu di hari-hari biasa. Sadar juga sebenarnya kita kebanyakan ngurusin orang lain lewat socmed, si ini lagi itu lah, si itu udah apa lah, kadang hati jadi terbesit seseuatu yang tidak baik, kadang takut terjerumus ujub/sombong/riya, dan waktunya malah habis. Tiga minggu kemarin, setidaknya seperti detox dari hal-hal seperti itu. Setidaknya bisa merasakan ‘ketenangan’ menikmati Haramain tanpa gangguan apps/socmed yang tak perlu selama di tanah suci kemarin.

Dua hari setelah haji kami stay di hotel Azizia, cukup sekali untuk istirahat (total karena kaki dan badan rasanya linu) dan belanja-belanja (lebih banyak mall besar dan murah harganya dibandingkan di dekat Haram) – meski gak belanja apa-apa cuma beli remote control untuk si Kakak. Satu harinya lagi dipakai untuk ziarah kota mekah.

Jangan kira seperti rombongan Umroh Indonesia; ada foto grup bareng dengan membentangkan spanduk di depan tempat ziarah… lha, si mas kecele, sendirian bawa kamera. Yang lain sepertinya memang gak mau foto-foto meski ini saat ziarah – di luar kegiatan ibadah. Beda ya…

Yang pertama kami kunjungi adalah Jabal Rahmah. Karena letaknya di Arafah, bus kami jadi melewati area haji lagi.. Subhanallah.. lihat Mina sudah sepi (dalam setahun hanya ‘hidup’ selama 5 hari haji). Kami juga lewat Arafah yang tenda-tendanya sudah dibersihkan, sayang masih meninggalkan sampah di tempat sakral ini. Sepi sekali.. tidak seperi beberapa hari lalu, dimana para Haji semua berdoa disini.

DSC_0042.JPG

Akhirnya kami pun sampai di Jabal Rahmah, grup leader memberi tahu, “Several days ago during the day of Arafah, this Jabal Rahmah became completely white, covered by the Hujjaj who climbed it. But, this is unfounded in the hadist.. the only thing why we came here because Rasulullah SAW-in the day of Arafah, after gave his sermon in Namirah, came to Jabal Rahmah and made du’a at the bottom of the mountain – not at the top.”

Pak grup leader menambahkan lagi, “Many people said that this is the place where Adam and Eve met, but .. there is no strong evidence on that. Hence, some people keep making bid’ah here,” misalnya menulis namanya dan nama pasangannya di tugu puncak jabal.Setelah itu, kami beranjak ke Jabal Tsur dan Gua Hira, disertai sejarah dibalik lokasi tsb.

DSC_0145

Breakfast with a view – from Hilton suites

Alhamdulillah, selama 7 hari kami menginap di Hilton Suites tepat di seberang Masjidil Haram. Biasanya kami breakfast with a view Haram yang menenangkan.. meskipun awal hari setelah haji Nyo sakit, biasalah sepertinya semua Haji kena sakit flu-batuk onta haha-demam, ditambah lagi masuk angin (lagi) mungkin gara-gara duduk di lantai Haram yang sejuk dan kipas angin. Meski hotel kami di depan Haram, tetap saja deh, minimal harus setengah jam sebelum waktu sholat perginya karena kalau tidak sudah pada ditutup gate masuk ke masjidil Haram (kecuali kalau mau di King Fahd extension bisa sih 15 menit sebelumnya, tapi belum pernah).

Kadang merasa lebih ‘capek’ dari hari Haji karena bolak-balik, istirahat sebentar berapa menit langsung balik lagi ke masjid. Tapi ya memang itu kan tujuannya disini 😅 . Alhamdulillah hotelnya di depan jadi bisa lebih hemat tenaga. Dan yang pasti makanan hotelnya sooo…yummy, terutama dessert nya.. dan ini yang membuat berat Nyo jadi naik drastis🙈 (sampai sekarang belum bisa turun coba!!)

Kami gak sempat beli atau lihat apa-apa di sekitar mungkin karena sudah terlalu lelah dan simpan energi untuk waktu sholat di masjid. Karena paket tur cuman nyedian breakfast dan dinner, harusnya lunch pada makan di luar. Tapi itu pun kami (aku ding) gak kuat nyari lagi karena dimana-mana resto antri, wah habis waktu deh mending tidur di kamar. Ujung-ujungnya beli croissant/roti aja di Bin Dawood.

Eh tapi satu hari kami sempat nyoba jajan Bakso karena penasaran: Bakso Grapari. Harganya 15 SAR dan antrinya…. as expected, luamaaaaa…. 😭 tapi gak nyesel karena baksonya enaakk.. at least buat kami yang sudah lama banget gak makan bakso ‘beneran’ di London.

IMG_0951

Bakso di Grapari Mekah

Nah, bagi yang mau jumatan… Nyo dan suami sama-sama mengalami kejadian ‘nyerempet K.O’ lah waktu jumatan di Masjidil Haram. Mas mau masuk ke masjidil Haram di pintunya sudah bergumul orang, jauh super sangat dibandingkan waktu sholat kapan-pun yang kami sudah lalui disana. Nah, saat itu mas kegencet dan dihimpit orang-orang yang memaksa masuk yang berujung ricuh. Alhamdulillah setelah beberapa lama susah napas, akhirnya bisa lolos.

Aku pas datang jumatan awalnya lancar, dapat masuk di lantai 1 tawaf khusus kursi roda (agak tricky sebenarnya karena aku nempel sama orang depan yang pakai kursi roda jadi di’lolos’kan hehe). Eh, pulangnya… salah jalan! salah pintu dan saat keluar kondisi sudah lautan manusia… parahnya, tidak seperti di jumroh atau mina yang arahnya sudah diatur, disana semua saling dorong, dari arah berlawanan tidak ada jalurnya. Nyo kehimpit dan kedorong orang, sandal sempat juga tercecer… saat sedang kalut, bahkan petugas juga memukul badanku. Padahal saat itu kondisi kacau, ibu-ibu di depan sudah jatuh karena didorong-dorong dan dihimpit, semua memaksa jalan padahal arahnya berlawanan. Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan untuk akhirnya lolos dari himpitan… selamat…

IMG_0787

salah pintu keluar! harus melewati lautan manusia sampai ke seberang, ujung sana; hilton suites..

 

Alhamdulillah… we will surely miss those moment. Seminggu penuh fokus konsen berusaha untuk bisa beribadah terus ke Masjidil Haram… sepuasnya minum air zam-zam.. berlama-lama memandang ka’bah.. latihan menjaga wudhu dalam waktu lama.. heheh.. 😍

DSC_0239

we surely miss this moment.. memandangi ka’bah, berdoa depan multazam.. ya Allah, semoga bisa kesana lagi sama keluarga..

Akhirnya setelah 7 hari di Hilton Suites, kami pun tawaf wadha dan meninggalkan kota Mekah menuju ke Madinah. Kok ya terngiang lagu Madina nya Maher Zain terus ya… madina madina madina tun nabi..

DSC_0265

foto kenang2an sama teman sekamar.. ibu2 Pakistan dan Bangladesh..

Perjalanan kurang lebih sekitar 6 jam dengan beberapa stop. Nah setiap di stop dapat ‘Hadiyah’ lagi dari Muktamar. Alhamdulillah jadi kami tidak kelaparan dan kehausan selama perjalanan di bus. Yang aneh, dalam dus ‘Hadiyah’ ada lentil soup, houmous, dan dikasih piring plastik. Makannya ginana ini di bus..

Kami pun sampai di Madinah, dan masjid Nabawi sudah terlihat tepat depan hotel kami, Dar al Iman. Begitu pembagian kamar, kami menuju lantai 11, cukup tinggi ya… kaget juga karena ternyata bukan sekamar ber-4 seperti yang ditulis di paket dan seperti di Azizia serta Mekah.. melainkan sekamar berdua!! Alhamdulillah wa syukurillah… kata agennya, bonus.. yah rejeki gak usah ditolak. Sudah gitu, luas sekali (lebih luas dari kamar apartemen kami di London, ups!).. ada ruang tamunya, 2 TV, kamar mandi di dalam (ada di luar juga common room), ada wadrobe beserta meja setrika, dan lapang bed nya.

IMG_1242

Rejeki! Dapat sekamar berdua, suites pula! Alhamdulillah.. 🙂 ❤

Intensitas keramaian di masjid Nabawi tidak seramai di masjidil Haram, meski tetap saja untuk wanita harus datang lebih awal karena tempat di dalam sangat terbatas. Bahkan saat jumatan, saya sudah datang lebih dari 1 jam sebelumnya sudah tidak dapat tempat di dalam, jadi di halaman deh. Sepertinya orang-orang semangat sudah datang dari jam 10.. kalau magrib juga sangat penuh sehingga prefer untuk stay sampai isya di dalam masjid.

Untuk ke Raudah, agak tricky bagi wanita karena hanya dibuka waktu tertentu (kurang tau pastinya). Dari pihak tur gak ada agenda atau menyebut Raudah, karena memang hanya bagi yang mau saja kan tidak wajib. Untuk kesana, saya pagi-pagi setelah breakfast mencari jalan katanya lewat masuk pintu 25 wanita jalan terus ke depan. Dari sana sudah ada kelompok2 sesuai bangsa (Arab/India/melayu). Tentu saya gabung ke rumpun Melayu, sendirian nyempil kadang ikut grup tur Indonesia sambil dengerin ceramah ustadzah nya, kadang ke grup tur Malaysia. Setelah menunggu hampir 2’jam akhirnya tiba giliran kami masuk ke Raudhah. Aku tiba-tiba bingung sendiri kok orang-orang seperti balapan lari.. ternyata di dalamnya sangat sibuk dan penuh sesak bahkan untuk berdiri pun susah karena didorong-dorong. Beberapa memberi celah untuk sholat sunnah 2 rakaat, yang sangat riskan terinjak-injak. Petugas pun harus bergelantungan dengan tali di tiang raudhah agar tidak terseret arus,”Ibu.. ibu.. jalan. Jalan..” begitu katanya,”sudah sholat keluar.”

IMG_1711

Raudah? Makam Nabi? Bukan… ini foto kami ambil di museum siroh nabi, hehe… latar belakangnya foto

Museum-museum di sekitar masjid Nabawi juga menarik untuk dikunjungi, ada museum al quran, museum Asmaul Husna, dan museum sirah nabawi. Sangat menambah pengetahuan dengan cara yang menarik.

Belanja di sekitar masjid nabawi juga lebih banyak pilihan terutama kurma. Jika ada waktu ke pasar kurma, bisa dari pintu 11/12 masjid nabawi dan berjalan sekitar 15 menit.

Tiba saat kami ziarah mengunjungi masjid Quba, sholat sunnah disana. Lalu ke tempat perang Uhud. Nah, tips nih… biasanya di tempat-tempat ziarah itu harga oleh-oleh seperti kurma dan kacang-kacang lebih murah dibandingkan di Sekitar masjid Nabawi, jadinya siap-siap aja belanja ya…

IMG_1357

Jabal Uhud

Kepulangan ke tanah air, eh salah, ke London pun akhirnya tiba. Kami naik Saudi Airlines dari airport Madinah. Hmm… delay-nya, bikin harus lebih bersabar lagi. Tapi yang bagusnya di airport Madinah setiap gate pesawat selalu ada toilet dan prayer room jadi gak usah jauh-jauh kalau mau sholat.

Sampai di London, kami pun berpisah dengan rombongan yang seluruh paspornya (ya kami aneh sendiri) British. Alhasil, kami harus antri selama 3.5 jam di jalur non-UK passport bersamaan dengan para mahasiswa baru, bertepatan sekali kedatangan kami dengan dimulainya kalender akademik.

DSC_0336

Madina tun Nabi… 🙂 tenangnya di masjid Nabawi

Akhirnya kami pun berkumpul lagi dengan keluarga setelah a long lovely Hajj journey.. London, I’m home! 😀

Advertisements